
Samuel menyugar rambutnya lebih dulu sebelum turun dari motor dan melangkahkan kaki mamasuki rumah gadis yang dia cintai.
Sebelum berkunjung kerumah Ara, dia lebih dulu mempir ke mansion untuk mengganti baju sekalian meminta maaf pada maminya karena terlalu egois dan berani membuat wanita yang dia sayangi menangis.
Samuel tersenyum tipis ketika berpapasang dengan Deon yang hendak keluar rumah.
"Nah ini akhirnya datang," sambut Deon menepuk pundak Samuel penuh kehangatan. "Ara sejak tadi nanyain kamu, langsung ke kamar aja tapi jangan ditutup!" titah Deon
"Iya om."
Langsung saja Samuel melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga untuk menemui sang kekasih. Jarum jam baru menunjukkan angka 19. 49, masih ada waktu beberapa menit sebelum berangkat.
"Abang!" Tepat saat dia membuka pintu, Ara langsung menubruk tubuhnya cukup kuat. Menenggelamkan kepala di dada bidangnya.
"Ara tadi khawatir Abang balap-balapan makanya nyuruh pulang. Ara juga takut Abang nyesal karena udah buat mami nangis," lirih Ara dalam pelukan Samuel.
"Gue nggak papa," jawab Samuel mengusap punggung Ara lembut. Dia melerai pelukan tersebut dan menatap wajah cantik Ara cukup dalam.
"Ganti baju gih!"
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara udah siap Abang."
"Pakai itu?" Mata Samuel memicing melihat penampilan Ara yang lumayan terbuka.
Hanya memakai hodie kebesaran yang dia berikan sebagai hadiah keluar dari rumah sakit. Mungkinkah tidak ada celana di dalamnya?
Demi apapun, Samuel tidak akan sudi ada yang menikmati paha mulus yang sering kali menjadi bantalnya.
"Ganti!"
"Nggak mau, Ara pakai celana kok." Menyingkap hodie tersebut hingga memperlihatkan celana jeans yang sangat pendek.
__ADS_1
"Ra!"
"Ya udah Ara nggak mau pergi," lirih Ara memilih duduk di sofa. Apa salahnya jika dia memakai hodie pemberian Samuel? Dia hanya ingin memerkan pada Rayhan bahwa hodienya baru.
"Ya udah!" Samuel berbalik dan meninggalkan kamar gadis imut itu. Memilih duduk di teras rumah berharap Ara akan menemuinya dengan pakaian lain.
Namun, apa yang dia lakukan sepertinya sia-sia karena Ara tak kunjung muncul padahal sudah lewat dari jam delapan malam.
"Loh, bunda kira kalian udah pergi." Kaget Kirana.
"Belum tante, El lagi nunggu Ara," jawab Samuel.
Kirana mengelengkan kepalanya tidak percaya. "Tunggu bentar, biar bunda panggilin," ucap Kirana dan di jawab anggukan oleh Samuel.
Laki-laki wajah dingin itu memainkan benda pipihnya seraya menunggu kedatangan sang kekasih. Matanya memicing melihat sepatu berwarna putih dengan kaki mulus di hadapannya.
Samuel mulai mendongak dan mendapati Ara masih dengan pakaian yang sama.
"Ayo!" ajak Ara.
"Iya tante," sahut Samuel dan berlalu begitu saja tanpa ingin menegur Ara lagi. Malam ini dia benar-benar dibuat kesal oleh kekasihnya.
Andai saja tidak ada orang tua Ara, Samuel sudah memaksa gadis imut itu ganti baju.
"Jangan naik dulu!" tegur Samuel sibuk melepas jaket di tubuhnya kemudian memberikan pada Ara.
"Ini buat apa Bang?"
"Terserah lo."
"Oh terserah Ara," gumam Ara. Gadis imut itu meletakkan jaket Samuel kemudian memasang helmnya sendiri. Barulah setelahnya mengambil jaket tersebut dan naik ke motor kekasihnya.
__ADS_1
"Abang tenang aja, jaketnya Ara pegangin yang erat," ucap Ara memeluk tubuh Samuel yang bergetar hebat karena sangat kesal dengan tingkah Ara.
Laki-laki wajah tampan itu melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata tanpa mempedulikan nyawa seorang gadis yang tengah ketakutan bukan main.
Laju motor baru memelan setelah memasuki pekarangan rumah sederhana berlantai dua. Rumah yang diberikan pada Salsa sebagai maswakin dari Azka.
"Turun!"
Ara langsung turun dari motor dan menyerahkan jaket pada Samuel, tapi laki-laki wajah dingin itu tidak melihatnya sama sekali. Samuel terus berjalan tanpa mengenggam tangan Ara.
"Abang, Ara nggak bisa lepasin helmnya!" teriak Ara berusaha mengimbangi langkah lebar Samuel tapi rasanya sangat sulit.
Gadis imut itu menghentikan langkahnya saat helm yang dia kenakan diketuk oleh seseorang.
"Ngapain lo pakai helm sampai didalam rumah, Cil?" tanya Rayhan mengulum senyum.
"Ara nggak tau lepasin pengaitnya kak Ray, tapi Abang udah pergi." Ara mendongak menatap Rayhan.
"Ck, benar-benar tuh gunung Es," decak Rayhan membantu Ara melepaskan helm.
"Makasih kak Ray. Oh iya, liat Ara pakai hodie siapa?" Ara memutar tubuhnya penuh kegirangan dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Dari El?"
Ara mengangguk cepat. "Kak Ray benar. Tadi Abang beliin Ara hodie cantik banget makanya Ara pakai malam ini."
"Lucu banget sih adek gue." Tanpa mengatakan apapun, Rayhan mengapit leher Ara tidak terlalu erat dan membawanya ke halaman belakang berkumpul dengan yang lain.
Tanpa seseorang sadari ada gadis yang tersenyum senang melihat kedekatan Rayhan dan Ara.
"Lo baik, tapi gue takut buka hati buat lo," gumam Giani melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk menemui Salsa.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar.