Lost Love

Lost Love
Part 159 ~ Hanya mimpi buruk


__ADS_3

Samuel berjalan sempoyangan memasuki rumah. Penampilan laki-laki dingin itu sudah acak-acakan juga sedikit basah terkena air hujan.


Baru saja melewati ambang pintu, tubuh Samuel terhempas membentur tembok dan luruh ke lantai. Tubuh kekar itu terjatuh karena pukulan Daren yang sejak tadi menunggu kedatangan Samuel pulang.


"Papi!" Fany berlari hendak melindungi Samuel, tapi tangannya ditarik oleh Daren agar menjauh. "Jangan ikut campur Fany, Samuel urusan aku!" ucap Daren dengan suara dinginnya.


Rahang pria paruh baya itu mengeras, kepalan tanganya semakin kuat ketika sekelebat bayangan tentang video yang dia lihat beberapa menit yang lalu kembali bermunculan di kepalanya.


"Awalnya papi mengira, papi adalah orang tua paling bodoh karena nggak bisa melindungi cinta putra satu-satunya. Tapi, setelah mengetahui apa yang kamu lakukan pada gadis sebaik Ara, papi membenarkan keputusan Deon!" ucap Daren dengan nafas memburu.


Sementara Samuel tepaku mendengar ucapan papinya. Dia berusaha untuk bangun, tapi tidak bisa. Selain pukulan Daren yang terlalu keras, tubuhnya juga tidak punya tenaga.


Rasa dingin, suhu panas juga perasaan sesal bercampur menjadi satu dalam tubuhnya.


"Bangun! Bisa-bisanya pemegang sabuk hitam sepertimu menyakiti gadis nggak bersalah hanya karena gadis lain yang bahkan beda keyakinan dari kita!" bentak Daren.


Pria paruh baya itu berjongkok dan menarik kerah kaos milik Samuel.


"Kenapa kamu mengecewakan dan membuat papi malu Samuel? Kenapa kau menerima pertunangan itu padahal kau mempunyai kekasih, dan kenapa kau menyiksa Ara hanya karena nggak suka sama dia. Kenapa!"


"Pa-papi, maafin El," lirih Samuel meraih tangan Daren yang mencekiknya. Dia hampir kehabisan nafas sekarang. "Sa-samuel akui dulu sangat bodoh karena menyia-nyiakan gadis sebaik Ara. Tapi sekarang El nyesal, Pi. Samuel menyakiti dua hati dalam waktu yang bersamaan .... Uhuk." Samuel terbatuk setelah Daren melepaskan cekikannya.

__ADS_1


"Tolong Samuel Pi, tolong bujuk om Deon untuk ...."


"Pergi!" usir Daren tanpa peduli pada kondisi putranya.


Rasa kecewa dan marah mengusai diri Daren untuk saat ini. Video Samuel menyiksa Ara, tapi begitu lembut pada Sasa membuat darahnya mendidih. Membiarkan Ara hujan-hujanan hingga jatuh pingsan, sementara Samuel sibuk dengan gadis yang telah tiada.


Sungguh, Daren sangat malu pada sahabatnya sendiri.


"Tunggu apa lagi? Pergi dari rumah saya sekarang!" ulang Daren.


Dengan susah payah Samuel berdiri dan berjalan sempoyongan keluar dari mansion. Namun, belum jauh dia melangkah, tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri.


"Bangun Nak," lirih Fany menguncang tubuh Samuel yang terasa sangat hangat.


***


Mata Samuel mengerjap perlahan, nafasnya yang terasa panas dan kepala sangat pusing sudah mewakili penderitaanya saat ini.


"Mami?" lirih Samuel berusaha untuk bangun. "Samuel mimpi buruk, Samuel mimpi Ara ninggalin El," imbuhnya dengan mata mulai berembun.


"Telpon Ara Mam, bilang sama dia kalau El sakit. Ara pasti langsung nemuin El kalau tahu El sakit!" desak Samuel menguncang tubuh Fany.

__ADS_1


"Minum obat ya Nak," bujuk Fany dengan air mata terus membasahi pipinya. "Semua yang terjadi bukan mimpi buruk Nak. Sekarang kamu benar-benar kehilangan Ara karena kesahalan kamu sendiri."


"Nggak, Ara nggak marah karena kesahalan Samuel. Ara pernah minta sama Samuel buat ciptain momen indah biar dia nggak ingat luka yang El ciptakan, jadi Ara nggak marah sama El." Samuel terus meyakinkan dirinya sendiri kalau ini hanya mimpi.


Rasanya sangat sakit mengetahui fakta Aranya benar-benar pergi tanpa mengucapkan perpisahan.


"Sudah Nak, jangan menyiksa diri sendiri. Kamu harus makan dan minum obat, setelah itu ...." Ucapan Fany terhenti karena Samuel menyentak tanganya.


Laki-laki dingin itu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Hanya cuci muka dan memakai seragam sekolahnya.


"El, ujian susulan suda mami ...."


"Samuel harus ke sekolah sebelum telat. Ara pengen banget liat El jadi Ceo, biar setiap hari bisa masagin dasi di leher El."


"Samuel!" bentak Fany melihat tingkah tidak biasa putranya.


"El harus bahagiain Ara, Mam!"


"Udah telah, dia sudah pergi!"


"Itu cuma mimpi buruk Mami!" bentak Samuel.

__ADS_1


__ADS_2