Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 112 - Cemburu


__ADS_3

Javeed begitu gelisah mengingat apa yang sudah ia lakukan pada targetnya yang ternyata salah itu, untuk menenangkan perasaannya yang gelisah, Javeed pergi ke rumah Eron, namun temannya itu tak ada di rumah.


Karena bingung harus pergi kemana lagi, Javeed akhirnya pergi ke kandang kudanya, duduk disana sembari memperhatikan beberapa ekor kudanya yang tampak sehat. Sebagian sudah di pesan orang, dan Javeed kini sudah di kenal serta di percaya oleh orang-orang. Bisnis kudanya inilah yang memenuhi kebutuhan Javeed dan ibunya selama ini.


"Bagaiamana jika polisi tahu aku dalang di balik penyerangan itu?" Javeed menggumam cemas. Ia teringat dengan ibunya yang masih sakit-sakitan, siapa yang akan menjaganya jika dia di penjara? Siapa yang akan mengurus bisnisnya?


"Oh Tuhan, semoga tidak ada yang tahu aku lah dalang di balik penyerangan itu."


.........


Arsyad mendengar kabar bahwa Zenwa mengalami kecelakaan dan ia pun langsung menjenguk Zenwa dengan mengajak beberapa guru TK yang lain ke rumah sakit.


Mereka semua di sambut oleh hangat oleh Zenwa dan keluarganya, begitu juga oleh Jibril dan Aira namun tidak dengan Micheal yang tampak kembali cemburu dengan Arsyad.


Arsyad membawa sekeranjang buah dan ia juga berkenalan dengan Jibril. Dan anehnya, Jibril langsung terlihat akrab dengan Arsyad padahal selama ini Jibril tidak pernah dekat dengan siapapun apalagi orang yang baru di kenalnya.


"Kenapa kami tidak di beri tahu kalau kamu kecelakaan, Bu Zenwa? Anak-anak mencarimu," kata salah satu guru yang menjenguknya.


"Aku hanya tidak ingin membuat kalian semua cemas," jawab Zenwa sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa kau tidak memakan buahnya, Bu Zenwa? Anggurnya manis sekali," kata Arsyad menawarkan.


"Aku...."


"Maaf ya, Zenwa tidak suka anggur," sela Micheal memotong pembicaraan Zenwa, Zenwa dan yang lainnya mengernyit bingung mendengar apa yang di katakan Micheal karena mereka semua tahu Zenwa suka anggur.


"Kata siapa tidak suka? Aku suka sekali," kata Zenwa yang membuat Arsyad tersenyum.


"Anggur ini manis, dan tidak ada bijinya," kata Arsyad dengan semangat, Zenwa tersenyum senang dan hal itu kembali membuat Micheal cemburu.


"Aku rasa Zenwa tidak boleh makan anggur karena masih sakit," sambung Micheal lagi.


"Boleh, dari pada anggur," jawab Micheal yang seketika membuat semua orang tersenyum geli. Kini mereka mengerti bahwa Micheal sedang cemburu pada Arsyad, dan Arsyad pun memahami hal itu.


"Kau tidak perlu cemburu pada saya, Pak Micheal. Saya hanya kepala sekolah di sekolah Bu Zenwa mengajar," tukas Arsyad kemudian, padahal tak bisa ia pungkiri, ada perasaan kagum bahkan mungkin suka pada istri putra Gabriel ini namun Arsyad tahu dimana batasannya.


"Aku tidak cemburu, siapa yang bilang aku cemburu? Aku rasa tidak, tidak mungkin juga aku cemburu, untuk apa aku cemburu? Tidak ada alasan untukku cemburu, " kata Micheal panjang lebar bahkan dengan kata-kata yang berputar tidak jelas dan matanya pun memberi tahu sebaliknya. Zenwa tersenyum melihat kelakuan suaminya itu dan ia senang atas kecemburuan sang suami.


"Aneh sekali, Kak. Masak tidak cemburu??" Goda Jibril yang juga merasa geli dengan sikap kakaknya itu.

__ADS_1


"Tapi jika Pak Micheal tidak cemburu, saya senang, hubungan ku dan Bu Zenwa hanya sebatas rekan kerja," ucap Arsyad yang justru kembali memercikan apa cemburu di hati Micheal.


"Itu tidak masalah, bagaimanapun juga, Zenwa adalah istriku dan dia sudah bersuami." lagi-lagi ucapan Micheal terdengar aneh akibat ia yang cemburu namun enggan mengakuinya, Micheal melingkarkan lengannya di pundak Zenwa dengan begitu posesif.


"Kakak cemburu tapi tidak mau mengaku!" Seru Aira sambil terkekeh, Arsyad menoleh pada gadis yang sejak tadi tak bersuara itu.


"Iya, dia sepertinya punya ego untuk mengakui hal itu," jawab Arsyad, keduanya pun tertawa geli begitu juga yang lain, sementara Micheal justru memasang wajah dinginnya yang justru terlihat menggemaskan di mata Zenwa.


.........


Bukan hal yang sulit bagai Gabriel dan pihak kepolisian untuk melacak keberadaan seorang pria yang mereka duga sebagai dalang dari penyerangan pada Zenwa.


Dan saat ini, mereka sudah berada di depan sebuah rumah yang cukup besar. Mereka mengetuk pintu dengan pelan bahkan mengucapkan permisi. Dan tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan seperti wanita paruh baya yang tampak pucat.


Wanita itu terkejut melihat para polisi dan ia lebih terkejut lagi saat melihat Gabriel dan Gio ada di antara polisi itu.


"Raisa..." desis Gabriel dan Gio bersamaan, mereka juga tampak sangat terkejut melihat wanita yang pernah hampir membunuh Firda itu.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2