
Dengan keahlian yang Zach punya memudahkannya untuk menemukan seorang gadis remaja yang memegang kamera itu.
Zach dan Micheal datang ke rumah gadis itu, menemui orang tuanya dengan menyamar sebagai polisi yang menangani kasus Zenwa. Dan cara ini sangat berhasil, mereka memberikan kamera itu dengan suka rela dan pasrah.
Setelah mendapatkan kamera itu, mereka pun kembali ke rumah Micheal.
Sementara di rumah sakit, Ummi Zainab, Abi Hamka dan juga Oma Opamasih dengan sangat setia menunggu Zenwa sadar.
Mereka selalu mengadakan do'a bersama untuk Zenwa, seperti saat ini. Dan saat saat do'a selesai, Mommy Angeline datang dengan membawa makanan untuk mereka.
"Maaf ya, Mbak. Jadi merepotkan," kata Ummi Zainab dengan sungkan karena setiap hari Mommy Angeline akan selalu membawakan makanan untuk mereka.
"Merepotkan dari mana? Yang masak bibi, Mbak. Aku cuma membawakan kesini," kata Mommy Angelin sambil terkekeh. "Oh ya, Micheal dimana?" Tanyanya kemudian.
"Micheal pulang sejak tadi siang, Mbak," jawab Ummi Zainab yang tentu saja membuat Mommy Angeline langsung mengerutkan keningnya dan ia pun mulai berfikir kemana-mana. Karena sejauh ia mengenal putranya itu, tidak mungkin dia meninggalkan Zenwa di saat seperti ini dalam waktu yang lama.
"Ada apa, Mbak?" tanya Ummi Zainab namun Mommy Angeline menggeleng.
__ADS_1
Sementara di rumahnya, Micheal dan Zach memutar video yang mereka dapatkan dari kamera gadis itu tanpa ada yang terlewatkan satupun. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah video yang memperlihatkan Zenwa dari arah belakang.
Mereka menontonnya dengan teliti, tanpa berkedip sekalipun bahkan keduanya menahan napas. Namun tak ada yang mencurigakan disana, Zenwa berjalan sambil melambaikan tangan hingga kemudian berhenti. Micheal dan Zach tahu, pasti saat itulah orang itu melukai Zenwa. Namun masih tak ada petunjuk, apalagi kamera itu bergerak ke arah yang lain.
Micheal dan Zach hampir putus asa, sekian banyak video yang mereka temukan, masih tak memberikan petunjuk apapun.
"Sabar, jangan emosi dulu," kata Zach setelah ia melirik Micheal sekilas. Raut wajahnya kembali menampilkan kemarahan. "Masih ada beberapa video lagi yang belum kita tonton," kata Zach sembari memutar video yang lain.
Keduanya kembali menonton video itu dengan harap-harap cemas dan seketika mata keduanya terbuka lebar saat melihat ada seseorang yang melepaskan jaket kulit dan melemparnya ke tempat sampah.
"Kita dapat ... kita dapat," ujar Zach, ia kembali memutar detik-detik pria itu melepas jaket. Ia memperbesarnya dan kini ia mendapatkan sebuah petunjung.
"Kita akan dapatkan pria itu!"
...
Micheal kembali ke rumah sakit saat hari sudah malam, dan sesampainya disana, ia langsung di sambut dengan tatapan tajam ibu kandungnya. Micheal tahu ibunya itu curiga padanya namun Micheal mungkin berhenti melakukan penyelidikannya.
__ADS_1
"Sejak tadi, Mom?" Tanya Micheal basa-basi.
"Kamu masih ingat dengan permintaan kami, kan?" Tanya Mommy Angeline.
"Permintaan yang mana?" Micheal balik bertanya.
"Jangan main hakim sendiri!" Mommy Angeline menjawab dengan tegas. "Kami berusaha sebaik mungkin agar kamu jauh dari kehidupan ayahmu, Micheal. Agar kamu tidak mengenal dunia gelap ayahmu, Mom harap kamu mau menghargai usaha kami." hati Micheal terenyuh mendengar apa yang di ucapkan ibunya dan itu mengingatkannya pada sisi dirinya yang memang tak terkendali saat menghadapi seseorang yang menyakiti adiknya.
" Tidak, Mom. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama," jawab Micheal lirih.
Angeline menatap mata putranya itu lekat-lekat kemudian berkata. "Ayahmu mengirimmu ke pesantren dan Mom membiarkan kamu sering tinggal di desa ibu tirimu dengan satu alasan, Micheal. Yaitu membentuk karaktermu agar berbeda dari ayahmu, kau faham?"
***Tbc...
Masih jadi silent reader?
Jangan gitulah, sedih othor ini tahu***.
__ADS_1