
Menikah dengan Samuel tidak pernah ada dalam bayangan Ara sebelumnya, terlebih saat kabar tentang pria itu menikah menyebar. Putus asa dan berusaha mengikhlaskan adalah pilihan Ara saat itu, sehingga mengiyakan ketika orang tuanya mengatakan ada seorang pria yang datang melamarnya.
Seperti membeli kucing di dalam karung, Ara memutuskan menikah tanpa berkeinginan melihat siapa calon suaminya.
Ternyata takdir dan jodoh tidak akan salah memilih tempatnya untuk berlabuh. Terpisah selama bertahun-tahun, dipertemukan dengan perasaan penuh keraguan dan berakhir menikah, sungguh semuanya diluar dugaan seorang Ara.
Gadis cantik dan terlihat anggun itu berjalan perlahan kembali ke kamar hotel tempatnya bermalam dengan Samuel setelah menyerahkan Asa pada bundanya. Dengan ragu, dia membuka pintu. Menelan salivanya kasar melihat Samuel tengah berdiri di balkon kamar sambil bersedekap dada.
"Mau sarapan apa?" tanya Ara dengan jarak kurang lebih 10 meter dari suaminya.
Samuel lantas berbalik dengan senyuman tipis di wajah, berjalan semakin dekat di mana membuat Ara gugup dibuatnya.
"Aku sudah memesan makanan, sebentar lagi tiba. Ah ya, dimana Asa?"
"Su-sudah pulang sama Bunda." Menelan salivanya susah payah, terus mundur hingga kakinya membentur sofa. Gadis itu jatuh terduduk membuat Samuel semakin menyeringai licik.
Jangan mengira otak Samuel sangat suci di usianya yang sudah 30 tahun, terlebih semua sahabat-sahabatnya telah menikah. Mungkin jika Ara tidak pergi, maka menikah muda sudah menjadi keputusannya. Namun, semesta mempermainkan hati dan kehidupannya cukup lama hingga akhirnya di persatukan lagi dalam ikatan suci.
__ADS_1
"Kenapa gugup? Bukannya kamu suka kalau aku agresif seperti ini?"
"Mundur!" perintah Ara menolehkan wajahnya ke samping, tidak ingin menatap wajah tampan Samuel.
"Aku merindukan Araku yang dulu. Manja dan nggak pemalu seperti ini." Semakin menunduk sehingga bibirnya hampir menyentuh cuping telinga Ara.
"Aramu yang dulu sudah mati dan ...."
"Araku nggak hilang, dia ada tapi berusaha bersembunyi dariku," potong Samuel.
Ara lantas menoleh dan membalas tatapan Samuel yang sangat sulit di artikan. Tatapan keduanya beradu dan terkunci satu sama lain. Derus nafas yang semakin memburu menjadi alunan musik untuk keduanya.
"Kembalikan Araku, aku janji nggak bakal nyakitin dia meski aku tahu rasa cintanya sangat besar. Aku akan membalas cintanya jauh lebih besar lagi agar ...."
"Abang." Mata yang tadinya menyorot tanpa rasa takut kini mulai berembun dengan bibir bergetar. Yang semula menghindar malah memeluk tubuh Samuel sangat erat.
"Ara kangen sama Abang," lirinya.
__ADS_1
Senyuman Samuel mengembang, pria itu membalas pelukan istrinya tidak kalah erat. Akhirnya Aranya kembali. Aranya kini menjadi miliknya.
"Aku juga kangen Ra. 14 tahun bukan hal yang mudah buat nunggu kamu dan terus terbelenggu akan rasa bersalah. Maaf karena membuatmu menderita selama bersamaku. Hari ini, esok dan selamanya, aku janji bakal jadi suami yang baik buat kamu."
"Jangan kecewakan aku lagi. Aku selalu mennerima Abang, tapi satu yang membuat hatiku sakit."
"Apa?" Melerai pelukan, menangkup kedua pipi istrinya dengan mata yang berembun pula.
"Saat tau Abang lebih milih datang ke makam Sasa, terus buat aku nunggu sampai hujan-hujanan. Awalnya aku mau nunggu Abang lebih lama lagi, tapi aku nggak kuat. Ak-aku ...."
"Aku mengerti, mari membina rumah tangga tanpa menoleh ke belakang," bisik Samuel kembali mendekap tubuh istri kecilnya.
Ara mengangguk samar, perasaanya menjadi hangat setelah memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.
Ara masilah Ara yang dulu. Gadis manis dan sangat penurut. Hanya satu yang berbeda, otaknya sudah tidak lemot lagi jika memikirkan sesuatu.
"Makanannya udah datang." Ara melerai lebih dulu pelukannya ketika mendengar suara bel pintu berbunyi.
__ADS_1
Samuel mende*sah pasrah, membiarkan Ara mengambil makanan yang dia pesan. Duduk di sofa sambil memejamkan mata.
Sebenarnya Samuel tidak tahu kalau Ara masih Aranya yang dulu. Pria itu berpikir gadisnya telah berubah. Namun, bunda Kirana menelpon dan menceritakan semuanya tetang Ara.