
Zenwa dan seluruh keluarganya pergi ke rumah mertuanya untuk makan malam, selain itu Zenwa dan Micheal berencana akan menginap disana malam ini karena mereka pun juga pasti ingin tinggal bersama si kecil Tanvir.
Semua orang berkumpul di lantai, menikmati masakan Mom Firda dan Ummi Aisyah yang sangat lezat, dan disana juga ada ikan bakar khas Ummi Aisyah kesukaan Gabriel.
"Dulu, ikan bakar ini adalah masakan pertama Ummi yang Daddy makan, dan sejak saat itu Daddy jadi suka ikan bakar," tukas Daddy Gabriel sembari mengingat masa mudanya dulu, saat ia bersembunyi di desa, bertemu Firda, pergi ke pasar, dan di undang untuk makan siang.
"Kalau di fikir-fikir, Takdir itu benar-benar ajaib, tidak bisa di tebak, dan sungguh kejutan," sambung Micheal. "Bayangkan saja, Daddy, orang kota, seorang Don Mafia, bisa menikah sama Mom Firda, gadis desa, cucu kiai lagi. Seperti langit dan bumi, surga dan neraka." lanjutnya yang membuat semua orang terkekeh, bedah halnya dengan Daddy Gabriel yang langsung menabok pipi anaknya itu.
"Surga dan neraka kamu bilang? Kejam sekali," gerutunya.
"Ya maksudku karena perbedaannya sangat jauh, Dad." Micheal berkata sambil cemberut, entah kenapa ayahnya itu tidak pernah setuju dengan pernyataannya padahal Micheal merasa apa yang di katakannya tidak pernah salah.
"Takdir kita juga kejutan, Sayang," sambung Zenwa. "Semua orang mengira kamu akan menikah dengan mendiang Kak Arin, bahkan aku mendukung hal itu. Tapi skenario Tuhan ternyata sangat berbeda." lanjutnya, dan ia teringat saat Arini pingsan di malam pernikahan Zenwa, saat itulah semuanya terkuak.
"Iya sih, mimpi, harapan dan cita-citaku juga sangat berbeda dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Karena ternyata, takdir hidupku jauh lebih indah dari yang aku rencanakan," tukas Micheal sembari menggenggam tangan Zenwa, menatapnya penuh cinta.
__ADS_1
"Sudah ... sudah! Jangan kasmaran disini!" Seru Daddy Gabriel yang membuat Zenwa langsung tersipu malu.
Mereka semua pun makan malam sambil terus mengobrol banyak hal, mengulik semua cerita di masa lalu, dan berakhir dengan canda tawa.
Setelah makan-makan, mereka menghabiskan waktu di ruang tamu sembari menikmati cemilan yang di buat Ummi Aisyah.
Canda tawa mengisi malam mereka, hingga akhirnya Micheal mengajak Zenwa untuk tidur karena meraka ingin ziarah ke makam Arini besok pagi.
.........
"Papa sama Mama pergi sebentar, ya. Jangan nakal," tukas Zenwa sembari memasang kaos kaki putranya itu.
"Sudah?" Tanya Micheal yang sudah siap.
"Sudah," jawab Zenwa. "Kami pergi dulu ya, Mom. Titip Tanvir," ucap Zenwa pada ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Iya, jangan khawatir," jawab Mom Firda sambil tersenyum.
...... ...
Micheal memimpin jalannya do'a saat ziarah, dan saat ia menatap batu nisan yang bertuliskan nama sang cinta pertama, hati Micheal seperti sedikit sesak. Masih ada cinta dan rindu di hatinya untuk mendiang Arini, namun tentu cinta itu tertutupi oleh cinta pada makmumnya, istrinya, yang ia harap juga akan mejadi bidadari surganya.
Setelah selesai berdo'a di makam Arini, Zenwa dan Micheal pun bergegas pulang, mereka bergandengan tangan meninggalkan area pemakaman sambil tersenyum.
"Apa menurutmu Kak Arini benar-benar memaafkanku? Aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan saat itu," ucap Zenwa yang kini menyenderkankan kepalanya di pundak sang suami, dan Micheal pun merangkul pundak istrinya sambil melangkah bersama.
"Tentu saja, dia sangat mencintaimu dan seseorang yang mencintai orang lain maka tidak akan punya kebencian walau sedikit saja. Hanya akan cinta dan cinta," kata Micheal.
"Dia juga sangat mencintaimu, Sayang."
"Yeah, karena itulah dia memberikan makmum terbaik untukku."
__ADS_1
"Dan memberikan imam terbaik untukku."
...TAMAT ...