
Ujian semester pun tiba, Lang yang dulu memiliki tujuan untuk mengalahkan kakaknya dalam duel, berubah menjadi mendapatkan nilai tertinggi di sekolah untuk membuat Ibunya senang.
Lang yang dulunya bertarung dengan tinju, sekarang dia bertarung menggunakan pulpen.
Setelah menjalani ujian semester selama 7 hari, hari penilaianpun tiba. Lang dengan semangatnya mencari namanya dari belakang. Lang berhasil dengan tujuannya, dia pun mendapatkan nilai paling tinggi di SMP 5. Dia sangat senang atas tujuan yang dicapainya dan bergegas kerumah tantenya.
Setelah itu....
"Tante, aku mendapatkan nila....."
"Lang, Lang, Lang," Tante Lang menangis sambil memeluk Lang.
"Tante... kenapa? Ada apa? Aku dapat kabar gembira, kok tante malah sedih?" Lang bertanya-tanya.
"Ibumu... Ibumu..."
"Kenapa dengan Ibu? Oh iya, ayo kita temui Ibu. Aku dapat kabar gembira ni." Kata Lang yang tiba-tiba ikut sedih.
"Ayo tante, aku gak sabar melihat muka Ibu yang gembira dan bangga atas pencapaianku kali ini." Kata Lang yang mulai mengeluarkan air mata.
Tante Lang masih menangis dipelukan Lang dengan sangat keras. Lalu, calon suami tante datang membawa mobil. Dia menyuruh Lang dan tantenya masuk kedalam mobil. Pria itu memasang muka sedih yang seolah-olah dia turut berduka cita. Lang menguatkan pikirannya
"Ibu baik-baik saja, Ibu baik-baik saja. Setelah kulihatkan hasil ujianku dia pasti memelukku dengan bangga. Aku yakin itu."
Tante Lang masih menangis dan pria itu menenangkan tantenya. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya.
__ADS_1
"Mengapa... Mengapa pikiranku malah ke hal yang buruk. Tidak mungkin... Ibu pasti baik-baik saja... Aku sangat yakin... Aku sangat yakin itu." Pikir Lang.
Sesampainya dirumah, Lang melihat kerumunan yang memakai baju hitam. Lang sangat terkejut.
"Siapa yang meninggal? Ibu didalam pasti lagi sedih... Apa gak apa-apa jika aku serahkan hasil ujianku kepadanya?" Pikir Lang
Lang dan Tantenya memasuki rumah, Lang melihat tatanan bunga yang banyak. Setelah itu...
"Tidak mungkin... Tidak mungkin... Kenapa... Kenapa... Aku bahkan belum memenuhi janjiku padanya..." Lang terdiam melihat poto Ibunya di tengah-tengah tatanan bunga itu.
"Ayah... Mana Ibu? Kakak... Mana Ibu? Tante... Mana Ibu?" Lang menangis.
"JAWAB AKU... KENAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA... KEMANA IBUKU... KEMANA... JAWAB AKU DASAR BRENGSEK... MANA IBUKU...." Lang menangis sambil berteriak.
"MENGAPA... MENGAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA... MANA IBUKU...." Teriak Lang
"Sudah Lang... Cukup. Jika kamu berteriak disini, Ibumu tidak akan tenang. Kamu ingin melihatnya senangkan? Jadi tenanglah dan terima apa yang diberi tuhan." Kata pria itu.
"Kenapa... Kenapa harus aku... Kenapa harus aku yang tidak ada di sampingnya... Kenapa bukan wajahku yang terakhir kali dipandangnya... Kenapa aku tidak melihat wajahnya diakhir hayatnya... kenapa..." Lang menangis.
"AKU KEHILANGAN CINTAKU LAGI.... AKU KEHILANGAN ORANG YANG MENCINTAIKU... APAKAH AKU ORANG YANG TIDAK LAYAK MENDAPATKAN CINTA?"
Lang pun berlari keluar,
"Haahhh, untung hujannya lebat... Aku menangis sangat deras. Terima kasih hujan, kau telah menutupi tangisanku... Aku tidak ingin Ibu mendengar tangisanku... Aku harus tetap tegar."
__ADS_1
Lang terus berlari dibawah lebatnya hujan. Dia berlari tanpa henti dan sampai ke makam ibunya.
"Ibu... Aku udah menapati janjiku loo... Ibu senang gak? Ibu bangga gak? Tapi maaf ya bu... Pada hari pertama aku sedikit nakal. Aku meninju seorang murid. Tapi... Tapi tenang saja, aku gak ngerepotin tante kok. Aku mengatasinya dengan usahaku sendiri. sebagai gantinya aku mengubah permintaan ibu. Ibu menyuruhku untuk dapat Ranking kan? Aku udah dapat lo bu... Malahan lebih besar dari Ranking 1 sekelas. LANG ANAKMU TERCINTA INI TELAH MENDAPATKAN RANKING 1 SEKOLAH..." Kata Lang dengan sangat terpukul dan memeluk makam ibunya.
"Bu... Aku ingin pelukanmu... Aku ingin pelukan terakhirmu... Aku ingin melihat wajahmu... Aku sangat merindukanmu." Kata Lang sambil memeluk makam Ibunya.
"Haahhh, seseorang melihatku yaa."
Seseorang datang menghampiri Lang.
"Haahhh, ternyata si saksi mendatangiku."
"Tenang. Aku akan selalu memerhatikanmu dari belakang. Aku akan menepati janjiku kepada Ibumu. Jadi kau tenang saja." Kata murid yang menjadi saksi itu.
"Tunggu... aku... perlu menanyakan satu hal... kepada..."
Lang pingsan di bawah hujan yang lebat sambil memeluk makam Ibunya.
Dibalik bunga mawar yang INDAH
Ada DURI yang menyelimuti batangnya
Dibalik kesuksesan yang MEGAH
Ada KESAKITAN yang selalu menghampirinya
__ADS_1
#RRSyahputra