
"Kenapa? Masih gugup?" Tanya Micheal sembari dengan santai memakai pakaiannya setelah ia mandi. Sementara Zenwa yang saat ini sedang packing barangnya enggan menanggapi ucapan suaminya itu. "Di Jakarta nanti, kita akan satu kamar." lanjutnya dan Zenwa hanya menggumam, "Kamu marah?" Tanya Micheal dan Zenwa menarik napas panjang, ia meletakkan barang-barangnya kemudian ia menatap sang suami dengan serius.
"Itu tidak lucu," ucap Zenwa kemudian.
Zenwa yang selama ini terbiasa tidur sendiri lupa bahwa kini ada Micheal di kamarnya. Dan saat bangun untuk sholat tahajud, sempat mati lampu dan tiba-tiba Micheal dengan sengaja mengejutkannya membuat Zenwa panik dan langsung berteriak. Dan baginya, itu sangat menyebalkan sementara Micheal justru tertawa geli.
"Aku minta maaf, aku janji lain kali tidak akan begitu," ucap Micheal lirih.
"Aku hampir jantungan, apa kamu tahu itu?" desis Zenwa yang masih merasa sangat kesal.
"Aku tidak tahu," jawab Micheal yang membuat pupil mata Zenwa melebar namun ia enggan menanggapinya lagi dan ia kembali sibuk pada aktivitasnya.
"Tidak usah bawa baju banyak-banyak, nanti kita bisa belanja disana," ujar Micheal.
"Bagaiamana kalau kamu kelupaan dompet saat belanja? Lalu kita kehabisan bensin saat pulang," sindir Zenwa yang membuat Micheal terkekeh.
__ADS_1
"Tidak akan, percaya deh sama aku."
...
Sementara di luar, Ummi dan Oma menyiapkan sarapan sembari berbincang-bincang tentang Micheal dan Zenwa yang akan pergi ke Jakarta hari ini.
"Aku khawatir sebenarnya, Bu. Hubungan mereka masih belum baik, dan sekarang mereka hanya akan tinggal berdua," ucap Ummi Zainab cemas.
"Mereka sudah sama-sama dewasa, kita berdoa saja semoga mereka menjalani rumah tangga mereka bagaimana selayaknya."
"Aamiin."
"Iya, Bu. ibunya Micheal kelihatannya juga sayang sama Zenwa," ucap Ummi Zainab dan tak lama kemudian Micheal dan Zenwa datang ke dapur.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Oma.
__ADS_1
"Sudah, Oma," jawab Zenwa kemudian ia pun membantu Ummi nya menyelesaikan masakannya.
Setelah semuanya selesai, mereka sarapan dan lagi-lagi mereka membicarakan keberangkatan Zenwa, seolah mereka masih enggan berpisah dengan Zenwa.
"Zenwa, Abi harap kamu bisa jaga diri disana ya, Nak. Dan sering-seringlah telfon kamu," ujar Abi Hamka dan Zenwa hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ummi juga minta, jangan sampai kamu menyembunyikan apapun dari Ummi, ya?" pinta nya sembari menatap Zenwa dengan begitu sendu,"Ummi tidak mau kamu melakukan apa yang Arini lakukan, Sayang. Kami orang tua mu dan kami berhak tahu tentang apapun keadaanmu." lanjutnya yang membuat raut wajah Zenwa kembali sedih, namun kemudian ia tersenyum, ia menarik tangan Ummi nya dan menggenggamnya.
Perubahan raut wajah Micheal pun berubah saat kembali mendengar nama Arini, masih ada rindu yang bergejolak di hatinya untuk cintanya itu. Namun Micheal segera mengalihkan rasa itu dan ia memandangi Zenwa yang kini berbicara dengan Ummi nya.
"Zenwa janji, Ummi. Zenwa tidak akan menyembunyikan apapun dari Ummi, Abi dan Oma Opa." tegasnya yang membuat Umminya langsung tersenyum.
"Dan jangan lupa juga, ingat dengan statusmu, Zenwa," sambung Oma, "Kamu istrinya Micheal sekarang, kamu memiliki kewajiban dan hak sebagai istri, penuhi keduanya dengan baik, Nak." lanjutnya.
"In Shaa Allah," jawab Zenwa sambil tersenyum dengan tulus, senyum yang lagi-lagi membuat Micheal tak bisa mengelak bahwa Zenwa memang memiliki paras yang hampir sempurna.
__ADS_1
"Jika saja cinta hadir karena kecantikan, mungkin aku sudah jatuh cinta sejak dulu padamu, Zenwa. Namun sayangnya, cinta itu urusan hati dan tidak bisa di rencanakan akan jatuh pada siapa. Tapi sekarang, aku sedang berusaha menyerahkan hati ini padamu, karena kamu lah yang berhak. Semoga kamu mau menunggunya."
Tbc...