
Hari-hari yang Micheal dan Zenwa lewati terasa begitu indah, sebuah keindahan yang tak pernah mereka bayangkan dan tak bisa mereka ungkapan dengan rangkaian yang kata.
Dan semakin hari luka Zenwa semakin membaik bahkan mengering, dan ia kembali bisa beraktivitas namun ia tak bisa kembali mengajar di sekolah Arsyad karena guru yang dulu hanya cuti kini kembali mengajar.
Zenwa tidak masalah dengan hal itu, ia kini justru sibuk mengumpulkan anak jalanan, seperti anak si penjual bunga yang ternyata tidak bisa melanjutkan sekolah karena terkendala biaya, kemudian Zenwa meminta Micheal memberikannya tempat khusus yang menjadi sekolah bagi anak jalanan tersebut dan Zenwa akan mengajar saat malam hari.
Micheal mendukung penuh apa yang di lakukan sang istri, meskipun sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Zenwa. Namun sejauh ini, semuanya aman dan Zenwa juga di jaga dengan dengan sangat ketat.
Dan malam ini, Zenwa baru saja sampai di rumah namun ia terkejut karena rumah begitu gelap. Zenwa memanggil Bi Eni, namun tak ada jawaban. Zenwa memanggil Micheal namun juga tak ada jawaban, Zenwa merogoh ponselnya dari tas nya dan saat ia hendak menyalakan senter, tiba-tiba lampu menyala dan membuat rumah langsung terang benderang.
Zenwa melongo saat melihat di penuhi dengan taburan kelopak bunga mawar yang masih segar dan ada beberapa lilin yang di beberapa titik.
"Sayang...." Zenwa melangkah hati-hati melewati taburan bunga itu. "Micheal...." ia kembali memanggil suaminya itu dan tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya, membuat Zenwa memekik terkejut dan otomatis langkahnya pun terhenti.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Sayang..." Zenwa langsung menoleh saat mendengar bisikan sang suami di telinganya.
Mata Zenwa berbinar bahagia dan saat ia hendak mengatakan sesuatu, Micheal justru membungkam mulut Zenwa dengan bibirnya. Zenwa terkesiap dan tubuhnya seketika terasa kaku.
Untuk untuk yang ke berapa juta kalinya Micheal mencium bibirnya namun entah mengapa rasanya akan selalu sama bagi Zenwa, ia masih akan tersipu malu, terkejut, seperti anak gadis yang baru merasakan ciuman pertama.
Zenwa memejamkan mata dan ia melepaskan tas dari tangannya, kemudian ia melingkarkan lengannya di leher Micheal dan ia pun membalas ciuman suaminya itu dengan mesra.
Entah sejak kapan, ini adalah favoritnya apalagi saat Zenwa mengerang lirih ketika ia melakukan hal itu, Micheal seperti di manakah oleh seseorang dengan sesuatu yang sangat yang indah.
Merasa kehabisan napas, keduanya menarik diri namun bibir mereka masih begitu dekat, bahkan masih saling bersentuhan.
"Nanti ada yang lihat," tukas Zenwa dengan napas yang terengah, wajahnya memerah, dadanya berdebar.
__ADS_1
"Tidak ada orang di rumah, hanya kita" jawab Micheal sembari mengusap bibir Zenwa yang kini bengkak dan merah karena ulahnya.
"Yang lain pada kemana?" tanya Zenwa dan ia justru semakin bergelanyut manja di leher sang suami.
"Aku minta mereka liburan sampai besok sore," jawab Micheal dengan tatapan yang misterius. Membuat Zenwa merasa curiga.
"Ada apa? Kamu merencanakan sesuatu, hm?" Zenwa bertanya kemudian mengusapkan bibirnya di rahang Micheal yang di tumbuhi bulu-bulu halus kemudian Zenwa menelusuri leher Micheal dengan bibirnya membuat Micheal meremang dan darahnya berdesir panas.
Micheal terkekeh, dan ini adalah kebiasaan Zenwa saat menggoda. Ia akan mengusapkan bibirnya di rahang dan leher Micheal kemudian tangannya itu akan meraba perut hingga dada Micheal, dan Micheal tidak pernah bisa selamat dari godaan sang istri.
"Kamu nakal sekali, Sayang," kata Micheal dengan suara yang parau, Zenwa tersipu. "Padahal aku ingin memberimu kejutan ulang tahun tapi aku yang di kejutkan dengan goda'an mu ini, hm."
"Hehe, aku hanya mencoba menyenangkan suamiku."
__ADS_1