
"Senang ya, Nyonya? Hari ini Tuan Micheal pulang?" Tanya Bi Eni pada Zenwa yang saat ini sedang sedang menunggu Micheal pulang. Mereka berdiri di depan pintu dan terus menatap gerbang di depan sana.
Akhirnya, setelah dua hari berpisah, mereka akan bertemu lagi. Sedikit berlebihan memang, tapi sesungguhnya Zenwa juga sangat merindukan sang suami.
Selama dua malam ini ia tidur tanpa pelukan Micheal, tanpa ciuman selamat malamnya, bahkan ia juga merindukan suara Micheal ketika merengek manja secara langsung.
"Senang dong, Bi. Papanya bayi akan datang," jawab Zenwa sambil mengelus perutnya yang besar itu.
Zenwa sungguh tidak sabar menunggu kapan ia akan melahirkan, tidak sabar untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.
Tak lama kemudian sebuah mobil datang, Zenwa langsung berlari karena ia tahu itu pasti suaminya. Bi Eni berteriak agar Zenwa tak berlari namun Zenwa tak memperdulikan hal itu.
Mobil berhenti dan Micheal langsung keluar dari mobil, ia pun juga berlari sambil meminta Zenwa agar berhenti berlari.
"Sayang, jangan lari. Nanti bayinya tergoncang!" seru Micheal dan akhirnya kini keduanya bertemu, saling pandang, saling melempar senyum dan akhirnya mereka saling berpelukan, melepas rindu yang tertahan selama dua hari ini.
__ADS_1
Akbar yang ikut bersama Micheal kini turun dari mobil, dan ia hanya bisa menahan senyum melihat sepasang suami istri itu yang benar-benar seperti tak bisa lepas satu sama lain.
"Sayang, aku kangen," rengek Micheal sembari menghirup aroma sang istri yang sangat ia rindukan itu.
"Aku juga rindu, Sayang." Zenwa berkata sembari mengusap punggung Micheal naik turun. Keduanya berpelukan selama beberapa saat, saling menghirup aroma tubuh yang sangat mereka rindukan, bahkan Micheal beberapa kali mencium seluruh wajah Zenwa yang membuat Zenwa terkikik.
Dan di saat yang bersamaan, Zenwa merasakan anak dalam perutnya itu menendang.
"Sayang, sepertinya dia juga merindukanmu," kata Zenwa antusias dan ia langsung menarik tangan Micheal, membawanya ke perutnya dan benar saja, anak itu kembali menendang yang membuat Micheal langsung terlihat sangat bahagia.
Micheal berlutut, sambil tersenyum ia mengecup perut sang istri. "Assalamualaikum, Nak. Kamu nyapa Papa ya?" Tanya Micheal sambil tertawa kecil.
"Pasti kangen ya sama Papa? Papa juga kangen sekali sama kamu, Sayang." lanjutnya.
"Memang bisa merindukan bayi yang masih dalam kandungan, Pak?" Tanya Akbar yang kini sudah berdiri di samping Micheal. "Kan belum pernah bertemu, Pak. Belum ada wujudnya." lanjut Akbar yang membuat Micheal mendelik.
__ADS_1
"Rindu antara seorang ayah dan anak itu akan terasa tanpa harus melihat wujudnya, Akbar. Makanya kamu itu menikah! Mau sampai kapan menjomblo?" Tanya Micheal sembari berdiri tegak, kemudian ia merangkul Zenwa dan membawanya masuk ke rumah. Akbar pun mengikutinya dari belakang dengan membawa barang-barang Micheal.
"Saya jomblo fi sabilillah, Pak," balas Akbar yang membuat Micheal terkekeh.
"Jomblo fi sabilillah yang bagaimana? Kalau kamu tidak ada usaha untuk menemukan jodohmu, jangan kau bilang itu jomblo fi sabilillah. Jodohmu tidak akan datang mengetuk pintu rumahmu, kemudian berkata 'Assalamualaikum, Akbar. Aku jodohmu'. Itu tidak mungkin terjadi,"tukas Micheal panjang lebar yang membuat Zenwa dan Bi Eni terkekeh, sementara Akbar hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.
"Hem memangnya, Pak Micheal memperjuangkan Bu Zenwa seperti apa?" Tanya Akbar kemudian.
Kini mereka sudah sampai di ruang tamu, Bi Eni mempersilahkan Akbar duduk di sofa.
"Bukan perjuanganku sih, tapi perjuangan kami," kata Micheal sambil menatap istrinya itu penuh cinta. "Kami berjuang sebaik mungkin agar kami bisa menuliskan kisah cinta kami sendiri, itu sangat tidak mudah tapi karena kami sama-sama berjuang, kami mampu melakukannya lebh baik dari yang kamu harapkan."
***Tbc...
Ramakan dong novel ini, kakak-kakak. Masih sepi banget 😢***
__ADS_1