
Micheal menatap wajah tenang istrinya yang sedang terlelap, ia memperhatikan alis Zenwa yang hitam dan ia tidak pernah melihat Zenwa memakai pensil alis. Kemudian ia memperhatikan kelopak mata Zenwa yang lebar dan tentu wanitanya ini tidak pernah lepas dari alat yang namanya eyeliner, membuat matanya tampil lebih cantik dan tajam. Hidung Zenwa juga mancung, dan bibirnya....
Micheal mendaratkan kecupan gemas di bibir sang istri yang ranum dan indah tanpa polesan lipstik itu.
"Aduh, kok makin hari kamu makin cantik sih, Sayang. Jadi pengen umpetin kamu deh, takut ada yang lirik," gumam Micheal. Zenwa bergerak dan berganti posisi tidurnya, hal itu membuat selimut yang ia kenakan melorot. Micheal meringis, karena itu sama saja seperti menggodanya untuk bergelut kembali dengan sang istri.
"Sabar ... sabar, nanti lagi, istri tersayangku ini baru tidur satu jam yang lalu." Micheal mencoba menguatkan dirinya sendiri yang mulai bereaksi saat melihat sebagian tubuh istrinya yang ter-ekspos.
Micheal membenarkan selimut Zenwa, kemudian ia mengecup pundak istrinya dengan lembut dan Micheal melingkarkan tangannya di perut sang istri sebelum akhirnya ia pun mencoba memejamkan mata, menyusul istrinya ke alam mimpi walaupun ia sedikit kesulitan karena di bagian bawah sana masih berdenyut dan masih berdiri, ingin di sapa oleh milik istrinya namun Micheal tak tega jika harus membangunkan Zenwa demi menidurkan pusat dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi, dan baru setengah dua tadi Zenwa tertidur setelah memberikan pelayan eksklusif untuk sang suami yang membuatnya sangat kelelahan dan benar-benar sudah tak bertenaga lagi.
Malam yang mereka lewati selalu seperti ini, saling berpelukan, berbagi kehangatan yang menjadi candu bagi mereka.
.........
Zenwa menggeliat malas, ia mengerang lirih sembari mencoba bangun namun pergerakannya itu terhalang oleh tangan suaminya yang melingkar dengan posesif di perutnya. Zenwa tersenyum, ia menarik tangan suaminya, mengecupnya kemudian dengan perlahan menyingkirkan tangan itu dari perutnya.
Sambil meringis, Zenwa turun dari ranjang dan ia duduk di tepi ranjang selama beberapa saat, mencoba meregangkan ototnya yang terasa kaku.
"Kenapa setiap kali selalu begini ya? Padahal ini kan malam yang ke sekian kalinya," gumam Zenwa karena setelah melakukan percintaan yang panas dengan Micheal, ia akan merasa kelelahan, pegal-pegal dan pusat dirinya masih sering sakit padahal ini bukan lagi yang pertama kalinya. Ia seolah kesulitan beradaptasi dan terbiasa dengan milik Micheal.
__ADS_1
Entah miliknya yang terlalu kecil atau milik Micheal yang terlalu besar, fikirnya.
Zenwa terkekeh dengan pemikiran nakalnya itu dan ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, melaksanakan sholat kemudian ia harus menyiapkan sarapan karena hari ini tidak akan ada pelayanan dari Bi Eni.
.........
"Sayang, kok kamu cantik banget sih kalau pakai daster begini?" Micheal berkata sembari bergelenyut manja di punggung Zenwa yang saat ini sedang membuat roti panggang.
Zenwa memang hanya memakai daster saat ini, rambutnya di cepol asal dan ia tidak memakai apapun di balik daster itu di karenakan tadi ia terburu-buru, perutnya sudah keroncongan dan cacingnya itu sudah demo minta makan.
"Cantiknya buat kamu," ucap Zenwa yang sedikit kesulitan bergerak karena Micheal yang terus menempel seperti anak ayam yang baru menetes. "Sayang, kamu tunggu di meja makan ya, aku mau buat susu dulu," tukas Zenwa kemudian.
"Kangen bagaimana? Kita selalu bersama," kata Zenwa dan ia mengambil dua gelas untuk membuat susu.
"Ya kangen, tadi pas aku bangun tidur, kamu tidak ada, kita sudah berpisah tadi karena kamu sibuk di dapur." Zenwa terkekeh mendengar aduan suaminya itu.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega yang mau bangunin, Sayang."
"Tapi kan bisa pamit dulu, cium dulu gitu, sebelum pergi ke dapur."
"Sudah, tadi aku sudah cium kamu."
__ADS_1
"Bohong! Nggak kerasa."
"Ya kan kamu tidur, gimana mau terasa?"
"Seharusnya terasa kalau kamu ciumnya di bibir, tadi kamu ciumnya dimana?"
"Di tangan."
"Yah, di tangan itu kalau aku mau berangkat kerja.
"Okey okey. Sekarang, ayo kita makan, setelah ini aku cium di bibir."
"Janji?"
"Iya."
"Mau bikin bayi lagi?"
"Pabriknya masih capek, Sayang."
Tbc....
__ADS_1