
6 Bulan Kemudian
Hari-hari yang Micheal dan Zenwa lewati sebagai orang tua selama 6 bulan ini sangat berkesan, indah, dan akan menjadi masa-masa yang tak akan perah mereka lupakan.
Bagaiamana mereka belajar mengerti bayi mereka hanya bisa menangis atas segala hal, entah karena lapar, haus, sakit, atau bahkan hanya karena tidak nyaman dengan popoknya.
Keduanya juga harus bangun setiap dua jam sekali setiap kali karena sang bayi yang rewel. Sebenarnya, hanya Zenwa yang perlu bangun untuk menyusui putranya, namun saat Zenwa beranjak dari ranjang, atau saat ada pergerakan di ranjang, Micheal akan langsung bangun dan membantu sang istri.
Tentu ia tidak membantu menyusui Baby Tanvir, tapi Micheal bisa membantu mengambilkan popok, tissue atau bahkan memijat sang istri.
Zenwa tak ingin Micheal melakukan itu setiap malam karena Micheal juga pasti lelah setelah seharian bekerja, namun Micheal berkata. "Aku hanya bekerja 6-8 jam, Sayang. Sementara kamu mengurus suamimu dan anak kita 24 jam. Pekerjaanku pasti libur di akhir pekan, sementara tugasmu sebagai istri dan ibu justru semakin bertambah di akhir pekan."
Zenwa semakin bersyukur karena Tuhan mengirimkan Micheal sebagai imamnya, dan ia juga harus berterima kasih pada mendiang sang kakak karena berkat dialah Zenwa dan Micheal memiliki kebahagiaan ini sekarang.
Saat ini, keduanya sedang berada dalam jet pribadi Daddy Gabriel, mereka melakukan penerbangan menuju desa Zenwa.
"Anak Papa, kapan bisa jalan, Nak? Nanti main kejar-kejaran sama Papa," ucap Micheal sembari memijit lutut anaknya itu yang ia tidurkan di pangkuan nya.
Sementara Zenwa sedang berada di toilet, dan tak berselang lama ia kembali yang membuat anaknya itu tampak kegirangan. Ia menendang-nendangkan kakinya ke udara dan tangannya pun seolah ingin menggapai sesuatu.
"Senang banget kalau Mamanya datang, hm." Micheal mencium dada dan leher anaknya itu yang membuat sang putra tertawa.
__ADS_1
"Apa dia rewel?" Tanya Zenwa sembari duduk di samping Micheal.
"Tidak, dia 'kan anak baik, jadi tidak akan rewel," kata Micheal yang masih terus mengajak putranya bercanda.
Mereka menikmati perjalanan itu dengan hati yang bahagia, apalagi sejak melahirkan Zenwa belum pernah pulang karena Micheal tak mengizinkannya dengan alasan bayi mereka masih terlalu kecil.
Tak berselang lama, pesawat mereka mendarat. Micheal dan Zenwa turun dari pesawat dan mereka di sambut oleh Daddy Gabriel dan Abi Hamka.
"Bagaiamana perjalanan si kecil ini, hm?" Tanya Daddy Gabriel sembari mengecup pipi tembem cucunya itu.
"Senang dong, Dad. Sepertinya dia suka jet pribadi mu itu, Dad. Mungkin bisa di jadikan hadiah ulang tahun nanti," tukas Micheal sekenanya yang membuat Zenwa melongo.
"Daddy tidak mau memanjakan anakmu dengan properties Daddy, dia harus memperjuangkan apa yang dia mau dan memiliki segalanya dengan usahanya sendiri," tutur sang ayah panjang lebar.
"Kamu mana faham tentang hal seperti itu, ibu dan ayahmu ada dua, tidak dapat dari satunya tinggal minta ke satunya." Micheal dan Zenwa tertawa mendengar apa yang di katakan Daddy Gabriel karena itu memang benar.
....
Zenwa pulang ke rumah orang tuanya dan ia di sambut dengan senang hati oleh umminya dan tentu juga Oma Opa nya yang kini semakin keriput saja namun mereka terlihat masih sangat sehat.
Dan dulu, Oma Opanya itu membelikan kalung, anting serta gelang emas untuk anak Zenwa karena katanya anaknya perempuan. Tapi karena anak itu laki-laki, mereka menyimpan emas itu dan kini mereka memberikannya pada Zenwa.
__ADS_1
"Tapi Tanvir tidak memakai emas, Oma," kata Zenwa.
"Kamu simpan saja, siapa tahu nanti kamu punya anak perempuan," jawab sang Oma yang kini menimang cicitnya itu.
"Matanya indah sekali," tukas Opa yang melihat mata biru Tanvir.
"Sama seperti mata mendiang eyangnya," sambung Micheal.
"Ma Shaa Allah, sungguh sangat indah. Semoga jiwamu seindah fisikmu, Sayang."
"Aamiin."
"Sebaiknya kalian masuk ke kamar dan beristirahat," tukas Ummi Zainab.
"Tapi nanti malam ke rumah, ya! Istriku mengundang kalian semua untuk makan malam," tukas Daddy Gabriel yang langsung di iyakan oleh mereka semua.
Tbc....
3 episode terakhir menuju end, jangan sampai di skip ya...
Btw, mampir juga ke beautiful Affair dan jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1