
Langkah Samuel memasuki mansion memelan ketika melihat keluarga besar orang tuanya berkumpul. Hatinya menjadi semakin tidak tenang, takut terjadi sesuatu pada Oma Jelita.
"Nak," panggil Fany.
Samuel menoleh dan menatap maminya dengan sorot mata sendu.
"Oma nggak papa. Tadi sempat kritis setelah terbagun, tapi sekarang udah baik-baik aja," ucap Fany membuat Samuel bernafas lega.
Dia melangkahkan kakinya menuju kamar dimana berbagai alat-alat rumah sakit ada di dalamnya. Dia berdiri di ambang pintu melihat mama Rayhan yang seorang dokter tengah mengobrol dengan Oma Jelita.
Melihat keadaannya baik-baik saja, Samuel langsung menuju kamarnya tanpa menyapa siapapun.
Berbeda dengan Rayhan dan inti Avegas lainnya yang masuk keruangan untuk melihat kondisi Oma Jelita dari dekat.
"Oma mah buat Ray jantungan aja tau nggak." Rayhan memanyungkan bibirnya setelah duduk di samping brangkar.
"Ray!" tegur Jesy Mamanya.
"Bu dokter, tolong ya jangan sok kenal," canda Rayhan membuat orang yang berada di dalam kamar itu terumata Oma Jelita tertawa.
"Anak siapa kamu?"
Rayhan menoleh ke sumber suara dan meringis ketika tahu yang bertanya adalah papanya.
"Udah Papa, pecat aja jadi anak tuh," celetuk Alana.
***
Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata. Dia akan berkunjung jika tidak ada orang saja. Samuel tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun kecuali omanya sendiri.
__ADS_1
"El?"
Samuel melirik ke pintu kamar dan mendapati maminya bersama seorang gadis berdiri di sana.
"Dibawah udah nggak ada orang, tante sama om kamu udah pergi," lanjut Fany dengan senyuman. Wanita paruh itu sangat mengerti tentang putranya.
"Nanti," sahut Samuel.
"Ayo Abang kita ketemu Oma. Ara juga baru datang dijemput sama Papi tadi," ajak Ara menghampiri Samuel yang masih berbaring di atas ranjang.
"Gue udah bilang jangan keluar rumah ...."
"Kan sama Papi Abang, jadi nggak papa. Lagian Ara khawatir tadi sama Oma."
Samuel mengambil nafas dalam-dalam, kemudian berdiri dan menarik tangan Ara keluar dari kamar menuju kamar Oma Jelita.
Jarum jam sudah menunjukkan angka 11, tapi Wanita tua itu belum tidur sebab baru terbangun dari tidur panjangnya.
"Oma, Ara kangen sama Oma. Maafin Ara baru bisa jenguk sekarang," ucap gadis imut itu memanyungkan bibirnya.
"Nggak papa Nak," sahut Oma Jelita dengan suara lirihnya.
"Oma tau? Ara sama Abang udah baikan. Abang nggak pernah lagi marah-marah sama Ara."
"Baguslah Nak, artinya doa oma dikabulkan sama Allah. Semoga hubungan kalian baik-baik saja sampai tua kelak."
"Aamiin," batin Samuel.
Setelah melihat Ara dan Om Jelita sudah cukup untuk berbasa-basi, alkhirnya Samuel bersuara.
__ADS_1
"Ra, dipanggil sama Mami," ucapnya.
"Ara?"
"Hm."
"Oma, Ara ke depan bentar ya." Pamit gadis imut itu, membuat Samuel langsung menutup pintu dan duduk di samping tempat tidur.
Dia langsung memeluk Omanya dengan air mata mengalir begitu saja.
"Kenapa Oma sering banget buat El nangis?" lirih Samuel. "Jangan drop lagi, atau El nggak mau nemuin Oma."
"Bukannya El yang cengeng ya?"
"Oma?" Samuel mengerucutkan bibirnya, membuat Oma Jelita sedikit tertawa.
"Om udah terlalu tua. Cicit-cicit Oma udah besar semua bahkan ada yang udah nikah. Kalaupun besok atau lusa Oma pergi, udah nggak ada penyesalan lagi karena udah liat kalian bahagia."
Samuel mengelengkan kepalanya. "Om nggak boleh pergi apapun yang terjadi. Oma harus liat El sukses dulu."
"Kata Ray dan Alana kamu itu dingin dan cuek. Sangar sama orang, kok manja sama Oma sih?"
Samuel tidak menyahut, dia fokus memeluk tubuh yang sudah sangat kurus tersebut. Dia belum siap jika harus dipisahkan oleh omanya untuk saat ini.
Orang yang bisa membuatnya jadi diri sendiri hanya Oma Jelita, tidak untuk orang lain.
"Ara baik hati dan ceria, dia anak kepercayaan papi kamu. Om yakin dia gadis yang akan menggantikan posisi Oma."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.