
"Tanvir!!!"
Micheal berteriak memanggil nama anaknya itu dengan dada yang bergemuruh.
Saat ia sedang berada di ruang kerjanya, duduk di kursinya sambil menekan tombol-tombol laptopnya dengan kesal dan laptopnya itu tetap tak menyala.
"Tanvir, Papa memanggilmu! Kesini!" Teriak Micheal lagi dan tak berselang lama, pintu ruang kerjanya itu terbuka dengan sangat pelan, sosok makhluk kecil yang tampan berjalan dengan anggun menuju Micheal.
Bibirnya menyunggingkan senyum tak berdosa, mata birunya yang bulat itu menatap Micheal dengan sayu.
"Ada, Papa?" Tanya anak berusia 5 tahun itu dengan suara lembutnya.
"Kamu apain laptop Papa, hm?" Micheal bertanya dengan lembut. "Laptop Papa rusak loh." lanjutnya.
"Tanvir tidak merusaknya, Papa," jawab Tanvir, matanya tertuju pada segelas kopi yang ada di meja kerja sang ayah.
Tanpa ragu, Tanvir berjinjit, dan dengan susah payah ia mencoba menarik gelas itu. Sementara Micheal hanya memperhatikan anaknya tanpa membantunya, saat Tanvir mendapatkan gelasnya, ia meminum kopi itu satu tegur saja kemudian mengembalikan gelas itu ke meja ayahnya.
"Sudah?" Tanya Micheal dan Tanvir mengangguk masih dengan senyum di bibirnya.
"Okay, sekarang jawab pertanyaan Papa. Tanvir merusak laptop Papa? Lihat!" Micheal menggendong anaknya itu dan mendudukannya di pangkuannya. "Mati." Micheal mencoba menyalakan laptopnya dan memang tidak menyala.
"Mungkin sudah sampai ke ajalnya, Papa. Makanya mati," jawab Tanvir dengan polosnya yang membuat Micheal langsung mengelus dada sambil mengucapkan istighfar.
__ADS_1
"Sayang, laptop itu tidak ada ajalnya. Dia akan mati kalau rusak, dan tidak akan rusak kecuali salah dalam penggunaannya," tukas Micheal dengan hati-hati. "Nah, tadi 'kan Tanvir mainin laptop Papa, Tanvir apain laptopnya?" Tanya Micheal.
"Papa, Tanvir masih kecil, tidak tahu soal laptop," jawab Tanvir. "Tanya sama Mama saja, Mama sudah dewasa dan pasti tahu." lanjutnya.
"Tapi tadi Tanvir main laptopnya tidak sama Mama, 'kan? Jadi, Tanvir apain, hm?"
Bukannya menjawab, putra Micheal dan Zenwa itu justru melompat dari pangkuan sang ayah. "Tadi, Tanvir cuma pencet-pencet dan setelah itu, pusshhh, mati," ucapnya bahkan masih tersenyum manis.
"Ya Allah, Nak," gumam Micheal antara kesal dan gemas. "Papa sedang mengerjakan proyek yang penting, Sayang." lanjutnya dengan raut wajah lemas, dan bukannya merasa bersalah, Tanvir justru menepuk-nepuk paha ayahnya itu dan berkata.
"Sabar, Papa. Kata Mama, orang sabar itu di sayang Allah dan nanti masuk surga."
Mendengar itu tentu Micheal langsung lemas, entah berapa level kesabaran yang ia miliki menghadapi anaknya yang berusia 5 tahun ini. Dari kesal, gemas, bahkan terkadang Micheal ingin meneriakinya namun kemudian ia teringat, anaknya ini hanyalah anak-anak yang sedang tumbuh dan sedang belajar.
Tanvir tertawa cekikikan, apalagi saat sang Ayah berlari keluar dari ruang kerjanya, menuruni tangga dan menemui sang Mama yang saat ini sedang menata bunga di ruang tengah.
"Mama...." teriak Tanvir, Micheal menurunkan anaknya. "Mama, apakah adiknya sudah jadi?" Tanya Tanvir yang membuat Zenwa meringis, ia berlutut, hingga wajahnya sejajar dengan wajah anaknya itu.
"Belum, Sayang. Sabar ya..." ucap Zenwa lembut dan seketika anaknya itu cemberut.
"Kenapa lama sekali cuma bikin adik, Mama? Apa Tanvir bantu saja? Biar cepat jadi, semua teman Tanvir sudah punya adik," ucap anak itu merengut.
Sementara Micheal justru tertawa, putranya itu akan membantu buat adik? Yang benar saja.
__ADS_1
"Sayang, nanti dulu ya. Buat adik itu tidak mudah, harus sabar dulu. Terus, tidak bisa di bantu juga. Cuma Mama dan Papa yang bisa," ucap Zenwa
"Kalau begitu, ayo buat adik sekarang!" rengek Tanvir sambil menarik baju mamanya itu. Lagi-lagi Micheal hanya tertawa menyaksikan hal itu.
"Ya sudah, ajak Papa sana! Belanja mainan!"
Tanvir, anak berusia 5 tahun yang cukup cerdas. Sejak beberapa bulan terkahir, ia terus meminta adik karena tetangganya sekaligus teman bermainnya sudah punya adik.
Dan hampir setiap hari ia akan meminta adiknya pada orang tuanya.
Zenwa akan selalu meminta anaknya itu bersabar, dengan di imingi-imingi masuk surga dan di sayang Tuhan.
Selain hobi minta adik, Tanvir juga hobi sekali mainin laptop ayahnya. Dan untuk ketiga kalinya, ia merusak laptop sang ayah.
"Sekarang Tanvir main saja ya, Nak," kata Zenwa dengan lembut, dan anaknya itu mengangguk kemudian berlari mengambil mainannya.
"Laptopku di rusak lagi sama dia, Sayang." keluh Micheal sambil memperhatikan anaknya yang kini menyusun puzzle di lantai.
"Sudah aku bilang kunci ruang kerjamu, Pa."
"Sudah aku kunci, tapi ... tapi kuncinya ketinggalan, masih menggantung, hehe."
"Ya sudah, jadi salah siapa?" Micheal tertawa mendengar pertanyaan istrinya itu, dan ia pun menceritakan tentang apa yang di katakan Tanvir tadi saat di ruang kerjanya yang membuat Zenwa tertawa geli.
__ADS_1