
Sebelum pergi ke kantornya, Micheal menyempatkan diri mengantar Zenwa ke sekolah, apalagi ini hari pertama Zenwa mengajar dan sang istri terterlihat sangat bersemangat yang membuat Micheal juga merasa senang.
"Nanti biar sopir yang menjemput kamu, karena sepertinya hari ini aku akan sibuk," ujar Micheal sebelum Zenwa turun dari mobil.
"Iya, tidak apa. Terima kasih banyak," ucap Zenwa sambil tersenyum manis, Micheal hanya menanggapinya dengan senyum, ia memperhatikan Zenwa yang kini memasuki sekolah itu, terlihat seorang guru wanita yang menyapa Zenwa dengan ramah, kemudian mereka terlihat membicarakan sesuatu yang sepertinya menyenangkan karena Zenwa terlihat senang.
Puas memandangi sang istri, Micheal kembali melajukan mobilnya menuju kantornya. Saat sedang fokus menyetir, tanpa sengaja Micheal melihat seseorang yang sekilas sangat mirip dengan Arini, Micheal bahkan langsung menginjak rem demi melihat orang itu. Micheal memandangi orang itu kemudian ia tersenyum tipis.
"Aku harap kamu merestui hubungan kami, Arin. Aku memang belum bisa menyingkirkan namamu dari hatiku, tapi Zenwa berhasil melukis namanya di tempat khusus dihatiku. Aku mulai takut kehilangannya dan aku mulai merasakan cemburu yang benar-benar menggelitik hati dan jiwaku."
...... ...
"Bagaiamana? Apa kuda-kuda itu tidak ada yang menarik perhatianmu?" Tanya seorang pria yang saat ini sedang menawarkan kudanya pada pembeli.
"Aku sangat menginginkan kuda putih, anakku sangat menyukai kuda putih," jawab si pembeli.
"Aku akan mendapatkan kuda putih itu besok, tapi harganya dua kali lipat dari harga normal, bagaimana?" Tawar pria itu sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah, aku bahkan bersedia membayar 3x lipat," jawab si pembeli dengan percaya diri yang membuat pria itu tersenyum puas. "Aku akan datang besok, pastikan kudanya sudah ada!"
"Tentu..." keduanya bersalaman sebelum akhirnya si pembeli meninggalkan pria itu.
"Mau sampai kapan kamu akan terus memeras orang seperti itu, Javeed?" pria itu menoleh saat mendengar suara parau sang ibu yang mendekatinya.
"Mom, bukankah aku sudah memintamu untuk beristirahat? Kenapa kesini?" Tanya Javeed dan ia hendak membawa Mamanya pergi dari kandang kudanya itu. Mamanya itu tampak sangat lemah, wajahnya pucat, dan ia terus terbatuk-batuk, seolah tenggorokannya sangat gatal.
"Jav, kenapa kamu selalu meminta harga berlipat pada orang yang mencari kuda seperti itu?" Tanya sang Mama lagi.
"Ekonomi kita sudah sangat stabil, apalagi yang kamu mau?" Tanya sang mama dengan suara yang begitu serak.
"Aku mau kehidupan kita seperti dulu, Mom. Sebelum kau bangkrut!" Tegas Javeed.
Pernah menipu sekali membuat ia ketagihan dengan hasilnya, Javeed masih ingat dengan sangat jelas saat ia menjual kudanya yang masih kecil dengan harga selangit, orang-orang kaya yang terdesak akan memebeli kuda itu dengan harga berapapun dan itu sangat menguntungkan Javeed. Javeed juga teringat pada siapa kuda itu terjual, dan dari sana lah ia punya modal untuk berbinis jual beli kuda yang ia tekuni hingga sekarang.
Apa yang ia lakukan memang selalu di tentang oleh ibunya, namun Javeed tak perduli, ia hanya ingin kehidupannya lebih baik setelah mamanya kehilangan seluruh hartanya entah untuk apa, Javeed tidak mengerti. Ia juga masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada ayahnya, karena yang ia tahu, ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan, Javeed sudah mencerita tahu tentang hal itu namun seolah ada yang di sembunyikan oleh mamanya.
__ADS_1
...
Hari pertama Zenwa mengajar berjalan dengan sangat lancar, murid-muridnya juga bisa langsung menerima Zenwa bahkan bisa langsung akrab dengan Zenwa karena Zenwa sangat tahu cara mengambil hati anak-anak.
Setelah selesai mengajar, Zenwa kembali ke ruang guru dan ia di temui oleh Arsyad. "Bagaiamana, Bu Zenwa? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Arsyad.
"Iya, Pak. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, anak-anak juga sepertinya bisa menerima keberadaanku," jawab Zenwa.
"Alhamdulillah, oh ya, saya kesini ingin menyampaikan sesuatu," tukas Arsyad kemudian. "Sebenarnya, minggu depan kami akan mengadakan tour, apa Bu Zenwa bersedia ikut?" Tanya Arsyad.
"Tour?" Tanya Zenwa dan Arsyad mengangguk. "Sebenarnya ini sudah di rencanakan sejak sebulan yang lalu, aku harap kau bisa ikut."
"Aku harus bertanya pada suamiku dulu, Pak," jawab Zenwa dan Arsyad mengangguk mengerti. Kemudian ia meninggalkan ruang guru itu sambil meringis.
"Ya Allah, bodohnya aku yang begitu antusias mengajak dia sampai lupa dia sudah punya suami."
Tbc...
__ADS_1