
Saat makan malam, Micheal dan Zenwa membicarakan tenang anak yang bernama Dila itu pada Daddy Gabriel, kan tentu Daddy Gabriel sangat antusias untuk membantu anak itu. Bahkan, Daddy Gabriel langsung memutuskan untuk menemui keluarga Dila, Mommy Firda juga mendukung hal itu. Mereka juga tak lupa mengabarkan Mom Angel dan Daddy Aryan. Bukan untuk meminta sumbangan pada mereka, tapi mereka memang tak ingin melakukan kebaikan sendirian.
Zenwa yang melihat kebaikan mantan Don Mafia ini begitu tersentuh, ia bukan hanya berbuat kebaikan untuk dirinya sendiri tapi juga membuat orang melakukan hal yang sama.
Dan malam ini, interaksi antara Zenwa dan Micheal sedikit berbeda, tak seperti tadi pagi yang begitu dekat dan bebas dan semua itu terjadi hanya karena ciuman pertama mereka yang begitu panas, menggelora, benar-benar membangkitkan hasrat dua insan yang telah dewasa itu.
Para tetua yang ada disana juga tak mengganggu mereka, membiarkan mereka menikmati masa-masa ini yang pasti suatu hari nanti akan menjadi kenangan indah
Dan saat keduanya masuk ke kamar, keadaan masih sama, keduanya masih diam bahkan saat mereka naik ke atas ranjang, masih tak ada yang berani bersuara. Dan hal itu, di salah artikan oleh Micheal, ia mengira Zenwa benar-benar marah padanya.
"Mati aku," gumam Micheal yang tertunduk lesu. "Masak iya begini terus, kapan hangatnya pernikahanku? Masak iya aku kalah sama Daddy yang sudah tua." Ia menggerutu sembari memijat kepalanya, namun sesaat kemudian Micheal merasakan tangan mungil Zenwa menyentuh kepalanya, memberikan pijatan lembut yang membuat darah Micheal kembali berdesir, ia mendongak dan tatapannya lagi di suguhkan senyum manis Zenwa.
"Kenapa tidak bilang kalau sakit kepala? Aku kan bisa bantu pijat," ujar Zenwa yang membuat Micheal termangu, bahkan mulutnya menganga, rasanya seperti mimpi karena Zenwa berbicara begitu lembut, sentuhannya lembut, begitu juga dengan tatapannya.
__ADS_1
"Aku...." Micheal menarik napas, jantungnya kembali berdebar kencang. "Kamu tidak marah?" Cicitnya, ia menelisik wajah ayu sang istri, di lihat dari dekat seperti ini, ternyata Zenwa sangat cantik.
"Marah kenapa?" Tanya Zenwa dengan suara rendah, jari jemarinya masih setia memberikan pijatan yang penuh cinta untuk sang suami.
"Soal... Emm... Ciuman tadi," cicit Micheal yang seketika membuat wajah Zenwa langsung kembali merah merona, sungguh ia tersipu malu setiap kali mengingat hal aku. "Aku... Sangat takut kamu marah," ucap Micheal lagi. "Kamu seperti menghindariku, tidak mau berbicara denganku, aku sudah cemas sampai sakit kepala." lanjutnya, ia berkata sejujur-jujurnya. Bahkan membuat Zenwa sampai bertanya-tanya, apakah Micheal tidak bisa berbohong sedikit saja?
"Tidak, aku hanya ...." Zenwa menggigit bibirnya, yang tanpa sadar itu kembali memancing jiwa lelaki Micheal. "Aku malu," cicit Zenwa yang membuat kedua mata Micheal langsung melebar. Ia menarik tangan Zenwa dan menggenggamnya, membuat Zenwa terkesiap.
"Jadi, kamu tidak marah, kan?" Tanya Micheal antusias, Zenwa menggeleng malu-malu.
"Tidak," ucapnya kemudian sambil menunduk. Micheal mengapit dagu Zenwa dengan jarinya, memaksa Zenwa mendongak, menatapnya.
"Kamu tidak suka dengan apa yang lakukan?" Tanya Micheal, tatapannya begitu dalam, seolah menusuk hati Zenwa.
__ADS_1
"Bukan begitu...."
"Jadi, kamu suka?" Micheal menyela ucapan Zenwa dengan antusias, membuat mata Zenwa melotot kemudian berkedip cepat, tampak lucu.
"Emmm...."
"Aku juga suka, itu ciuman pertamaku," ujar Micheal yang kembali berkata jujur, Zenwa semakin berdebar, wajahnya sudah pasti semerah tomat sekarang. "Kalau aku minta cium lagi, boleh nggak?"
"Eh?"
"Jadi nggak boleh?"
"Bukan begitu...."
__ADS_1
"Jadi boleh?"