
Selang beberapa saat setelah Jibril keluar dari kamar Aira, Aira justru terbangun dari tidurnya. Ia menguap sembari menggeliat malas, dan saat memperhatikan sekitarnya, Aira hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Aira kan sudah besar, seharusnya di bangunin, bukan di gendong ke kamar," gumam Aira. Ia pun segera melepas Jilbabnya sementara cadarnya sudah di lepas oleh Jibril sejak tadi.
Masih sambil menguap, Aira berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan setelah itu ia keluar dari kamar karena cacing di perutnya sudah demo ingin di beri makan.
Saat menuruni tangga, Aira mendengar kakaknya sedang berbicara di telfon dan kakaknya itu mengucapkan sesuatu yang membuat Aira mengernyitkan dahi.
"Ikan sudah siap di meja makan dan siap di hidangkan untuk makan malam, Uncle."
"Ikan lagi?" Aira menggumam dengan kening yang semakin berkerut dalam. "Tadi siang makan ikan, masak malam ini Bi Eni masak ikan lagi? Ikan apa yang Bi Eni masak sekarang?" ia menggumam sembari berjalan menuju dapur, dia tak sabar ingin melihat ikan apalagi yang di masak Bi Eni malam ini.
Namun saat ia sudah berada di pintu dapur, Aira sangat terkejut melihat pria yang tertabrak tadi itu menyiramkan teh pada ayahnya dan hanya berselang beberapa detik kemudian pria itu mengambil sebilah pisau, tanpa fikir panjang Aira mengambil anak panah yang ada di atas kursi bulat di dekat pintu masuk dan sebenarnya anak anak panah yang berukuran mungil itu hanya pajangan walaupun ujungnya memang tajam.
Aira melemparkan anak panah itu ke paha Javeed sehingga serangan Javeed pada Daddy Gabriel bisa di gagalkan.
"Aggghh...." geram Javeed sambil memegang pahanya yang seperti di robek, Daddy Gabriel terkejut dengan hal itu dan ia langsung menatap Aira yang berdiri di ambang pintu tanpa jilbab, rambutnya di cepol asal dan sedikit berantakan di sekitar wajahnya.
"Aira...!" teriak Daddy Gabriel dan ia segera menghampiri Aira yang justru berjalan masuk dan ia mendekati Javeed. "Aira! Kembali ke kamarmu!" Perintah Daddy Gabriel dan ia langsung menyeret putrinya itu menjauh dari Javeed
__ADS_1
Javeed menatap Aira tanpa berkedip sedikitpun, bahkan ia menahan napas apalagi saat ia menatap mata Aira yang begitu tajam, seperti sihir yang berhasil menyihir jiwanya.
"Dia seperti bidadari..." hati Javeed berseru kagum, bahkan rasa sakit di pahanya karena anak panah itu seolah lenyap seketika.
"Dad, ada apa?" Tanya Jibril yang menyusul ke dapur dengan buru-buru.
"Bawa adikmu ke kamar, Jibril!" Perintah Daddy Gabriel.
"Tapi ada apa?" Tanya Jibril bingung.
"Pria itu ingin melukai Abi, Kak," kata Aira dengan cemas.
"Ke kamar, ya!" tanpa menjawab ucapan ayahnya, Aira langsung berlari terbirit-birit ke kamarnya, seolah ia baru saja melihat hantu.
"Dad, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Jibril yang masih penasaran.
"Kamu buka pintu sana, sebentar lagi polisi akan datang!" ujar Daddy Gabriel tanpa peduli pada pertanyaan putranya itu. Sementara Jibril pun hanya bisa menuruti perintah sang ayah dengan rasa penasaran yang begitu menggelora dalam jiwanya.
Daddy Gabriel kembali ke dapur dan ia mendapati Javeed sedang menarik anak panah dari pahanya sambil meringis namun bibirnya tersenyum misterius.
__ADS_1
Daddy Gabriel langsung mengeluarkan senjata yang ia simpan di balik celananya kemudian ia menodongkannya pada Javeed, sebagai antisipasi jika Javeed kembali mencoba melawannya.
"Semakin banyak perlawananmu, semakin berat hukumanmu!" Desis Gabriel tajam.
"Apa yang tadi itu putrimu?" Tanya Javeed tiba-tiba yang membuat Daddy Gabriel merasa heran apalagi sudut bibir Javeed terangkat, membentuk sebuah senyum simpul. "Padahal dia targetku tapi kenapa malah dia yang memanahku? Buruan yang memanah si pemburu!"
Tbc....
Konflik terkahir neh, habis ini happy happy kok.
Nah, sambil nunggu mereka happy happy, mari kita mampir kesini sebentar. Cerita di jamin seru kok.
Judul : Terjebak Cinta Duda Arogan
Penulis :Morata
Yuk, segera mampir, hanya ada di dalam ceritaku neh.
__ADS_1