
"Maaf, Pak. Anda hanya bisa menemui Pak Micheal hanya jika sudah membuat janji."
"Tapi..."
"Tuan Arsyad?"
Arsyad langsung menoleh dan ia mendapati Akbar yang berjalan ke arahnya. "Pak Akbar, kamu ada di sini?" Tanya Arsyad.
"Iya, aku bekerja disini. Tuan Arsyad sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Akbar yang kini sudah berada di dekat Arsyad.
"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan pak Micheal tapi sayangnya aku belum membuat janji," jawab Arsyad.
"Pak Micheal? Aku sekretarisnya," ujar Akbar kemudian. "Aku akan mengaturkan pertemuanmu dengannya, kau bisa ikut aku, Tuan!"
"Benarkah? Alhamdulillah, terima kasih banyak, Akbar," ucap Arsyad senang yang di tanggapi akbar dengan senyum ramah.
Akbar membawa Arsyad ke lantai paling atas, dimana ruangan Micheal berada.
"Kebetulan saat ini pak Micheal sedak tidak ada pertemuan penting, jadi dia pasti bisa menemuimu," tukas Akbar.
"Tapi bagaimana kamu bisa menjadi sekretarisnya?" Tanya Arsyad kemudian.
__ADS_1
"Pak Micheal memang mencari sekretaris pria karena sekretaris akan banyak berinteraksi dengannya, jadi dengan begitu dia bilang akan aman dan tidak akan timbul fitnah setidaknya untuk dirinya sendiri," jawab Akbar yang membuat Arsyad terdiam, merasa sedikit tak percaya jika putra seorang Don mafia bisa begitu religious.
" Tunggu sebentar disini, aku akan memberi tahu pak Micheal dulu," ujar Akbar dan Arsyad pun mengangguk.
...
"Kamu sudah sarapan kan tadi pagi?" Tanya Micheal sembari mengerang lirih.
"Aku rasa aku sarapan di depanmu," jawab Zenwa sinis.
"Masalahnya, tenagamu lemah sekali. Ini tidak kerasa, Zenwa. Ayo, lebih keras lagi. Suamimu ini bekerja keras untuk menafkahimu," ujar Micheal yang membuat Zenwa mendengus.
"Kamu mau nafkah yang luar biasa?" Tanya Micheal masih dengan tatapan yang membuat Zenwa semakin curiga. "Baiklah, nanti malam." lanjutnya yang membuat Zenwa menganga, mengerti kemana arah pembicaraan Micheal.
"Kamu..."
Ucapan Zenwa terpotong saat terdengar suara ketukan pintu yang di susul dengan suara akbar. "Masuk!" Teriak Micheal. Akbar pun muncul dari balik pintu dan ia langsung menyunggingkan ramahnya pada Micheal dan Zenwa. "Ada apa, Akbar?"
"Maaf mengganggu, Pak. Di luar ada tuan Arsyad Ibrahim ingin bertemu denganmu," ucapnya yang membuat raut wajah Micheal langsung berubah.
"Siapa yang mengizinkannya? Bukannya dia belum membuat janji denganku?" Tanya Micheal yang terlihat kesal dan itu membuat Akbar terlihat bingung karena sebelumnya Micheal tak pernah terlihat kesal hanya karena seseorang ingin menemuinya tanpa janji.
__ADS_1
"Ma-maafkan saya, Pak. Tapi saya fikir itu penting," jawab Akbar.
"Mungkin dia mau minta maaf soal semalam," sambung Zenwa yang membuat Micheal kembali menoleh padanya. "Temui saja dulu, tidak baik juga kan kalau kamu menyimpan kekesalan seperti ini, kamu sendiri yang tidak tenang." lanjutnya.
"Baiklah, suruh dia masuk!" Titah Micheal yang membuat Akbar tersenyum lega.
"Baik, Pak," jawabnya kemudian ia segera keluar untuk memanggil Arsyad.
Saat Arsyad masuk, Micheal berdiri dari kursinya kemudian ia mempersilahkan Arsyad duduk di sofa, meskipun Micheal masih sangat kesal pada pria di depannya ini namun ia mencoba menahannya. Micheal dan Zenwa pun duduk di sofa yang lain. Sejenak, Arsyad melirik Zenwa namun kemudian ia segera mengalihkan tatapannya pada Micheal.
"Jadi, ada perlu apa kau datang kesini, Tuan Arsyad?" Tanya Micheal dengan dingin yang tentu saja membuat Arsyad merasa tidak nyaman.
"Saya datang kesini hanya untuk meminta maaf atas apa yang sudah saya katakan tadi malam, sungguh saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu..."
"Perasaanku tidak tersinggung, Tuan Arsyad. Tapi aku tidak terima apa yang kau katakan tentang ibuku, kamu tidak tahu apa yang dia lewati karena orang yang menurutmu di bunuh oleh ibuku. Kamu tidak tahu betapa bahayanya orang itu, bukan hanya padaku, keluargaku tapi juga pada orang lain," tegas Micheal yang tentu saja membuat Arsyad semakin merasa bersalah.
"Kau benar, karena itulah aku datang untuk meminta maaf secara langsung padamu," ucap Arsyad dengan tulus. Micheal menatap Zenwa dan Zenwa hanya menyunggingkan senyum padanya, seolah meminta Micheal menyudahi kemarahannya.
"Aku harap kau tidak mengulanginya lagi," ujar Micheal kemudian.
"In Shaa Allah," jawab Arsyad.
__ADS_1