
"Keluar!" bentak Samuel pada Ara, membuat gadis itu tersentak kaget. Karena takut melihat tatapan Samuel, gadis imut itu langsung keluar dari kamar.
Laki-laki wajah tampan itu mengganti bajunya dengan yang lebih bersih, lalu melempar semua bantal hingga tidak ada yang tersisa di atas ranjang.
Samuel paling tidak suka orang yang ceroboh seperti Ara, itu membuatnya muak.
Dia mengambil intercom yang tersambung ke semua pelayan di Mansion ini. "Bersihkan kamar Saya!" perintah Samuel kemudian meninggalkan kamar menuju kandang Jack. Tadi dia sebenarnya akan memberi Jack makan, tapi papinya datang dan langsung menghajar tanpa meminta izin lebih dulu.
"Sayuran darimana?" tanya Samuel ketika melihat sayuran berada di kandang Jack.
"Neng Ara yang memberikan tadi Den," jawab penjaga yang ada di sana.
Samuel menghela nafas panjang, Ara benar-benar menyebalkan dan bodoh di matanya.
"Jangan biarkan dia menemui Jack lagi!" perintah Samuel seraya mengelus Jack yang tengah menikmati sarapannya.
Setelah cukup lama berada di kandang, Samuel iseng jalan-jalan di mansion dan tidak sengaja melihat maminya juga Ara tengah tertawa bahagia.
Baru kali ini dia melihat senyuman Ara yang terlihat menawan di luar dari tingkah ceroboh dan kekanak-kanakannya.
"Jelek!" gumam Samuel melanjutkan langkahnya.
Tujuan laki-laki wajah dingin itu kali ini adalah kamar Oma buyut. Dia melempar senyum tipis setelah berada di dalam kamar. Melangkah semakin dekat ketika Omanya melambaikan tangannya.
"Anj ... sakit Oma," ringis Samuel yang memperlihatkan sisi manjanya ketika telinganya dijewar. Hampir saja dia mengumpat.
__ADS_1
"Jadi begini kelakuan kamu sama Ara? Kamu itu bukan laki-laki!" kesal Om Jelita.
"El nggak sengaja."
"Bohong, mana ada orang nyekek orang nggak sengaja. Kamu kenapa nggak suka sama Ara nak? Dia gadis baik dan lucu, berasal dari keluarga baik-baik. Kenapa harus memilih Sasa? Apa kamu sudah yakin bisa menikah dengannya?"
Samuel terdiam, ya selain inti Avegas, Om Jelita juga tahu hubungan Samuel dengan Sasa, sebab Samuel sering kali mengadu pada Omanya.
"Kamu harus memilih yang terbaik untuk keluarga kamu Nak, kamu anak tunggal. Kenapa cucu Oma nggak ada yang waras hah? Alana, Ray dan kamu!" kesal Oma Jelita.
"Sepertinya cucu Oma itu Keenan," lanjut Ome Jelita.
"Oma?" Samuel merajuk dengan memanyungkan bibirnya. Ya sisi Samuel yang lain hanya di tujukan pada Omanya saja.
"Sasa juga baik," jawab Samuel.
"Cinta terlarang memang indah dan mendebarkan Nak, oma tahu itu. Tapi percayalah cinta yang benar-benar direstui banyak orang jauh lebih indah," ceremah Oma Jelita.
"Ah El kesini berharap bisa dimanja karena habis dipukulin sama Papi, eh malah dapat ceramah."
"Nggak ada manja-manja!"
"Bawa Sasa kerumah ini kalau kamu berani!"
"El haus, mau minum dulu." Samuel beranjak tanpa menyanggupi tantangan Omanya, karena itu adalah hal mustahil yang akan Samuel lakukan, terutama ada Ara dirumah ini.
__ADS_1
Membawa Sasa ke mansion, tentu saja melukai hari maminya, Samuel tahu itu. Namun, hatinya tidak bisa berpaling begitu cepat pada Sasa.
"Sasa atau Ara?"
"Oma!" jawab Samuel kemudian menutup pintu rapat-rapat.
untuk pertama kalinya, Samuel tinggal di rumah seharian full karena larangan ke Markas sudah berlaku sejak semalam. Dan Samuel hanya memiliki Avegas sebagai rumah keduanya. Berkunjung kerumah Sasa juga tidak bisa, karena gadis itu ada keperluan bersama Sagara.
Dia sadar, memilih Sasa akan membuatnya kehilangan semua yang dia ingingkan, tapi bukankah cinta butuh sebuah perjuangan?
Azka saja bisa mendapatkan Salsa padahal tembok mereka juga terlalu kokok, kenapa dia tidak bisa?
"Jadi ini rasanya karma?" gumam Samuel.
Dulu, dia sering kali menertawakan kebucinan ketuanya yang rela mati karena cinta, dan sekarang dia merasakan hal yang sama.
Merasa bosan, Samuel mengambil gitarnya dan duduk di balkon kamar. Gerimis di siang hari membuat suasana semakin indah untuk bernyanyi dan itu yang sedang Samuel lakukan sekarang.
Tatapannya tertuju pada objek mungil yang ada di bawah sana, tepatnya taman dekat kandang Jack. Seorang gadis tengah duduk di taman dan bermain dengan seekor kucing.
"Bodoh, apa dia nggak tau hujan bisa membuat sakit?" guman Samuel.
"Apa El juga nggak tau, kalau Ara seperti hujan?" Samuel menoleh ke sumber suara dan mendapati tante Anin, bunda Alana ada di belakangnya.
"Kehadiran hujan sering kali diharapkan, kadang kala juga dibenci. Meski hujan tahu itu, dia tetap saja turun membasahi bumi, karena itu memang tugasnya. Begitupun dengan Ara, dia tahu mencintai itu sakit, kehadirannya ada yang menyukai juga tidak, tapi tetap bertahan karena tugasnya untuk mendampingimu."
__ADS_1