
Selama beberapa jam Micheal dan yang lainnya menunggu kabar dari Dokter dengan harap-harap cemas, meskipun dari kondisi Zenwa sudah bisa mereka tebak apa yang akan di katakan Dokter, namun mereka tetap berharap ada keajaiban, ada kabar baik.
"Pasien kehilangan banyak darah, lukanya selain dalam juga lebar, sangat lebar, seperti seseorang yang sengaja merobeknya, apalagi terdapat dua robekan di perutnya." Micheal dan yang lainnya semakin lemas saat mendengar apa yang di katakan Dokter pada mereka, sungguh kabar buruk yang tak pernah mereka inginkan.
"Tapi putriku akan baik-baik saja kan, Dok?" Ummi Zainab bertanya dengan suara bergetar, matanya sudah sembab karena terus menangis tanpa henti.
"Kita berdo'a saja ya, Bu. Semoga pasien bisa melewati masa kritisnya," jawab Dokter itu yang tak sedikitpun memberikan ketenangan pada Ummi Zainab.
"In Sha Allah Zenwa akan baik-baik saja, Mbak. Dia wanita yang kuat," ucap Mommy Firda sembari mengusap pundak besannya itu.
"Tapi hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya pada Zenwaku, Ning Firda. Bagaimana kalau Zenwa tidak baik-baik saja? Bagaimana kalau dia pergi seperti Arin?"
"Husshh, jangan bicara begitu, Mbak. Istighfar!" kata Mommy Firda dengan cepat dan tangis Ummi Zainab pun kembali pecah.
Micheal yang sejak tadi hanya duduk bak patung kini berdiri dan ia menghampiri ibu mertuanya itu, Micheal memeluknya, berusaha menenangkannya walaupun ia sendiri merasa begitu hancur, bingung, takut dan cemas.
"Zenwa akan baik-baik saja, Ummi," kata Micheal dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa orang itu melukai Zenwa, Micheal? Apa salah Zenwa? Zenwa tidak pernah jahat pada siapapun, kenapa?"
Lidah Micheal terasa kelu, tentu ia tidak bisa menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu, karena jawabannya cuma satu, yaitu karena Zenwa telah menjadi bagian dari keluarga Emerson.
.........
Hari telah berganti malam, terang berganti gelap, Daddy Gabriel dan yang lainnya masih berusaha mencari tahu siapa pelaku. Namun sejauh ini, yang mereka temukan hanya pisau yang berlumuran darah.
Pencarian masih terus berlanjut, dan mereka menemukan jaket kulit disana. Tak ada petunjuk apapun di jaket itu, namun mereka tetap mengumpulkan semua barang yang sekiranya bisa jadi bukti. Orang-orang yang ada disana juga di periksa satu persatu , di mintai keterangan sedetail mungkin namun mereka masih tidak menemukan petunjuk siapa pelakunya.
.........
Kaki Micheal melangkah gontai mendekati sang istri yang saat ini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Micheal tak bisa membayangkan rasa sakit yang di alami istrinya itu, apalagi saat mengingat kata dokter, luka itu bukan hanya dalam tapi juga lebar dan Zenwa di tusuk dua kali.
"Sayang...." Micheal berbisik lirih di telinga sang istri yang masih setia memejamkan mata. "Kamu tahan sakitnya sebentar, ya. Pasti nanti sembuh kok." lanjutnya, seolah membujuk Zenwa, merayunya seperti biasa.
__ADS_1
"Maafin aku ya, karena aku, kamu jadi begini," mata Micheal sudah memerah, menahan air mata yang hendak tumpah. "Tapi aku mohon, kamu harus bangun, ini perintah suamimu lho, Zenwa!" suara Micheal bergetar, ia menarik napas kemudian mengecup kening sang istri.
"Pokoknya ini perintah suami, ya! Besok kamu harus bangun!"
.........
"Abi, besok Ummi tidak bisa jadi pulang...." Ummi Zainab menarik napas panjang, mencoba tegar dengan keadaan yang sedang ia alami dan ia pun harus memberi tahu kabar dburukz itu pada suaminya dan juga Oma Opa Zenwa.
"Kenapa, Ummi? Apa Ummi masih ingin bersama Zenwa? tidak apa-apa, anak itu juga pasti masih rindu sama Ummi." Ummi Zainab membekap mulutnya yang hampir saja terisak mendengar, air mata kembali mengalir di pipinya.
"Zenwa ... Zenwa kecelakaan, Abi."
"Kecelakaan bagamana?"
Tbc...
*Masih tegang? Ngga dong ya, aku juga tegang menunggu like, comment, dan gift dari kalian. ðŸ¤
__ADS_1
Btw, yang belum mampir ke cerita bapaknya Mikail, cus, mampir*.