Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 132 - Datang Bulan Atau Hamil?


__ADS_3

"Aku tidak mau makan ini, ini bau!" Zenwa mendorong ayam goreng yang di sajikan oleh Bi Eni, bahkan ia menutup mulutnya dan dahinya berkerut dalam.


"Tapi tadi kamu sendiri yang minta ayam goreng, Sayang," kata Micheal dengan wajah yang terlihat bingung.


"Tapi ini baunya masih amis, Sayang. Coba cium!" Zenwa setengah merengek, Micheal mencium ayam itu namun hanya ada aroma ayam goreng seperti biasa. Bi Eni yang melihat itu juga bingung, karena sudah beberapa hari ini Zenwa sangat rewel kalau soal makanan dan juga aroma apapun.


"Jadi, Nyonya Zenwa mau makan apa?" Tanya Bi Eni kemudian.


Zenwa berfikir sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum. "Aku ingin makan mie goreng, yang pedas!" Ia berkata dengan sangat antusias.


"Baik, Nyonya. Biar Bibi buatkan," kata Bi Eni kemudian ia segera bergegas ke dapur.


Micheal menghela napas berat, kejadian ini sudah terulang beberapa kali belakangan ini dan sejujurnya Micheal tidak suka dengan tingkah Zenwa yang terkesan sangat cerewet dan merepotkan orang lain.


"Sayang, kamu jangan begini terus, dong! Kasian Bi Eni kalau harus bolak balik masak apa yang kamu minta," kata Micheal dengan lembut dan hati-hati agar tak membuat istrinya tersinggung, namun sepertinya usahanya sia-sia karena Zenwa mulai cemberut.


"Aku tidak bisa makan ayam itu, itu benar-benar bau dan aku tidak mau makan, aku seperti mau muntah masak iya aku harus paksa?" Zenwa berkata dengan nada penuh penekanan.


Micheal langsung duduk tegak, berdeham kemudian menyunggingkan senyum pada Zenwa sebelum emosinya itu semakin menjadi.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang. Tidak apa-apa," kata Micheal. "Kalau begitu aku makan duluan ya, aku harus pergi ke kantor." Zenwa hanya menganggukan kepalanya dan ia memperhatikan Micheal yang makan dengan lahap.


Setelah Micheal makan, ia pun segera berpamitan pada istrinya itu.


Setelah Micheal pergi, Zenwa menunggu Bi Eni masak dengan sangat tidak sabar, namun karena ia sudah lapar, akhirnya Zenwa pergi ke dapur, ia membuka kulkas dan menemukan buah jeruk.


"Mangga lebih enak kali ya, pakai cabe, hmmm." air liur Zenwa seperti akan meneteskan memikirkan rujak mangga dengan cabe, uuff.


.........


Micheal sudah sampai di kantornya, ia langsung mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya. Micheal memijat pelipisnya, kepalanya terasa pusing apalagi saat mengingat kelakuan Zenwa akhir-akhir ini.


"Assalamualaikum, Dad," sapa Micheal dengan lesu.


"Waalaikum salam, Mickey. Kenapa suaramu lesu begitu padahal ini masih pagi? Kalau jadi pemimpin tidak boleh lesu begitu lho!" Micheal mendelik mendengar ceramah ayahnya itu.


"Iya, Dad. Ada apa?" Tanya Micheal kemudian berusaha tak mendebat ayahnya karena kepalanya sudah cukup pusing sekarang.


"Minggu depan Daddy sama Mommy mau ke Jakarta, kamu ingat, 'kan?"

__ADS_1


"Iya, minggu depan acara peresmian aku sebagai CEO, 'kan?" Micheal justru balik bertanya.


"Syukurlah kalau kamu ingat, jadi? Apa kamu sudah menyiapkan diri?"


"Hem...."


"Kamu kenapa sih? Lagi ada masalah? Dengan perusahaan atau rumah tanggamu?"


"Tidak ada, hanya sedikit lelah," jawab Micheal tak yakin.


"Yakin? Cerita saja kalau ada masalah, siapa tahu Daddy bisa bantu." Micheal terdiam sejenak, ia menarik napas panjang.


"Em, Dad. Apa Mommy pernah mengajakmu bertengkar karena hal sepele? Atau bertindak menyebalkan padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu? Sensi, emosian, posesif yang berlebihan?"


"Semua wanita biasanya bersikap seperti itu hanya karena dua alasan, datang bulan atau hamil?"


"Hah? Hamil?" Micheal memekik sambil berdiri dari kursinya.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2