
Sagara mengepalkan tangannya kuat-kuat setelah membaca sederet kalimat yang terdapat di buku diari Sasa. Kini dendam dan rasa benci Sagara pada Samuel semakin menggunung dan benar-benar akan membuktikan semua ancamannya.
Sagara memejamkan mata ketika deretan kalimat yang dituliskan Sasa kembali terlintas di otaknya.
Mas pacar, aku hamil .... Aku tahu kamu nggak mungkin mau bertanggung jawab, karena ini kebodohan aku sendiri. Daripada aku harus liat kamu pergi dan benci aku, lebih baik aku yang pergi.
Mas Pacar kayaknya udah tahu aku hamil, makanya sampai sekarang nggak datang-datang, ya udah deh aku pergi aja.
"Sialan lo El! Bisa-bisanya lo nodain adek gue dan nggak mau tanggung jawab!" geram Sagara yang salah mengartikan arti dari kalimat Sasa.
Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar. Kali ini dia akan melakukan apa yang dia ingingkan karena hanya hidup sebangkara, tidak ada yang akan bersedih jika dia terluka atau tidak pulang kerumah.
***
Bugh
Satu pukulan mendarat di wajah tampan Samuel. Pukulan keras tersebut mampu membuat laki-laki wajah dingin itu terjatuh ke lantai marmer.
Azka menatap tajam Samuel yang kini terlihat jauh berbeda. Kini keduanya berada di ruang pribadi markas.
"Puas lo buat perempuan menangis di depan umum, hm?" Azka jongkok dan menarik kerah kemeja Samuel yang terlihat sangat lusuh juga bercak darah di beberapa bagian.
__ADS_1
Samuel menepis tangan Azka kasar ketika merasakan sesak di dadanya.
"Bukan urusan lo!" selak Samuel terbatuk.
"Ah ya gue lupa kalau ini urusan percintaan lo." Azka tertawa garing.
Samuel memperhatikan sahabatnya itu yang berjalan ke sebuah kursi dan duduk seraya bertopang kaki.
"Ternyata benar kata Rayhan, cinta bisa mengubah segalanya. Sejak lo pacaran sama Sasa, gue seperti kehilangan perisai Avegas." Azka menjeda sejenak.
"Samuel yang selalu bisa menghargai seorang perempuan dan bijak mengambil keputusan jadi gila karena cinta."
Samuel mengernyit, dia menatap Azka dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Cukup El, jangan sampai lo nyesal setelah Ara pergi. Gue tau lo suka sama Ara, tapi gengsi dan obsesi lo sama Sasa yang nutupin semuanya!"
"Tadi lo marah bukan karena bela Sasa, tapi liat Ara datang sama Edgar sampai pegangan tangan ...."
"Gue nggak suka sama Ara!" tegas Samuel bangkit dari duduknya meski susah payah karena tubuhnya telah remuk.
Azka menghembuskan nafas panjang melihat tingkah sahabatnya itu. Ternyata Samuel lebih keras dari dirinya.
__ADS_1
"Oke nggak usah bicarain Ara, kita bahas hal lain aja!" putus Azka.
Laki-laki tampan itu berdiri di depan layar yang sering kali dia pakai untuk menyelidiki kasus apa saja yang akan mereka tangani nantinya.
"Ky, masuk!" perintah Azka.
Samuel melirik pintu ketika salah satu sahabatnya masuk dan mendekati Azka. Kini dia seperti orang bodoh dan pokirannya di penuhi oleh kalimat Azka tentang dia menyukai Ara.
Tatapan Samuel tertuju pada layar di mana foto-foto Sasa bersama teman-temannya.
"Sorry, gue harus bongkar kebusukan pacar lo itu hari ini, padahal lo masih berduka," ucap Ricky.
"Gue sama Rayhan ikut party sama anak-anak Aleksander di villa dan kaget liat pacar lo di sana. Dipikiran gue sama Rayhan pas liat dia .... Hah? Sasa ada di Villa ini El tau?"
Ricky tertawa mengejek pada Samuel. "Asal lo tahu dia bunuh diri kemarin karena hamil El. Pas di Villa entah suka sama suka atau nggak, tapi dia lepasin virginnya. Dia nggak sebaik yang lo duga!"
"Bohong!"
"It's okey kalau lo nggak mau percaya. Gue cuma nggak mau lo terlalu larut sama masalah Sasa yang jelas-jelas khinatin lo dan malah nyia-nyiain gadis sebaik Ara."
"Kita semua tahu kok lo suka sama Ara sejak dulu, tapi lo berusaha nekan itu karena sikap Ara yang ke kanak-kanakan," timpal Dito ikut masuk keruang pribadi markas.
__ADS_1