
"Jadi, kegiatanmu apa saja? Masih mengurus kuda-kudamu itu?" Arsyad bertanya sembari menikmati hidangan makan di restaurantnya.
"Masih, Kak. Seperti biasa," jawab Javeed yang juga menikmati makan siangnya dengan sangat lahap.
"Baguslah, semoga kamu sukses dengan kuda-kudamumu itu," Arsyad berkata sambil terkekeh. "Oh ya, bagaimana keadaan Tante Raisa? Dia sehat, kan?"
Javeed dan dirinya bertemu beberapa tahun yang lalu, saat itu Raisa, yang merupakan Mama dari Javeed mengalami kecelakaan, kebetulan Arsyad dan Umminya ada disana, mereka yang membawa Raisa ke rumah sakit, bahkan Arsyad juga yang menanggung sebagian besar biaya rumah sakit Raisa. Kejadian itu tidak akan pernah Javeed lupakan, keduanya pun begitu dekat, bahkan Javeed juga membantu Arsyad saat mendokor restaurant, sekolah, maupun urusan yang lain. Karena kedekatan itu, Javeed menganggap Arsyad sebagai kakaknya sendiri begitu juga Arsyad yang menganggap Javeed sebagai adiknya.
"Mama baik, Kak. Cuma ya seperti biasa, sejak kecelakaan itu, Mommy jadi lebih sering sakit," jawab Javeed.
"Bawa dia liburan sesekali, Jav. Mungkin dia sumpek," kata Arsyad memberi saran.
"tadinya aku mau bawa dia ke Pakistan, Kak. Mungkin dengan begitu dia senang dan bisa mengenang masa-masa kebersamaannya dengan dady."
"Itu ide bagus, mungkin dengan berlibur ke negara asal ayahmu, Tante Raisa bisa merasa lebih baik."
"Itu juga yang aku fikirkan, Kak. Sekarang aku hanya sedang mencari waktu yang tepat."
"kabari aku kalau kalian mau pergi, mungkin aku bisa mengajak Ummi berlibur juga."
"Itu ide yang bagus."
__ADS_1
.........
"Aku sudah curiga, ada yang aneh," kata Zach yang saat ini sedang mencari tahu simbol yang katanya milik kelompok Mafia luar negeri itu.
Zach bahkan meminta bantuan Kakeknya, Eduardo, untuk mencari itu.
"simbol itu palu, Zach. Sepertinya seseorang dengan sengaja ingin mengoceh perhatian kalian, ingin memberikan petunjuk yang salah."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, gandpa?" tanya Zach sembari melirik Micheal yang saat ini sedang memperhatikan simbol itu.
"Minta bantuan Daddymu, Zach. Mungkin dia tahu," sarannya yang membuat Zach menghela napas lesu.
"Aku rasa aku tahu dimana kita bisa mendapatkan bukti," kata Micheal tiba-tiba.
"Bagaiamana?" Tanya Zach dengan antusias.
Sementara Micheal memutar kembali rekaman cctv di sekitar tempat kejadian, ia terus memutarnya berulang kali. "ada beberapa orang yang juga memegang kamera disana, lihat! dia salah satunya!" Micheal menunjuk seorang remaja yang memegang kamera dan gadis remaja itu cukup dekat dengan Zenwa.
"Baiklah, jadi kita harus mencari tahu siapa gadis ini," kata Zach dengan semangat.
...
__ADS_1
"Daddy tidak akan kembali ke Jakarta?" tanya Jibril yang saat ini melihat ayahnya terlihat sibuk dengan laptopnya. Meskipun kini ia berada di sana, namun itu bukan berarti daddy Gabriel akan berhenti mencari tahu siapa yang mengusik keluarganya.
"Iya, nanti. Kalau Oma sudah lebih baik," jawab Daddy Gabriel.
"Aku ikut ya, dad," ujar Jibril yang membuat ayahnya itu langsung mendongak.
"Tidak!" jawabnya kemudian yang membuat Jibril justru tersenyum samar.
"Aku hanya ingin bertemu dengan kak Mikail, Dad."
"Daddy rasa disana sedang tidak aman, Jibril. Ini juga demi keamanan kalian." tegasnya.
"Aira juga mau ikut...." Aira datang menyambung, membuat ayahnya itu menghela napas lesu.
"Memangnya kalian mau apa disana? lebih baik jagain oma di sini!"
"Kami juga ingin menjenguk kakak ipar," jawab Aira sambil melemparkan tatapan memelasnya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar ya!"
Tbc....
__ADS_1