
Setelah berani makan dalam satu meja makan, kemudian mulai berbagi kamar termasuk kamar mandi, kini saatnya Zenwa harus berbagi ranjang dengan sang suami.
Seharusnya itu bukan masalah, bahkan jika ia juga harus berbagi yang lainnya, namun bayangan cinta Arini masih terus menghantui Zenwa.
"Ehem ehem..." Zenwa berdeham setelah ia keluar dari kamar mandi, Zenwa masih memakai gamis lengkap dengan hijabnya, sementara Micheal sudah rebahan santai di atas ranjang sang istri seolah ia tak memiliki beban apapun.
"EHEM EHEM..." Zenwa kembali berdeham lebih lantang untuk menarik perhatian Micheal yang sejak tadi fokus pada sebuah kitab yang ia baca.
"Apa, istriku? Kenapa berdeham begitu? Butuh sesuatu?" Micheal bertanya tanpa sedikitpun menatap Zenwa.
"Tidak, aku hanya..." Zenwa menggantungkan kata-katanya, membuat Micheal langsung melirik sang istri dari ekor matanya.
"Hanya apa?" Tanyanya kemudian.
"Tidak apa-apa, mungkin aku akan tidur di..."
"Tidur sini...!" Micheal langsung menepuk ranjang, memberi isyarat pada Zenwa bahwa ia tak ingin mereka pisah ranjang.
__ADS_1
"Tapi..."
"Ini perintah suamimu, Zenwa. Dan kamu pasti tahu, selama perintah suami tidak melanggar syariat, kamu wajib mematuhinya!" tegasnya yang membuat Zenwa tak bisa lagi membantah. Akhirnya ia pun naik ke atas ranjang, namun Micheal mengernyit bingung saat melihat pakaian Zenwa.
" Apa kamu nyaman tidur dengan gamis dan jilbab panjang seperti itu?" Tanyanya dan Zenwa hanya mengedikan bahu.
"Apa kamu tidak punya piyama?" Tanya Micheal lagi.
"Tentu saja punya," jawab Zenwa.
"Kalau begitu ganti saja dengan piyama," ucapnya yang membuat Zenwa langsung tampak gugup, "Aku tidak akan macam-macam." lanjutnya yang menyadari Zenwa pasti tidak nyaman karena ada dirinya.
Zenwa tidur dengan membelakangi Micheal, sementara Micheal masih membaca kitabnya hingga tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 11 lewat. Micheal meletakkan kitabnya dan ia memeriksa Zenwa yang sudah tenggelam di alam mimpinya.
Zenwa bergerak g, dan ia berbalik hingga kini ia tidur terlentang, jilbab panjangnya seperti mengganggu kenyamanannya, Micheal pun merapikannya kemudian ia menyelimuti sang istri.
"Aku butuh bantuanmu, Ze," gumamnya kemudian, "Aku tidak bisa jika harus berjuang sendirian mempertahankan pernikahan ini, aku tahu disini aku yang salah, tapi aku benar-benar tulus ingin memperbaiki kesalahanku, aku sedang berusaha membuka hati untukmu, dan aku sangat butuh bantuanmu dalam belajar mencintaimu." Micheal menatap wajah Zenwa yang terlihat begitu polos saat terlelap, dan tentu juga begitu cantik.
__ADS_1
Puas memandangi sang istri, Micheal pun segera merebahkan dirinya dan ia tidur dengan memunggungi Zenwa.
.........
"Seharusnya hari ini Micheal ke Jakarta, tapi anak itu belum bilang apa-apa sama aku." ayahnya Mikail itu sudah menggerutu pagi-pagi membuat sang istri tertawa gemas.
"Sudahlah, dia kan masih pengantin baru, masak iya tidak ada libur," ucap Mommy Firda di tengah tawanya.
"Tapi dia sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan, sepertinya dia tidak akan jadi pemimpin yang baik, dia enteng," tukas Daddy Gabriel yang membuat sang istri kembali tertawa.
"Terus bagaimana? Kamu sendiri sudah tahu kualitas anakmu, kekurangan dan kelebihannya, dan seperti yang selalu aku bilang, Bang Gabriel. Jangan jadikan anak-anak kita pemimpin dalam hal apapun jika kita sendiri masih ragu padanya, karena yang namanya tanggung jawab pemimpin itu besar dan harus amanah."
"Sebenarnya aku bisa mempercayai Micheal, aku sudah melihat bagaimana ia tumbuh dengan segala karakternya cuma kadang dia membuatku kesal," sambung Daddy Gabriel yang membuat Mommy Firda kembali terkekeh.
"Nanti kita suruh Zenwa bekerja di perusahaan juga, Sayang. Biar dia ada aktivitas yang juga bermanfaat kalau misalnya ia tinggal di Jakarta."
"Yeah, ide bagus!"
__ADS_1
Tbc...