Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 69


__ADS_3

"Jadi pria itu yang membunuh ayahku?" Javeed menggeram marah saat mendengar cerita dari ibunya, ia sudah curiga ada yang ibunya sembunyikan selama ini tentang kematian ayahnya.


"Semua itu sudah selesai, Jav. Hanya masa lalu," ucap sang ibu namun Javeed menggeleng dengan tatapan yang penuh amarah.


"Dia merebut Daddy, Mom. Bagaimana bisa kau mengatakan semuanya sudah selesai? Masa lalu? Aku kehilangan sosok ayah, aku tidak pernah melihat ayah, kenapa kau biarkan semua ini terjadi padaku, Mon?"


"Javeed, Mom juga tidak mau semua ini terjadi pada kita, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak akan pernah mengembalikan orang yang sudah mati, Jav."


"Lalu kenapa kau berhenti menuntut balas, Mom?"


"Karena itu percuma! Mom sudah merencanakan balas dendam yang sempurna, tapi apa yang Mom dapatkan? Hanya menambah masalah, menambah musuh," tukas sang ibu dengan lantang. "Lebih baik kamu bakar buku itu, berhenti menengok ke belakang dan fokus ke masa depan, kamu masih muda, Javeed. Masa depan kamu masih panjang, sebaiknya jalani hidup yang baik."


Javeed hanya menatap ibunya itu dengan nanar, meskipun bibirnya bungkam namun tatapannya tak bisa menyembunyikan amarah yang tersulut dalam jiwanya. Javeed meninggalkan ibunya itu sambil melempar buku itu ke dinding, membuat sang ibu terkesiap, ia mengelus dadanya yang berdebar melihat kelakuan kasar sang putra.


.........


Zenwa mengerang lirih dalam tidurnya sebelum akhirnya ia membuka matanya yang masih terasa berat, saat Zenwa hendak bangun, pergerakannya terhenti karena ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


Mata Zenwa langsung terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang saat mengingat bahwa kini ia tidur dalam pelukan suaminya.


"Hey...." Zenwa menepuk tangan Micheal, namun suaminya itu hanya menggumam tidak jelas. "Ayo bangun," kata Zenwa sembari berusaha menyingkirkan tangan Micheal namun Micheal justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayo bangun, sebentar lagi subuh," ujar Zenwa dan kembali ia menepuk lengan Micheal.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Sayang. Aku masih ngantuk," rengek Micheal.


"Ya sudah, silakan saja tidur, aku mau sholat!" Tegas Zenwa dan ia melepaskan diri dari Micheal dengan kasar.


"Astagfirullah, Sayang. Kasar sekali," rengek Micheal sambil mengucek matanya.


Zenwa tak menanggapi ucapan Micheal, ia berlalu menuju kamar mandi sambil mengulum senyum di bibirnya, Zenwa memang dadanya yang berdebar.


"Ya Allah, ini hanya pelukan," gumamnya.


...


"Aku yang akan memberi tahu pak Arsyad kalau kamu akan ikut tour," ujar Micheal sebelum Zenwa turun dari mobilnya.


"Hem," jawab Micheal.


Keduanya pun turun bersama dari mobil kemudian Micheal dan Zenwa menemui Arsyad di ruangannya.


Arsyad tampak terkejut melihat kedatangan Micheal. "Maaf jika saya menganggu," kata Micheal sembari duduk di kursi tanpa di persilahkan oleh Arsyad.


"Tidak apa-apa, Pak Micheal. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arsyad.


"Aku kesini mau memberi tahu kalau Zenwa akan ikut tour, jadi dimana formulirnya?" Arsyad menganga mendengar apa yang di katakan Micheal, sementara Zenwa hanya bisa meringis tanpa bisa melakukan apapun karena sejak dari rumah, Micheal sudah me wanti-wanti dirinya agar diam dan membiarkan Micheal yang berbicara.

__ADS_1


"Baik, Pak. Ini formulirnya." Arsyad memberikan lembar formulir pada Micheal namun matanya melirik pada Zenwa.


Micheal langsung mengisi formulir itu dengan lengkap. "Apa tidak bisa jika saya juga ikut?" Tanya Micheal kemudian.


"Yang ikut hanya murid beserta walinya dan juga para guru, Pak," jawan Arsyad.


"Baiklah," jawab Micheal pasrah.


Setelah mengisi formulirnya, ia pun beranjak dari kursinya. "Kalau begitu, aku ke kantor dulu." Micheal berkata pada Zenwa yang sejak tadi berdiri di sampingnya, Zenwa hanya mengangguk. "Pulangnya aku jemput, telfon saja kalau sudah selesai."


"Iya," jawabnya sambil tersenyum dan tiba-tiba Micheal menyodorkan tangannya pada Zenwa, membuat Zenwa bingung. "Apa?" Tanyanya.


"Sallim sama suami, Sayang."


"Eh?"


Zenwa sedikit terkejut namun kemudian ia pun sallim dengan suaminya itu. "Baiklah, aku pergi dulu," ucap Micheal sebelum akhirnya mendaratkan kecupan singkat di pelipis Zenwa, yang membuat kedua bola mata Zenwa langsung melotot sempurna dan jantungnya langsung kembali berdebar.


Arsyad yang melihat hal itu hanya bisa mengalihkan pandangannya, merasa iri dengan kemesraan sepasang suami istri yang tampak sangat serasi itu.


"Maaf ya, Pak Arsyad," kata Zenwa setelah Micheal meninggalkan ruangan itu.


"Tidak apa-apa, Bu Zenwa. Kau beruntung sekali memiliki suami seperti pak Micheal, beliu terlihat sangat mencintaimu," kata Arsyad yang membuat Zenwa hanya tersenyum tipis. Mengingat bahwa cinta Micheal mungkin masih untuk Arini.

__ADS_1


"Iya," jawab Zenwa akhirnya. "semoga dia segera mencintai?"


__ADS_2