
"Entahlah, rasanya tidak suka saja ada yang memujimu begitu. Apa itu bisa di katakan cemburu? Aku kan belum mencintaimu, apa sudah bisa cemburu?"
"Akupun belum mencintaimu, tapi aku juga cemburu bahkan saat melihat foto boneka Kak Arin di kamarmu."
Micheal langsung menoleh saat mendengar ucapan Zenwa yang begitu lirih itu, ia menoleh sesaat sebelum akhirnya kembali fokus menyetir.
"Aku sudah menyingkirkannya, maafkan aku," lirihnya yang membuat Zenwa tersenyum samar.
"Aku maafkan," jawabnya juga lirih.
"Terima kasih," kata Micheal, Zenwa hanya mengangguk pelan. Keduanya pun terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing.
Micheal sekarang mengerti, meskipun mungkin belum ada perasaan cinta di hatinya dan di hati Zenwa, namun keduanya memiliki perasaan sebagai pasangan suami istri dan itu seharusnya lebih kuat dari cinta. Karena status pernikahan mereka faktanya dan nyatanya.
...
"Kamu tahu engga...." ucap Micheal sembari merangkak naik ke atas ranjang.
"Engga tahu," jawab Zenwa yang juga naik ke atas ranjang.
"Makanya aku mau kasih tahu," tukas Micheal kemudian yang membuat Zenwa terkekeh.
"Mau kasih tahu apa?" Tanyanya.
"Sebenarnya tadi si Arsyad itu kasih tahu aku, katanya sekolah dia sedang membutuhkan guru," ujar Micheal kemudian yang membuat mata Zenwa langsung berbinar.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanyanya.
"Kok kamu kelihatan senang?" Tanya Micheal setengah merengek, bahkan raut wajahnya seperti anak-anak yang di ambil mainannya.
"Ya karena aku benar-benar ingin mengajar disana," jawab Zenwa.
"Baiklah, nanti kita temui si Arsyad itu," ucap Micheal pasrah yang membuat Zenwa semakin terseyum lebar.
"Terima kasih," ucapnya girang.
"Sama-sama, apa sekarang kita bisa tidur? Ini sudah malam," tukas Micheal sembari melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Okey," jawab Zenwa sembari langsung merebahkan diri kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala, membuat Micheal meringis karena ia jadi tidak kebagian selimut.
...
"Belum."
Gabriel yang mendengar jawaban istrinya itu langsung mencebikan bibirnya. "Masak iya belum? Mereka sudah tidur satu kamar," kata Gabriel kemudian.
"Dulu kita juga tidur satu kamar, tapi tidak melakukan apapun sampai kamu maksa aku," kata Mommy Firda sambil terkekeh.
"Aku bukannya maksa, aku cuma menagih hak aku," balas daddy Gabriel sambil tersenyum geli. "Apa Micheal tidak menagih kewajiban Zenwa?" Tanyanya kemudian.
"Kalau Micheal sadar diri, dia tidak akan menagih haknya sebelum dia bisa melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Dan kewajibannya adalah, mencintai Zenwa sepenuhnya."
__ADS_1
"Itu pasti sulit, Sayang," tukas Gabriel.
"Sulit bukan berarti tidak mungkin," jawab Firda kemudian mendesakan tubuhnya ke tubuh sang suami, dan suaminya pun langsung mendekap sang istri dengan erat, memberikan kecupan hangat di ubun-ubunnya.
"Bagaiamana kalau kita ke Jakarta?" Tanya Mommy Firda kemudian. "Siapa tahu mereka butuh bantuan kita untuk lebih dekat lagi, dengan begitu, kita bisa cepat-cepat punya cucu."
"Cucu ya? Kok aku merasa tua kalau mendengar kata cucu?"
"Memang faktanya kamu sudah tua, Don Gabriel." keduanya tertawa geli dengan topik pembicaraan mereka yang tidak jelas.
"Baiklah, nanti kita ke Jakarta, sekalian aku ingin tahu kinerja Micheal sebelum perusahaan di ambil alih olehnya."
...
Pagi ini, seperti biasa Zenwa menyiapkan pakaian kerja Micheal.
"Zenwa...." teriak Micheal dari kamar mandi.
"Ya Allah, kenapa dia suka sekali teriak-teriak?" Gumam Zenwa kesal..
"Ada apa?" Teriak Zenwa dari depan pintu kamar mandi.
"Masuk, tidak di kunci!" Seru Micheal dari dalam yang membuat Zenwa langsung melotot.
"Astagfirullah..." ucapnya.
__ADS_1
"Kok astaghfirullah? Aku mau cukur, cukurin ya."
"Huh?