
"Bunda!" pekik Ara ketika lampu rumahnya tiba-tiba padam hingga gelap gulita.
Gadis imut tersebut meraba tembok kamarnya agar bisa sampai di tempat tidur tanpa menabrak apapun. Kebetulan saat mati lampu, Ara berada di kamar mandi.
Dia bernafas lega ketika lampu kembali menyala, saat akan berbalik dia seperti melihat bayangan seseorang duduk di meja belajarnya.
"Ad-ada orang?" tanya Ara tidak berani membalikkan tubuhnya.
"Selamat malam cantik."
Ara menelan savinya kasar mendengar sapaan tersebut. Dari suaranya saja Ara tahu siapa orang yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin.
Dengan nafas memburu karena ketakutan, Ara berjalan cepat untuk meraih ponselnya. Namun, pergerakanya cukup lambat hingga ponsel itu kini berada di tangan Sagara.
Ya, seseorang yang berani masuk ke kamarnya adalah Sagara, abang dari mantan Samuel.
Ara langsung merosotkan tubuhnya ke lantai marmer, tidak sanggup rasanya dia membalas tatapan Sagara yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Ma-maafin Ara karena nggak nepatin janji. Ara nggak bisa jauh-jauh dari Abang," lirih gadis imut tersebut meremas baju tidurnya sendiri.
Dia semakin menunduk ketika kaki Sagara semakin mendekatinya. "Ara mohon jangan lukain Ara kak," ucapnya dengan suara bergetar.
"Gue nggak suka orang ingkar janji," ucap Sagara dengan suara beratnya.
__ADS_1
Laki-laki itu jongkok tepat di hadapan Ara. Menarik dagu gadis imut tersebut dengan jari telunjuknya.
"Jauhi Samuel, atau dia dalam bahaya!" ancam Sagara tidak main-main. "Kayaknya lo nggak peduli sama nyawa lo sendiri, gimana kalau nyawa Samuel?" tanya Sagara dan dijawab gelengan oleh Ara.
"Ar-ara mohon jangan lukai Abang, Ara janji bakal jauhi dia," lirih Ara.
"Tatap gue!" bentak Sagara.
Tubuh Ara semakin bergetar hebat, dengan ragu dia mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan Sagara.
"Ar-ara janji bakal jauhin Abang, jangan sakiti Abang!" ulang Ara.
"Bagus!" Sagara melepaskan cengkaramannya cukup kasar, hingga kepala Ara tertoleh ke samping.
Sagara mengeluarkan belati di saku jaketnya lalu mengarahkan ke leher Ara.
Bahkan untuk menelan ludah sendiri, dia seperti kesulitan.
"Mau jadi pacar gue?" tawar Sagara dengan seringah liciknya.
Awalnya Ara ingin mengelengkan kepalanya, namun belati itu malah semakin dekat, bahkan sudah menyentuh lehernya.
Akhirnya gadis imut itu menganggukkan kepala. "Ara pacar kak Sagara."
__ADS_1
"Cium dong!"
Dengan ragu, Ara memajukan tubuhnya untuk mengecup pipi Sagara sekilas dan tidak lupa laki-laki itu mengambil gambar.
***
Ara duduk termenung di meja makan seorang diri. Tangan gadis imut itu masih bergetar karena ketakutan Sagara akan menemuinya lagi suatu hari nanti.
"Ara nggak boleh dekat-dekat sama Abang. Kalau Ara nggak dekat-dekat sama Abang, kak Sagara nggak bakal datang kerumah," gumam Ara meyakinkan dirinya agar tidak takutan.
Namun, itu semua terasa sulit, sebab bayangan Sagara semalam kembali mambayangi ingatannya. Gadis imut itu mengambil tisu dan melap bibirnya berulang kali. Rasanya dia tidak terima jika harus mengingat bahwa semalam dia telah mencium Sagara suka rela.
"Neng Ara nangis?" tanya bi Rini.
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara nggak nangis. Air matanya keluar sendiri," jawab Ara mengusap air matanya perlahan. "Bibi jangan pulang lagi ya? Bibi tinggal sama Ara. Ara nggak papa kok kalau anak sama suami bibi ikut tinggal di sini," pinta Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Neng sakit?"
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara pengen dipeluk," lirihnya.
Bi Rini yang melihat anak majikannya bersedih, langsung saja memeluk tubuh mungil Ara dan mengusap rambut gadis imut itu.
"Neng Ara nggak usah nangis, ada bibi. Bibi bakal tinggal di sini sama Neng Ara. Bibi nggak bakal pulang kerumah sebelum neng Ara yang minta," ucap bi Rini.
__ADS_1
Ara menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan bi Rini cukup erat. Pelukan itu baru terlerai ketika suara motor berhenti terdengar di telinga Ara.
Langsung saja gadis imut tersebut menghapus air matanya dan menemui tamu yang datang pagi-pagi.