
Aku tidak tahu apakah adegan ini termasuk adegan yang no sensor, pull gar atau tidak. Tapi seperti judul, ini adegan malam pertama. Skip jika kalian tak suka adegan seperti ini.
.........
Pernikahan tidaklah sempurna sampai suami istri itu memenuhi hak dan kewajiban dari pasangan masing-masing.
Pernikahan tidaklah sempurna, sampai suami istri itu menyatakan tujuan hidup mereka.
Pernikahan itu tidaklah sempurna, sampai suami dan istri itu menyatukan cinta mereka dalam sebuah ritual yang seharusnya di lakukan di malam pernikahan mereka.
Tidak masalah jika ritual sakral itu terlambat dari pada tidak sama sekali.
Setelah melaksanakan sholat sunnah dua rakaat yang di lanjutkan dengan do'a, kini Micheal dan Zenwa dengan sangat ikhlas menyiapkan diri, bukan hanya untuk memenuhi hasrat manusiawi mereka, namun juga karena kewajiaban, dan menyempurnakan ibadah pernikahan mereka.
"Kamu gugup?" Pertanyaan bodoh itu terlontar dar bibir Micheal yang sebenarnya juga gugup. Keduanya masih berada di atas sejadah masing-masing, namun Micheal menghadap ke belakang , menghadap istrinya.
__ADS_1
"Sedikit," jawab Zenwa malu-malu.
"Aku juga gugup, semoga semuanya berjalan lancar ya," ucapnya, Zenwa hanya mengangguk. Micheal melepas mukena Zenwa dan ternyata Zenwa tak memakai jilbab di balik mukena itu dan kini Micheal melihat rambut istrinya itu untuk pertama kalinya. Micheal terpana dengan kecantikan Zenwa, apalagi saat Micheal melepas ikat rambut Zenwa dan membiarkan rambut panjang istrinya itu terurai bebas.
Zenwa yang gugup hanya bisa menahan napas dan menunduk dalam. "Jangan terus menunduk, Sayang. Tatap aku..." rayu Micheal sembari memaksa Zenwa mendongak. "Kamu sungguh cantik, semoga Allah menjadikan kecantikanmu ini berkah untukmu, untukku." Zenwa hanya bisa tersipu, ia tidak tahu ternyata rasanya begitu mendebarkan saat ia di puji sedemikian rupa.
Micheal mengecup kening Zenwa, kemudian turun ke kelopak matanya yang terkadang menatap Micheal tajam namun Micheal tetap suka. Kini, bibir Micheal mengecup kedua pipi Zenwa yang lembut nan halus, Zenwa hanya bisa memejamkan mata dan kini bibir Micheal menyapu lembut bibir Zenwa, memberikan kecupan lembut yang menggoda.
Setelah itu, Micheal langsung menggendong Zenwa, membawanya ke ranjang dan menidurkannya dengan perlahan.
Keduanya saling menatap, dengan tatapan yang mulai menggelap, sarat akan gairah yang tertahan.
Pandangan Micheal berkabut akan gairah, namun Zenwa justru mengangkat tangannya dan menutup dadanya yang masih terbungkus kain berbentuk kaca mata itu.
"Jangan di tutup, Sayang." Micheal berkata dengan suara yang parau. "Izinkan aku melihatnya, ini ternyata sangat indah." semburat merah terlihat jelas di pipi Zenwa mendengar pujian itu.
__ADS_1
Micheal menyingkirkan tangan Zenwa, ia mengecup buku jari sang istri dengan lembut, sebelum akhirnya ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke dada sang istri dan menyentuhkan bibirnya di kulit mulus sang istri.
Zenwa terkesiap, seluruh tubuhnya bergetar seolah tersengat listrik saat merasakan bibir Micheal di kulitnya.
Micheal menyelipkan tangannya ke punggung Zenwa, mencari pengait kain mungil itu dan saat menemukannya, Micheal langsung menyentak nya seolah ia sudah biasa melakukan hal itu, Zenwa terkesiap apalagi saat Micheal melempar benda itu asal.
"Ma Shaa Allah...." Micheal begitu kagum melihat keindahan di depannya, matanya semakin menggelap, jiwa lelakinya sudah memberontak, napasnya memburu, dadanya naik turun dan hal yang sama terjadi pada Zenwa, ia kembali menutup dadanya yang terbuka itu.
Insting lelaki Meichal menguasainya, ia menyingkirkan tangan tangan Zenwa, menahannya di sisi tubuh Zenwa kemudian Micheal melahap titik mungil berwarna merah muda yang tampak menantang itu. Zenwa terkesiap, ia mendesis tertahan, seperti ada yang menyengat disana, suhu tubuhnya pun mulai terasa panas. Apalagi saat Micheal menghisapnya dengan gemas, seperti bayi yang kelaparan.
Zenwa menggelinjang, ia tidak mengerti apa yang Micheal lakukan padanya namun Zenwa melayang, otaknya blank, ia melengkungkan punggungnya dan menekan kepala Micheal, seolah ia meminta lebih.
Zenwa membalas ciuman Micheal walaupun masih dengan gerakan yang kaku, amatir.
Sembari bibirnya memanjakan bibir Zenwa, tangan Micheal bergerak ke bawah, menelusuri pinggang Zenwa dan berhenti di tepi celana Zenwa, kemudian ia menariknya turun tanpa Zenwa sadari.
__ADS_1
Tbc...
Sudah dulu, nanti malam lagi. Hehe