
"Ra, lo pulang sama siapa kali ini?" tanya Edgar seraya membereskan bukunya yang ada di atas meja.
"Ara naik taksi, kenapa?" tanya Ara balik.
"Gue anter deh, mau nggak?"
Ara mengangguk ragu kemudian mengeleng tanda menolak. "Ara mau kerumah Mami, jadi harus naik taksi. Kalau dibonceng Milo nanti ke sasar. Ara kan nggak tau jalan," jujur Ara.
Edgar terkekeh geli mendengar alasan Ara yang sama sekali bukanlah masalah untuknya. "Udah sebutin aja alamatnya, nanti gue anter sampai tujuan."
"Benar?"
"Hm."
"Hore!" pekik Ara. "Akhirnya Ara nggak takut lagi kalau ketemu sopir taksi botak. Soalnya Ara takut sama orang botak," cerita Ara tanpa diminta seperti biasa dan itu membuat Edgar sangat senang.
Mendengar Ara bercerita sesuka hati adalah kepuasan tersendiri untuk Edgar. Apalagi dia anak tunggal yang sangat menginginkan seorang adik.
Selalu saja, Edgar akan mengenggam tangan Ara ketika berjalan. Harus kalian tahu, Ara jika tidak digengam tangannya maka tidak akan sampai ke tempat tujuan dengan cepat.
Bagaimana tidak, jika ada yang bertanya atau mengajak Ara bicara, maka gadis imut itu akan berhenti dan berceloteh panjang lebar seperti anak kecil.
Langkah Edgar memelan ketika sampai di parkiran motor dan melihat Anggota Avegas tengah berkumpul.
"Ara, lo tunggu di pagar nggak papa?" tanya Edgar dan dijawab gelengan oleh Ara.
"Ara ikut Milo aja, Ara nggak mau jalan." Jawabnya.
__ADS_1
Kini Ara yang beralih mengenggam tangan Edgar tanpa ada niatan sedikitpun membuat tunangannya cemburu. Lagipula Ara hanya menghindari Samuel, bukan membuat cemburu atau marah. Itupun dia menjauh sesuai keinginan Samuel saja.
Ara terus saja melempar senyum sepanjang melewati Anggota Avegas yang lumayan menyesakkan parkiran meski tidak semua anggota hadir.
Langkah Ara berhenti ketika Rayhan menyapanya.
"Mau pulang sama Edgar Ra?" tanya Rayhan.
"Iya Ara mau pulang sama Edgar. Kenapa kak?"
"Ah nggak cuma nanya aja," jawab Rayhan seraya melirik Samuel yang sibuk dengan ponselnya. Entah pura-pura sibuk atau memang sibuk.
"Dulu bagaikan Magnet dan Besi, meskipun ada jarak, besi akan terus menempel pada magnet. Kini, besi itu berubah menjadi Emas hingga tidak tertarik pada magnet lagi," timpal Ricky.
"Sae lo njir, perempumaannya bisa tepat gitu." Dito, Rayhan dan Ricky sontak tertawa.
Dia meneluk Edgar setelah berada di atas motor karena takut jatuh. Ara tidak menoleh lagi ketika melewati anggota Avegas.
"Benar-benar kehilangan Anjir!" teriak Rayhan heboh.
Plak
Laki-laki itu mengusap kepalanya karena mendapat tabokan keras dari Samuel.
"Ngebacot mulu!" tegur Samuel segera memasang helmnya setelah pak Ketua datang usai menemui mantan pacar.
Kali ini mereka ada urusan penting dengan salah satu geng motor yang selalu membuat onar dan menganggu ketenangan Avegas.
__ADS_1
"Langsung ke lokasi!" teriak Azka dan anggota Avegas hanya mengacungkan jempol tanda setuju.
Satu persatu motor besar meninggalkan lingkungan SMA Angkasa. Samuel yang memang menjadi perisai Avegas berada paling belakang bersama Keenan.
Jaga-jaga jika ada anggota yang terluka selama perjalanan.
"El, gimana sama Sagara?" tanya Keenan sedikit berteriak.
"Menghilang setelah malam itu!" balas Samuel.
Memang Sagara tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak setelah kematian Sasa. Entah benar-benar pergi atau tengah merencanakan sesuatu untuk membalas Samuel suatu hari nanti.
"Jangan sampai lengah, Ara tanggung jawab lo!"
"Gue tau!" sahut Samuel.
Keduanya kembali melajukan kecepatan motor di atas kecepatan rata-rata kerena tertinggal beberapa meter.
Suara deruman motor semakin menjadi ketika sampai di sebuah markas lumayan luas dengan motor terparkir rapi di dalamnya.
Kini mereka menyerang karena ketua Wiltar baru saja mencari masalah dengan ketua Avegas.
"Keluar lo!" teriak Azka dengan lantang.
Samuel berdiri tepat di samping Azka, menepuk pundak sahabatnya itu. "Jangan emosi Ka!"
"Nggak bisa, dia udah ngusik Salsa, El!"
__ADS_1