
Merasa terus diperhatikan oleh orang tuanya, Samuel segera meletakkan sendok juga garpu di atas meja.
"Ngapain liatin El?" tanya Samuel dengan nada sedikit ketus.
Sementara Fany dan Daren yang ditanya malah cekikikan sendiri seperti melihat hal yang lucu saja.
"Kan Mami benar Pi, El itu nggak lain-lain kok. Buktinya cemburu ada yang gangguin Ara," ucap Fany tanpa menjawab pertanyaan putranya lebih dulu.
"Hm, makanya papi nggak hukum dia semalam. Papi senang El suka sama cewek," balas Daren.
Hal itu membuat Samuel membulatkan matanya tidak percaya. Jadi selama ini orang tuanya menganggap dia tidak normal hanya karena tidak pernah jalan dengan perempuan lain?
"Kalian ngira El belok?" tanya Samuel.
"Iya Papi gira kamu belok kanan-kiri, makanya dijodohin sama Ara biar nggak macem-macem. Sekarang papi lega tahu kamu sukanya sama lawan jenis," cengir Daren tanpa dosa.
Sontak saja Samuel berdiri dari duduknya, mengambil tas di kursi. "El nggak habis pikir," gumannya dan melenggang pergi begitu saja tanpa pamit lebih dulu.
Bisa-bisanya pagi yang dia harapkan akan cerah malah suram karena pikiran kedua orang tuanya yang konyol. Jelas saja Samuel menyukai perempuan, ya kali menyukai Rayhan.
Laki-laki wajah dingin itu melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata menuju rumah Ara untuk berangkat sekolah bersama.
Sudah Samuel katakan dia akan mengikuti saran Azka dan Keenan. Menurunkan Ego dan gengsi, juga mendekat untuk menjaga tunangannya agar tidak disakiti oleh siapapun.
__ADS_1
Ternyata benar, orang lama akan selalu menjadi pemenangnya mau bagaimanapun kita menekan perasaan itu hingga kedasar hati paling dalam.
Berhasil melupakan dan menanam kebencian begitu besar tidak menjamin akan menghilangkan cinta di dalam hati. Seperti yang Samuel rasakan kali ini.
Membenci Ara sebisa yang dia mampu dan mencoba mencintai gadis lain setelah gadis imut itu dibawa pergi oleh orang tuanya. Nyatanya, dia kembali lagi tapi dengan versi yang berbeda.
Jika dulu Samuel menyukai Ara dengan cara membenci semua yang ada dalam diri gadis imut tersebut, maka kali ini dia berusaha menerima setiap kekurangan yang ada pada diri Ara.
Azka saja yang mengetahui penyakit mematikan Salsa masih berjuang, kenapa dia tidak? Padahal hanya tingkah Ara yang tidak dia sukai.
Tidak terasa akhirnya Samuel sampai di depan rumah gadis imut tersebut dan tidak mendapati siapapun duduk di teras rumah.
"Edgar?" Pikiran Samuel langsung tertuju pada adik kelasnya itu. Jika sampai terjadi lagi, maka Samuel benar-benar akan menghajar Edgar kali ini.
Samuel mengurungkan niatnya untuk pergi ketika mendengar sapaan bi Rini. Dia segera melepas helmnya.
"Ara udah pergi?" tanyanya.
"Belum Den, Neng Ara ada di kamarnya lagi mangis. Perutnya sakit," jawab Bi Rini.
"Ck, bilang kek dari tadi."
Samuel langsung turun dari motornya dan memasuki rumah Ara. Dia tidak peduli akan telat atau tidak, intinya dia harus memastikan tunangannya masih hidup atau sudah mati.
__ADS_1
"Abang, Ara sakit keras! Huuuuaaaa ...." tangisan Ara semakin menjadi ketika Samuel sampai di kamar.
"Lo kenapa?"
"Perut Ara sakit terus keluar darah," jawab gadis imut itu sesegukan seraya memeluk Elara sekaligus menjadikannya pelap ingus.
"Maksud lo apa sih?" bingung Samel, namun tetap menghampiri Ara yang duduk di tengah-tengah ranjang dengan selimut menutupi setengah tubuhnya "Sakit banget?" tanyanya lagi.
"Udah nggak, tapi tadi perut Ara sakit banget terus ada darah keluar."
"Darah? Mulut lo?"
Ara mengelengkan kepalanya, gadis itu menuduk dan menunjuk bagian bawahnya setelah menyingkap selimut. "Tuhkan berdarah lagi, huaaaaa ... Ara nggak mau mati dulu, Ara belum nikah!" teriak Ara.
"Anjir!" umpat Samuel langsung menjauhi Ara yang berada di atas ranjang. "Dasar bego!" kesal Samuel langsung keluar dari kamar.
Pagi-pagi matanya sudah dinodai olej tunangannya sendiri. Jantung yang semula baik-baik saja kembali berdetak tidak karuan. Jika kemarin sedang jatuh cinta, maka kali ini merasa malu.
Bagaimana tidak, Ara tadi menunjuk bagian bawahnya yang hanya terbalut kain tipis. Sungguh konyol.
Dengan jantung masih berpacu sangat hebat, Samuel langsung menghubungi maminya. Untung saja panggilannya cepat dijawab oleh wanita paruh baya tersebut.
"Mami buruan kerumah Ara!"
__ADS_1