
"Aku ingin bertemu malam ini di tempat biasa," ucap Deon pada seseorang di seberang telpon.
Setelah mendapat jawaban, pria itu segera menemui istrinya di kamar Ara.
"Aku pergi dulu," izin Deon mengecup kening Kirana yang tengah memeluk Ara.
"Sayang, ayah pergi dulu ya," pamit Deon pada Ara, tapi gadis itu bergeming di dalam dekapan Kirana, sepertinya masih marah.
Deon menghela nafas panjang dan segera meninggalkan dua perempuan kesayanganya.
Deon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat dia janjian dengan seseorang. Pria itu menitipisnya bibirnya ketika melihat sahabat sekaligus mantan bosnya dulu sedang duduk sendirian dengan ponsel di tanganya.
"Terlalu cepat," ucap Deon duduk di hadapan Daren.
"Kebetulan di jalan tadi. Kenapa mau bertemu secara tiba-tiba?" tanya Daren. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja.
"Karena buru-buru aku langsung inti saja ...." Deon menjeda kalimatnya sejenak. "Kita batalkan pertunangan anak-anak," lanjut Deon.
Daren terganga mendengar penuturan sahabatnya. "Apa yang kamu katakan Deon? Kamu biasanya nggak mengambil keputusan seperti ini secara tiba-tiba. Anak-anak kita saling mencintai dan ...."
"Mencintai dan terpaksa membalas cinta," ralat Deon. "Mungkin anak-anak kita memang nggak bisa ditakdirkan bersama, aku harap hubungan mereka cukup sampai di sini saja. Aku akan mengembalikan cincin pertunangan yang telah ...."
"Apa yang telah dilakukan Samuel sampai kamu semarah ini, Deon?" tanya Daren. Sungguh pria itu sangat kecewa dengan keputusan yang diambil Deon.
Melihat Samuel selalu tersenyum karena kehadiran Ara membuat Daren ikut bahagia. Tapi sekarang mereka akan dipisahkan?
__ADS_1
"Alasannya cukup menyakitkan Daren, aku akan mengirimkannya nanti. Aku menemuimu karena menghargai kamu sebagai sahabat. Jika tidak, mungkin aku memutuskan secara sepihak tanpa bicara denganmu."
Daren menghela nafas panjang, pria itu bangkit dari duduknya tanpa menyentuh pesanan yang baru saja datang.
"Sebenarnya aku sangat kecewa dengan keputusanmu Deon, kita bisa membicarakannya baik-baik. Tapi ini juga hakmu sebagai ayah Ara. Aku yakin kamu tidak pernah mengambil keputusan yang salah." Daren tersenyum. Senyum yang tidak tulus karena harus gagal menyatukan anak-anak mereka.
"Maaf Daren."
"Nggak masalah," sahut Daren dan benar-benar pegi dari sana.
Pria itu melajukan mobilnya menuju mansion dengan perasaan berkecamuk. Bagaimana dia akan menjelaskan semua ini pada putranya nanti? Bukankah itu akan menyakiti hati Samuel? Terlebih sekarang putranya tengah menjalani ujian akhir.
***
"Kenapa Ara tiba-tiba matiin telpon gitu aja?" gumam Samuel. Laki-laki dingin itu masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"Hitam? Apa om Deon tahu kalau aku pasang sesuatu di kamar Ara?" gumam Samuel.
Laki-laki itu langsung turun dari ranjang, menyambar jaket juga kunci motornya di atas meja. Berlari dengan langkah lebarnya menuju garasi. Tujuannya tentu saja rumah Ara untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Mau kemana kamu?"
Langkah Samuel terhenti karena pertanyaan papinya. Dia berbalik untuk menatap sang papi.
"Rumah Ara, Pi."
__ADS_1
"Masuk!" tegas Daren.
"Hanya sebentar, El cuma mau mastiin sesuatu."
"Papi bilang masuk ya masuk Samuel!" bentak Daren menarik tangan Samuel agar tidak pergi.
"Nggak, El harus pergi. Apa hak Papi buat larang Samuel pergi? Bahkan ini belum jam 10 malam."
"Samuel!" bentak Daren dengan suara meninggi. Daren tidak ingin Samuel datang kerumah Ara dan malah mengetahui semuanya.
Daren menyembunyikan tentang pertunangan itu karena tidak ingin konsetrasi Samuel terganggu saat ujian.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Fany yang berlari dari kamar oma Jelita.
"Bawa anak kamu ke kamarnya dan jangan biarkan dia pergi!" ucap Daren penuh ketegasan dan meninggalkan pintu utama.
Sementara Fany langsung menatap Samuel, wanita paruh paya itu mendekati putranya dan meraih tangan Samuel yang terkepal.
"Ayo Sayang!" ajak Fany lembut meski tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat dari tatapan Daren tadi, sepertinya situasi sedang kacau.
"Samuel harus ketemu Ara Mam. Cuma sebentar." Samuel menurunkan nada bicaranya.
"Besok ya Sayang, sekarang sudah malam. Papi kamu juga melarang."
"Mam?"
__ADS_1
"Turutin permintaan mami ya? Mami bakal bicara sama papi dulu setelah itu nemuin kamu," bujuk Fany.
Samuel menghela nafas panjang dan kembali ke kamarnya dengan perasaan gusar.