
"Kak Arin..." bisiknya dengan suara yang tercekat di tenggorokannya "Kak Arin pingsan lagi, Ummi?" tanya Zenwa, air mata sudah tak mampu ia bendung lagi, dan air matanya semakin deras saat tangis Umminya semakin pecah.
"Tidak mungkin!" lirih Zenwa yang seolah sudah mengerti arti tangisan sang Ummi.
"Kak Arin..." seru Zenwa sembari mengguncang pundak sang Kakak "Bangun, Kak. Ini ... ini Zenwa sudah kembali, tadi malam Kak Arin mau bilang apa?"
"Kak Arin..." Zenwa kini menepuk pipi sang kakak yang pucat dan dingin "Zenwa mohon, bangun dong, Kak. Zenwa janji akan mendengarkan apapun yang kakak katakan, Zenwa tidak akan pergi. Ummi..." Zenwa menoleh dan ia menarik tangan Umminya sambil terus menangis.
"Bangunin Kak Arin, Ummi. Bilangin Zenwa minta maaf karena tadi malam pergi begitu saja," ucap Zenwa dengan berderai air mata, namun Umminya hanya menangis sambil menggeleng.
"Abi..." Zenwa menarik tangan Abinya, ia menatapnya dengan begitu memelas "Tadi malam Zenwa emosi, Zenwa tahu Zenwa salah. Zenwa minta maaf, bangun kak Arin, Abi..."
"Istighfar, Sayang..." lirih Abi Hamka kemudian ia mengelap wajah Zenwa yang basah karena air mata, Zenwa menggeleng dan tangisnya semakin pecah.
"Tadi malam Kak Arin masih sehat, Abi. Dia mau bicara sama Zenwa," lirih Zenwa.
Micheal yang mendengar itu dari balik pintu hanya bisa menangis sesegukan, ia membekap mulutnya agar isak tangisnya tak terdengar. Micheal tidak kuat menerima kenyataan Arini pergi secepat ini, dan hatinya juga sakit mendengar tangis pilu Zenw.
Setelah sholat subuh tadi, Micheal mendapatkan kabar bahwa tiba-tiba keadaan Arini semakin parah. Micheal langsung datang ke rumah sakit, namun yang Arini cari dan tunggu hanya Zenwa, karena Zenwa tak kunjung menjawab telfonnya, Micheal langsung bergegas menjemput Zenwa.
Dan sekarang, baik Micheal maupun Zenwa tak bisa menemani Arini saat ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Maafin Zenwa, Kak..." seru Zenwa di tengah isak tangisnya yang terdengar semakin pilu, Abi, Ummi dan Oma Opanya berusaha menenangkan Zenwa, namun Zenwa masih terus menangis, hingga Micheal datang dan langsung menarik paksa Zenwa ke pelukannya. Zenwa memberontak dan berusaha mendorong Micheal, namun Micheal semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak Arin cuma pingsan 'kan?" tanya Zenwa dan ia mendongak, menatap Micheal yang masih mendekapnya, hati Micheal seperti di remas saat melihat sorot luka yang begitu dalam di mata Zenwa.
"Bangunin kakakku, aku mau minta maaf, aku emosi tadi malam, aku tidak bisa berfikir, aku bingung, aku mohon...!"
"Sshhttt, tenanglah," lirih Micheal dan ia mengusap kepala Zenwa dengan lembut "Dia pasti memaafkanmu, dia sangat mencintaimu, Zenwa. Dia tidak akan marah," ucapnya.
__ADS_1
Micheal menatap Arini dengan tatapan yang juga penuh luka dan rasa sakit, menatap wajahnya yang dulu cantik dan bersinar, kini wajah cantik itu begitu pucat.
Terngiang kembali dalam benak Micheal saat-saat yang ia lalui bersama Arini, cinta keduanya tumbuh begitu saja, hati keduanya terikat begitu saja. Namun takdir tak berpihak pada mereka, skenario Tuhan berbeda dari rencana dan harapan mereka.
Ummi Zainab, Abi dan Oma Opa pun tak bisa berhenti menangisi Arini, ini terlalu cepat bagi mereka. Apalagi Ummi dan Abi tidak pernah tahu penyakit yang di derita Arini, meraka tidak siap dengan perpisahan yang tiba-tiba ini.
Semuanya sekarang tinggal kenangan, yang takkan pernah bisa di ulang.
Micheal masih me memeluk Zenwa yang menangisi sang Kakak. Menyesal, Zenwa tak pernah menyesali sesuatu sedalam ini, ia merutuki dirinya sendiri yang tak mau mendengarkan sang Kakak, ia merutuki dirinya sendiri yang termakan emosi sesaatnya. Dan penyesalan Zenwa semakin mendalam saat ia mengingat bahwa ia telah mengabaikan telfon dari Umminya tadi. Zenwa menyembunyikan wajahnya di dada Micheal yang masih dengan setia mendekapnya, baju Micheal basah karena air mata Zenwa yang terus mengalir tiada henti.
"Apa dia benar-benar pergi?" lirihnya kemudian, Micheal tak mampu menjawab, ia hanya bisa semakin mengeratkan pelukannya pada Zenwa, seolah ia pun butuh kekuatan menghadapi kenyataan pahit ini.
Tbc...
✅Iklan...
Karya: erma _roviko
Judul: Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Cuplikan
Bab 7 - Pelayan dadakan
"Astaga…jangan sampai pria ini mengenaliku," batin Eve yang menelan saliva dengan susah payah. "Kau orang ke seratus yang mengatakan hal yang sama," jawabnya seraya tercengir kuda.
Samuel memperlihatkan ponsel mahalnya di hadapan gadis itu, tatapan menusuk dan tajam terus mengarah ke Eve. "Akibat ulahmu yang sangat ceroboh membuat ponsel mahalku rusak," kesalnya.
"Aku tidak sengaja melakukannya, tolong…maafkan aku!" bujuk Eve yang tersenyum simpul.
__ADS_1
"Memaafkanmu? Karena kau membuat aku rugi ratusan juta," ujar Samuel yang menahan amarah, telepon penting dengan kesepakatan menjadi gagal akibat kecerobohan gadis kecil itu.
"Saat itu aku ketakutan dan hampir putus asa, aku hanya melihatmu dan meminta pertolongan. Maaf, jika aku membuatmu rugi." jelas Eve yang memelas.
"Tidak semudah itu aku memaafkanmu."
"Aku sudah meminta maaf, sebenarnya apa kemauanmu!" ucap Eve yang meninggikan suara, membalas tatapan tajam dari pria itu dengan cara mendongakkan kepala, mengingat tingginya hanya sebatas dada pria tampan yang ada di hadapannya.
"Ck, berani sekali kau berteriak di hadapanku. Di sini kaulah yang bersalah!"
"Katakan yang sebenarnya, apa keinginanmu?" tanya Eve yang sudah pasrah.
"Aku ingin kau mengganti rugi ponsel mahal limited edition, tapi melihat penampilanmu yang sederhana membuat aku sedikit ragu." Samuel tersenyum merendahkan, berpikir jika gadis kecil itu hanya orang miskin.
"Ck, kau hanya melihat covernya saja. Berhentilah menatapku begitu!" lantang Eve, tapi seketika dia kembali berpikir. "Pria ini sungguh menjijikkan, playboy cap kapak, dia sama saja dengan kak Niki." Batinnya.
"Ya sudah kau perlihatkan saja isinya!" celetuk Samuel dengan enteng.
"Aku bukan wanita seperti itu."
"Tidak perlu basa-basi, cepat ganti rugi ponselku yang kau rusak!"
"Aku tidak punya uang," jawan Eve santai, dia tak ingin melibatkan keluarganya dengan masalahnya.
"Ck, sudah kuduga ini akan terjadi. Karena aku ini termasuk pria yang sangat baik dan bermurah hati, kau bekerja di apartemen ku menjadi seorang pelayan."
Penasaran kan? cus, intip ke Kak Erma dan jangan lupa sampaikan salam Sky sama Kak Erma😘
__ADS_1