Lost Love

Lost Love
Part 123 ~ Hansaplast


__ADS_3

Jam 6 pagi mungkin terlalu cepat jika harus datang ke sekolah, tapi Edgar sudah berada di sana sejak setengah jam yang lalu. Laki-laki itu tengah berada di lapangan basket seorang diri.


Mendribbling bola kemudian berlari lalu memasukkan bola ke ring basket. Itu Edgar lakukan berulang kali hingga tubuhnya benar-benar mengeluarkan keringat.


Bukan hanya ingin mengeluarkan keringat, tetapi Edgar juga ingin mengeluarkan segala rasa sesak di dalam dada.


"Milo!" Suara seorang gadis mengema di ruang olahraga itu membuat Edgar langsung membalik tubuhnya.


Dia tersenyum, melempar bola ke sembarang arah dan menggampiri Ara yang berdiri di salah satu kursi penonton.


"Tumben cepat?" tanya Edgar duduk di salah satu kursi penonton bersama Ara.


"Ara berangkat sama Ayah, bukan Abang," jawab gadis imut itu.


Edgar mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mengambil air meneral yang dia bawa sendiri lalu meneguknya hingga setengah.


Dia melirik Ara ketika merasakan tangan mulus menyentuh batang hidungnya. Langsung saja Edgar menyingkirkan tangan Ara dari wajahnya.


"Jangan sentuh gue, ntar tunangan lo marah," tegurnya.


Ara mengeleng sebagai respon. "Abang nggak bakal marah kok, soalnya Ara nyentuh Milo karena mau obatin," jawab gadis imut itu.


Edgar memperhatikan Ara membuka tasnya. Meneliti apa sebenarnya yang akan gadis itu ambil. Senyuman Edgar mengembang melihat hansaplast berkarakter di tangan Ara.

__ADS_1


"Milo hadap sini dulu!" perintah Ara dan langsung dijawab pergerakan tubuh oleh Edgar.


Laki-laki itu memejamkan matanya dan menunggu Ara menempelkan Hansaplast di hidung yang sebenarnya sudah tidak terlalu sakit.


Andai saja Edgar mempunyai seseorang seperti Ara yang sangat perhatian, mungkin hidupnya tidak akan sekacau sekarang.


Semalam lagi dan lagi dia harus bertemu ayahnya. Jika dulu hanya adu mulut, maka kali ini dia mendapat pukulan di wajahnya karena telah lancang menemui ayahnya yang tengah bermesraan dengan seorang wanita.


Edgar sungguh sangat marah karena ayahnya datang kerumah sakit dan meminta ibunya menandatangani percerain yang mengakibatkan ibunya kembali drop padahal sudah baik-baik saja.


"Udah Milo, kenapa masih pejamin mata?" tanya Ara.


"Ah kirain belum." Edgar kembali pada posisinya semula. Menumpu lengan pada lutut.


"Nggak tawuran kok Ra, cuma membela diri aja. Oh iya, dapat darimana Hansaplast seimut ini?" tanya Edgar menunjuk batang hidungnya.


"Oh itu ... Abang yang ngasih Ara. Kata Abang, Ara sering jatuh dan cereboh jadi harus bawa begituan di dalam tas. Karena gemesin, Ara pasang dikening meski nggak luka." Cengir Ara menunjuk keningnya yang terhalang rambut.


"Bisa-bisanya lo kepikiran Ra. Ke kelas yuk!" ajak Edgar berdiri lebih dulu.


"Ayo!" sahut Ara meraih tangan Edgar untuk dia tarik.


Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangan olahraga menuju kelas yang berada di lantai dua.

__ADS_1


"Milo suka main basket? Tadi Ara liat Milo jago banget. Kenapa nggak masuk tim basket aja?"


"Gue sibuk Ra, nggak ada waktu buat ngejar mimpi," jawab Edgar seadanya.


Langkah laki-laki itu berhenti ketika membelok di ujung koridor dan mendapati Samuel berdiri seraya bersedekap dada. Langsung saja Edgar menyingkirkan tangan Ara yang sejak tadi digenggam.


Untuk saat ini, Edgar tidak ingin mencari masalah dengan siapapun, karena masalahnya sudah terlalu banyak.


"Tunangan lo Ra, gue duluan ya," ucap Edgar berjalan lebih cepat dan melewati Samuel begitu saja tanpa ingin menyapa atau melempar senyum seperti biasa.


Sementara Ara tidak bergeming di tempatnya karena menunggu Samuel mendekat. Jangan lupakan senyum yang mengembang sejak tadi setelah melihat sang kekasih.


"Abang datang cepat juga? Ara kira bakal telat ...."


Ara menatap tangannya yang di genggam erat oleh Samuel. Wajah laki-laki itu sangat datar bahkan tidak menampilkan senyum sama sekali. Dia mempercepat langkahnya untuk mengimbangi langkah lebar Samuel yang terlalu cepat.


"Abang jalannya pelan-pelan, Ara takut jatuh!" tegur Ara berhasil mengurangi kecepatan langkah Samuel.


"Makasih udah dengerin Ara," cengir gadis imut itu merangkul lengan Samuel.


...****************...


Jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar.

__ADS_1


Follow ig otor @Tantye005


__ADS_2