
Bukankah memang begitu jalannya takdir? Penuh misteri, rahasia, tak terduga.
Jika tak ada yang bisa mengendalikan hati ketika jatuh cinta, lalu bagaimana bisa ada yang mengendalikan jalannya takdir?
Berita kematian Arini sudah tersebar ke seluruh warga desa, yang membuat mereka sangat terkejut dan bahkan tak percaya karena selama ini Arini tidak pernah terdengar sakit parah, apalagi duka itu datang setelah hari yang penuh suka cita.
Hari ini, ada begitu banyak orang yang datang melayat, mendoakan yang sudah pergi dan memberikan dukungan untuk yang di timggal pergi.
Keluarga besar Micheal pun dengan setia menemani besan mereka yang terus bersedih. Mereka bahkan juga ikut saat memandikan Arini, sebagai salam perpisahan untuk wanita yang mereka kenal dengan sangat baik.
Semenatara Zenwa, ia mengurung diri di kamarnya setelah pulang dari rumah sakit. Ia tidak sanggup menyaksikan jenazah sang Kakak, apalagi ia terus teringat bagaimana Kakaknya memanggilnya untuk berbicara saat di rumah sakit. Zenwa merasa malu, merasa bersalah dan menyesal. Yang bisa ia lakukan hanya menangisi kepergian Arini, yang tak mungkin lagi akan bicara lagi dengannya meskipun Zenwa sudah sangat bersedia mendengarkannya.
Setelah di mandikan dan di kafani, jenazah Arini pun di sholati oleh beberapa warga. Micheal, Abi Hamka, Daddy Aryan dan Daddy Gabriel berdiri di barisan paling depan.
Micheal teringat dengan mimpinya dulu, dimana ia bermimpi akan membina rumah tangga yang harmonis dengan Arini. Dan setiap malam, mereka akan bangun di sepertiga malam, melaksanakan sholat berjemaah layaknya suami istri. Namun takdir berkata lain, Micheal justru men-shalati Arini sekarang, sebuah takdir yang tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya.
Setelah jenazah di shalati, maka kini ia harus di pulangkan ke rumah terkahirnya.
__ADS_1
"Kamu mau membawanya?" tanya Daddy Gabriel pada Micheal dan tentu saja Micheal langsung mengangguk, untuk terkahir kalinya, ia ingin berjalan bersama Arini meskipun ia harus membawanya dalam keranda dan bukannya bergandengan tangan seperti yang ia harap.
"Dimana Zenwa?" tanya Micheal pada Abi Hamka karena sejak tadi ia tidak melihat Zenwa.
"Dia mengurung diri di kamarnya, Micheal," lirih Abi Hamka.
"Tunggu sebentar, aku akan menjemputnya," kata Micheal kemudian dengan cepat ia pergi ke kamar Zenwa.
Sesampainya disana, Micheal mengetuk pintu dan memanggil Zenwa dengan lembut, namun tak ada tanggapan dari Zenwa.
"Zenwa, jangan begini, Arini akan sangat sedih kalau kamu seperti ini, Zenwa. Setidaknya antarkan Kakakmu pulang," lirih Micheal dengan suara tercekat.
"Antarkan Kak Arin pulang?"
"Sekali saja, Zenwa. Kapan lagi kamu bisa melangkah bersama Kakakmu kalau bukan sekarang?" bujuk Micheal dengan lirih, ia bisa mengerti perasaan Zenwa, karena itulah Micheal ingin Zenwa ikut ke pemakaman, atau Zenwa akan semakin menyesal tadi. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Zenwa..." gumam Micheal, namun Zenwa enggan menjawabnya, Zenwa berjalan melewati Micheal dan Micheal pun mengekorinya dari belakang.
__ADS_1
"Ummi..." Zenwa langsung menghampiri Umminya dan menggandeng tangannya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu harus kuat," kata Ummi Zainab meskipun hatinya sendiri begitu hancur, tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang Ibu lebih dari rasa sakit saat ia harus mengantar putrinya pergi, apalagi jika ia pergi dan takkan kembali.
"Selama ini Ummi berharap, kamu yang mengantar Ummi pulang, Arin. Bukan Ummi yang mengantarmu pulang."
Kain kafan adalah pakaian terakhirnya , keranda adalah kendaraan terkahirnya, dan kuburan adalah rumah terakhirnya, yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah, yang memiliki awal akan memiliki akhir, yang bertemu akan berpisah. Itulah hakikat hidup, sebuah takdir yang takkan bisa di elakkan.
Micheal dan Abi Hamka tak bisa menahan airmatanya saat mereka harus membawa keranda yang berisi orang yang sangat mereka cintai di pundak mereka.
Abi Hamka terbayang kembali saat Arini di lahirkan, bidadari kecil yang sangat cantik, yang membuat jantung Abi Hamka berdetak cepat dan membuat hatinya berdebar. Mata lebarnya membuat Abi Hamka selalu merindukannya saat ia tak melihatnya, suara cemprengnya seolah terus terngiang di telinganya. Apalagi saat tangan mungil itu memegang jarinya kemudian kaki kecilnya melangkah dengan gemetaran. Saat ia berhasil melangkah, ia cekikikan, namun di langkah selanjutnya ia akan jatuh kemudian menangis, maka Abi Hamka akan langsung menggendongnya dan menenangkannya.
"Tunggu kami di surga-Nya, Nak."
Micheal mengucek matanya yang mulai rabun karena air mata yang menggenang, ia teringat dengan kata yang di ucapkan Arini. Zenwa, Micheal mengerti, Arini pasti sangat khawatir pada adik tercintanya itu.
"Tenanglah disana, aku akan menjaga yang disini, In Shaa Allah."
__ADS_1
Tbc...