Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 60


__ADS_3

Mengetahui sekolah TK Arsyad yang di beri nama Roudhotul Falah itu tak memungut biaya apapun dari murid-muridnya tentu membuat Micheal terkejut sekaligus kagum, apalagi Akbar juga mengatakan guru-guru TK itu di gaji yang artinya gaji para guru itu dari uang pribadi Arsyad.


Saat ini, Micheal sedang menunggu Zenwa karena keduanya harus menghadiri resepsi pernikahan rekan bisnis Micheal.


Micheal sudah siap dengan setelan jasnya yang membalut tubuh kekarnya, menampilkan ketampanannya yang di atas rata-rata. "Zenwa lama banget," gerutu Micheal dengan kesal.


Saat ia hendak menyusul Zenwa, Zenwa sudah muncul dan penampilannya membuat Micheal tak bisa berkedip. Gaun berwarna kuning yang membalut tubuhnya membuat Zenwa tampak begitu cantik, seperti seorang putri. Zenwa memakai hijab dengan warna senada dan wajahnya di poles make up yang jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Membuat Micheal pangling.


"Sudah, ayo!" Ajak Zenwa yang kini sudah ada di depan Micheal. "Kita berangkat sekarang?" Tanya Zenwa karena Micheal tak menanggapi ucapannya.


"Kita berangkat?" Tanya Zenwa dengan suara lebih tinggi yang membuat Micheal langsung gelagapan.


"Eh, iya ... emm, ayo!" Serunya namun kemudian ia teringat dengan Arsyad yang pernah memuji Zenwa karena memakai gaun ini. "Tapi, apa kamu tidak punya gaun lain?" Tanya Micheal kemudian yang tentu saja membuat Zenwa langsung mengerutkan keningnya.


"Maksudnya? Bukannya kita membeli gaun ini untuk di pakai malam ini?" Tanya Zenwa.


"Iya, aku tahu. Tapi gaun ini tidak cocok sama kamu, jelek. Ganti gih!" Titahnya yang membuat Zenwa menganga.


"Yang benar saja, kamu sendiri yang pilih gaun ini, masak iya jelek? Bagus kok," ujar Zenwa.


"Jelek, Zenwa!" Balas Micheal tak mau kalah. "Ganti sana, itu tidak cocok sama kamu, warnanya aneh, kamu juga jadi aneh. Ganti ... ganti!"


"Serius?" Zenwa bertanya untuk memastikan karena ia sangat berharap Micheal hanya bercanda, namun Micheal mengangguk tegas, tatapan matanya pun begitu tajam, membuat Zenwa mendengus.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Aku pakai gaun yang putih itu," ujar Zenwa dan Micheal hanya menggumam.


Saat Zenwa kembali naik ke kamarnya, Micheal langsung menghembuskan napas kasarnya. "Sebenarnya dia cantik, tapi nanti ada laki-laki lain yang melihat kecantikan dia," gumam Micheal.


Tak lama kemudian Zenwa kembali turun dengan gaun putih yang kini menggantikan gaun kuningnya, namun hal itu tidak membuat Micheal puas karena Zenwa justru terlihat jauh lebih cantik, seolah wajahnya memancarkan cahaya, seperti bidadari.


"Sudah, ayo. Sudah jam 8 ini," ujar Zenwa kemudian.

__ADS_1


"Apa kamu tidak punya gaun hitam?" Tanya Micheal tiba-tiba yang membuat Zenwa melongo.


"Apa gaun ini juga tidak cocok? Apa juga jelek?" Pekiknya.


"Benar-benar jelek, sebaiknya kamu cari gaun yang tidak mencolok warnanya!"


"Ya Allah," keluh Zenwa "Aku tidak membawa gaun kesini, cuma dua gaun ini yang aku punya," jawab Zenwa kesal.


"Ya sudah, kalau begitu, kamu punya cadar, kan? Pakai cadar saja," ujar Micheal kemudian.


"Cadar?"


"Iya,"


"Tapi..."


"Tidak ada tapi! Cepat ! Aku tunggu di mobil!"


Hidup di desa, menghabiskan masa remajanya di pesantren dan tidak pernah menghadiri pesta mewah orang-orang kalangan atas membuat Zenwa merasa sedikit tidak nyaman saat kini ia harus berada di tengah orang-orang berada itu. Namun sang suami yang seolah memahami Zenwa, tak pernah meninggalkan Zenwa, Micheal bahkan menggandeng tangan Zenwa dan tak melepaskannya sedikitpun.


Micheal dan Zenwa menyapa sang pengantin, memberikan ucapan selamat dan juga do'a pada pasangan yang sedang berbahagia itu.


Setelah itu, ada seorang pria yang datang menemui Micheal dan mereka menanyakan keadaan orang tua Micheal.


"Mereka sangat baik, Alhamdulillah. Cuma mereka sedang sibuk, jadi tidak bisa datang," kata Micheal sambil tersenyum.


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan ayahmu, sepertinya dia sangat betah tinggal di sebuah desa," ujar orang itu sambil terkekeh. "Bukankah hidup di desa itu sulit?" Tanyanya kemudian yang membuat pupil mata Zenwa langsung melebar dan ia tersenyum tipis di balik cadarnya itu.


"Tidak, Tuan. Hidup di desa sama sekali tidak sulit," sambung Zenwa.


"Benarkah? Bagaimana kau tahu?"

__ADS_1


"Karena aku dari desa," jawab Zenwa sejujurnya.


"Kau pasti bercanda, rasanya tidak mungkin Micheal Emerson menikahi gadis desa."


Tbc...


...Bagaiamana? Masih suka? Atau masih greget sama Mikail?...


...Coba Intip cuplikan 'Lentera Don Gabriel Emerson' ini. Pasti kalian akan lebih gemez sama Mikail putra Gabriel ini....


Cuplikan...


Setelah bersalaman dengan Dokter Aryan, Abi Farhan dan yang lain nya pun pulang. Tak lupa celengan ayam Micheal selalu di pegang dengan erat, bahkan Angeline yang ingin menyimpannya pun tidak di izinkan oleh Micheal.


"Nanti hilang, ini isinya duit semua," kata Micheal dengan serius.


"Awas burungnya ke tindih ayamnya," goda Angeline.


"Tidak, kan ayamnya disini, " balas Micheal yang memang mendekap ayamnya di perut nya.


Kini mereka sudah sampai di rumah, Gabriel menggendong putranya itu turun dari mobil dan semua keluarga menyambut kedatangan Micheal begitu juga dengan Firda dan Lora Jibril yang ada di gendongan nya.


"Adik Lora..." seru Micheal nyaring, ia melambaikan tangan kanannya pada Lora Jibril sementara tangan kirinya masih setia memegang celengan ayamnya.


"Bagaiamana, Mickey? Sakit?" tanya Firda dan Micheal pun langsung menggeleng sambil tersenyum lebar.


"Jangan banyak bergerak ya, Mickey!" kata Gabriel memperingatkan.


"Iya, Daddy. Mickey sudah tahu, tadi Om Dokter sudah kasih tahu," jawab Micheal dengan santainya yang membuat Gabriel geleng-geleng kepala.


Penasaran? Cus, ke Lentera Don Gabriel Emerson

__ADS_1



__ADS_2