
Samuel duduk di balkon kamarnya seraya memangku gitar setelah makan malam bersama keluarga selesai. Tatapannya tetuju pada kandang jack yang terlihat sangat tenang seperti tidak ada kehidupan di sana.
Kini laki-laki wajah tampan itu tengah memikirkan solusi dari segala masalah yang dia hadapi. Masalah yang membuat tunangannya dalam bahaya.
Atensi Samuel teralihkan pada benda pipihnya. Dengan segera ia mendial no telpon seseorang. Decakan sebal keluar dari mulutnya ketika orang yang dia panggil berada di panggilan lain.
Tidak ingin mengada-ngada seorang diri dan emosi tanpa sebab. Samuel meletakkan gitarnya dan menghampiri sang Mami yang mungkin saja masih ada di lantai dasar.
Samuel menghembuskan nafas kasar ketika maminya sudah tidak terlihat lagi. Masih penasaran dengan sesuatu dia memutuskan mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Mam, El mau ngomong," ucap Samuel seraya mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu bersandar pada tembok menunggu pintu tersebut segera terbuka.
"Ngapin nyari Mami?"
Samuel menghela nafas panjang ketika yang keluar adalah papinya. Dia sangat heran kenapa pria paruh baya itu sangat cemburu padanya. Apakah dia sangat tampan hingga papinya saja takut tersaingi?
"El mau ngomong sama Mami," sahut Samuel.
"Pi udah deh, sama anak sendiri juga," kesal Fany menarik suaminya masuk ke kamar lalu menutup pintu.
Kini wanita paruh baya itu menatap putranya. "Mau ngomong apa Nak?" tanya Fany.
"Mami nggak ada niatan telpon bundanya Ara?" tanya balik Samuel.
__ADS_1
Alis Fany saling bertaut. "Buat apa?"
"Nanya kabar sahabat sendiri kan nggak harus ada alasan Mam. Coba aja!" Samuel sedikit mendesak karena memiliki tujuan tertentu.
"Ck, tunggu di sini." Karena tidak ingin berdebat dengan putranya, Fany kembali masuk ke kamar dan menghubungi Kirana.
Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan yang Fany lakukan dijawab oleh calon besannya.
"Fany, apa kabar? Tumben banget telpon pagi-pagi gini." Sambut Kirana di seberang telpon.
"Di sini udah malam." Fany tertawa. "Baik-baik aja. Ini cuma iseng, kata El nggak ada salahnya hubungi sahabat sendiri. Entah ada apa lagi sama calon menantu kamu itu Rana."
"Hubungan mereka baik-baik aja? Ara akhir-akhir ini sering telpon aku dan nyuruh pulang, padahal Ayahnya masih banyak pekerjaan yang nggak bisa ditinggalkan," ucap Kirana sekalian curhat.
"Syukurlah Fany, aku senang dengarnya. Oh iya, udah dulu ya, ini Deon mau berangkat kerja dulu."
"Sip, nanti aku telpon lagi."
Fany segera memutuskan sambungan telponnya setelah berbicara cukup banyak. Dia membaringkan tubuhnya di samping sang suami.
Namun, baru saja akan memeluk Daren, suara ketokan pintu kembali terdengar. Fany menatap suaminya seraya mengulum senyum.
"Anak kamu kenapa sih?" tanya Daren mulai tidak suka.
__ADS_1
"Lagi jatuh cinta tapi malu ngakuin," balas Fany dan segera beranjak dari tempat tidur, kembali menemui putranya di depan kamar.
"Ara nggak telponan sama bundanya, mungkin telponan sama orang lain makanya berada di panggilan lain," ucap Fany tanpa ditanya. Dia mulai mengerti apa tujuan Samuel sebenarnya.
"El nggak nanya," ucap Samuel. Dia meraih tangan maminya. "Kunci cadangan rumah Ara mana?"
Alis Fany saling bertaut. "Mau ngapain? Kalian belum nikah! Nggak ada ya tinggal satu rumah." Wanita paruh baya itu memelototkan matanya.
"Cuma minta Mam, buruan!" desak Samuel.
Laki-laki wajah dingin tersebut kembali bersandar pada tembok ketika melihat mamanya masuk ke kemar.
"Jangan sampai hilang!"
"Iya Mam. El pamit dulu, nggak pulang sampai pagi, nginap dirumah Keen," bohong Samuel meraih tangan maminya untuk dia kecup.
"Hati-hati, jangan buat mama kecewa."
"Hm."
Samuel segera berlalu ke kamarnya dan mengambil benda runcing nan sangat tajam yang ada di dalam lacinya. Dia memasukkan benda kecil itu di saku jaket yang dia kenakan.
Mendorong motor perlahan-lahan keluar dari garasi Samuel lakukan demi tidak menganggu penghuni rumah lain, terlebih Omanya yang semakin hari kondisinya semakin memburuk saja.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan mansion, Samuel lebih dulu mengabari Keenan tentang kebohongannya berjaga-jaga kalau saja Fany menelpon laki-laki itu untuk memastikan.