
"Assalamualaikum, Oma...." Ummi Kulsum menoleh saat mendengar suara lembut itu, dan matanya berbinar saat melihat siapa yang datang menjenguknya.
"Aira..." lirih Omanya.
Aira tersenyum di balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya itu, ia melangkah dengan pelan mendekati Omanya yang kini setengah berbaring di ranjang rumah sakit.
"Bukannya seharusnya kamu pulang dua minggu lagi?" Oma bertanya dengan suara yang serak.
"Ujiannya sudah selesai, Oma. Dan saat mendengar Oma sakit, Aira langsung izin pulang lebih cepat," jawab Aira dan tak lama kemudian Jibril pun datang, bahkan anak itu masih menggendong ranselnya.
"Assalamualaikum, Oma." Jibril mencium punggung tangan Omanya yang sudah keriput itu. "Bagaiamana keadaan Oma?"
"Waalaikum salam, Nak. Keadaan Oma jauh lebih baik. Tapi kenapa kalian langsung kesini? kalian dari perjalanan jauh, apa tidak sebaiknya pulang dulu, istirahat, baru setelah itu menjenguk Oma." baik Jibril maupun Aira tersenyum manis mendengar ucapan Omanya itu.
" Kami sangat ingin melihat keadaanmu, Oma. Kami tidak lelah, " Jawab Jibril.
Aira dan Jibril memang belum waktunya liburan, namun setelah mendengar kabar yang terjadi pada Oma dan kakak ipar mereka, mereka memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
...
Sementara itu, Arsyad mendapatkan laporan bahwa Zenwa tidak mengajar selama beberapa hari ini, dan acara tour pun juga sudah terlewat , Arsyad tahu Zenwa tidak ikut namun ia berfikir mungkin Micheal melarangnya, mengingat sikap dingin Micheal selama ini padanya.
Namun, karena Zenwa tidak masuk tanpa keterangan, Arsyad menjadi cemas dan kefikiran. Setelah berfikir cukup lama, ia pun memutuskan mendatangi rumah Micheal.
Namun disana tidak ada siapa-siapa, dan tidak ada yang mau memberi tahu informasi pada Arsyad tentang Zenwa. Membuat Arsyad semakin bingung.
Karena tidak mendapatkan informasi apapun, akhirnya Arsyad memutuskan pulang namun di perjalanan ia melihat seseorang yang ia kenal. Arsyad menghentikan mobilnya dan memanggil orang itu yang saat ini sedang berjalan kaki.
"Hey! Javeed!"
"Kak Arsyad, dari mana?" tanya Javeed masih dengan senyum di bibirnya.
"Dari rumah teman," jawab Arsyad. "Kamu dari mana mau kemana? siang-siang begini, panas, kamu ada di tengah jalan." lanjutnya yang membuat Javeed terkekeh.
"Cuma jalan-jalan, biar nggak sumpek," jawab Javeed asal.
__ADS_1
"Masuk gih, kita makan siang bersama, bagaimana?"
"Ide bagus, aku memang lapar."
...
"Kapan kamu mau bangun, Sayang?" Micheal menggumam lirih sembari menggenggam tangan Zenwa yang terasa begitu dingin. Ia mengecupnya dengan lembut, penuh kasih sayang. Pancaran kerinduan terpancar jelas di matanya.
Micheal teringat saat terkahir kali ia mendekap Zenwa, dan ia rindu saat-saat seperti itu.
"Hey...." Micheal mengusap pipi Zenwa dengan sayang. "Kapan kamu mau bangun? Aku merindukanmu, Zenwa. Aku rindu celotehanmu, aku rindu tatapan tajammu, aku rindu suaramu." Micheal menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya.
"Sayang...." Micheal kembali mengecup tangan Zenwa kemudian berkata. "Jika aku boleh mengakui sesuatu, aku... Aku jatuh cinta padamu, Zenwa. Aku mencintaimu," Micheal berkata dengan suara yang dalam, matanya kembali memerah.
Ya, dia telah jatuh cinta pada istrinya, entah sejak kapan, namun Micheal menyadarinya saat ia tak bisa lagi memeluk Zenwa, saat ia tak bisa lagi menatap matanya, saat ia tak lagi mendengar suaranya. Micheal merasa ada yang kurang dalam hidupnya, hatinya terasa hampa, hidupnya hambar, seperti tak ada lagi yang berarti.
"Aku mohon, bangunlah dan katakan kau juga mencintaiku, Sayang."
__ADS_1
Tbc....