
Setelah acara akad selesai, kini acara di lanjutkan dengan resepsi. Secara bergilir, seluruh tamu undangan memberikan ucapan selamat pada sepasang pengantin baru itu. Mereka juga memberikan berbagai macam hadiah pernikahan.
Sungguh kebahagiaan yang tak ternilai, baik bagi keluarga Zenwa maupun Micheal.
Sementara Zenwa, ia sungguh tak bisa berkata-kata, yang bisa ia lakukan hanya mengucapkan terima kasih dan meng-aminkan doa-doa yang di tujukan untuknya dan Micheal.
Namun beda halnya dengan Micheal yang kini terlihat lebih tenang dan mulai bisa tersenyum. Saat mengucapkan akad tadi, hatinya bergetar, darahnya berdesir, dan saat itulah ia benar-benar menyadari, sekarang yang berhak atas dirinya, perhatiannya dan segala tentangnya adalah Zenwa, meskipun hatinya sampai detik ini masih sangat mencintai Arini. Namun Micheal tahu, cinta itu seperti fantasi, sedangkan faktanya ia adalah suami dari Zenwa dan memiliki kewajiban atas Zenwa.
Sepanjang acara berjalan, Micheal tak pernah lagi melirik Arini seperti sebelumnya, dan mungkin ini adalah langkah awal untuk melupakan Arini, setidaknya itulah yang ia fikirkan.
Sementara Arini , ia hanya bisa menyaksikan kebahagiaan keluarganya dengan mata yang berkaca-kaca dan seutas senyum tipis di bibirnya.
Arini memandangi adiknya yang bersanding sangat serasi dengan Micheal di pelaminan, keduanya seperti pasangan pangeran dan tuan puteri, yang pasti akan membuat semua orang iri padanya, termasuk Arini.
"Kak Arin..." Arini tersentak saat merasakan sentuhan di lengannya, ia menoleh dan mendapati Aira yang tampak tersenyum padanya.
"Kanapa Kak Arin berdiri disini? Tidak mau menemani Kak Zenwa?" tanya Aira dan dahinya sedikit mengkerut saat menyadari mata Arini yang memerah, bahkan polesan make up di wajah Arini tak menyembunyikan wajahnya yang semakin pucat.
"Kak Arin kenapa? Kak Arin sakit? Pucat sekali, Kak." Aira berkata dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa, Aira. Hanya sedikit lelah," jawab Arini sembari memaksa bibirnya tersenyum.
Namun baru beberapa detik setelah ia berkata demikian, tiba-tiba Arini jatuh ke pelukan Aira yang membuat Aira berteriak panik, dan keduanya pun jatuh ke lantai.
"Kak Arini..." teriaknya dan hal itu menarik perhatian semua orang, termasuk orang tua Arini yang saat ini sedang berbincang dengan orang tua Micheal. Micheal dan Zenwa pun sangat terkejut dan meraka berdua langsung berlari menghampiri Arini.
__ADS_1
Aira memangku kepala Arini di pangkuannya dan ka menepuk pipi Arini sembari terus memanggil nama Arini.
"Kak Arin..."
"Arini...!" Ummi Zainab pun tak kalah cemasnya, ia langsung menepuk kedua pipi putrinya. Melihat putrinya yang tak sadarkan diri dan terlihat sangat pucat seperti ini membuat Ummi Zainab sangat panik dan juga takut.
"Arini..." Micheal pun langsung bersimpuh dan ia juga menepuk pipi Arini, Micheal tampak sangat cemas, panik dan takut. Micheal tak bisa menyembunyikan semua itu yang terpancar begitu jelas di matanya, membuat semua orang tercengang, terutama Zenwa. Oma Opa Arini pun sangat cemas, mereka juga berusaha membangunkan Arini.
"Arin, aku mohon, bangunlah!" Micheal berkata dengan lirih dan terdengar frustasi.
"Arini, jangan begini. Aku mohon!" kedua mata Micheal sudah berkaca-kaca, ia sangat takut melihat keadaan Arini yang seperti ini.
Abi Hamka langsung mengangkat tubuh Arini dan ia hendak ia membawanya ke kamarnya, namun Micheal justru mencegahnya.
...
Seperti di sambar di siang bolong, itulah yang keluarga Arini rasakan saat Oma memberi tahu penyakit yang di derita Arini selama ini. Micheal dan keluarganya juga ikut ke rumah sakit, dan mereka hanya bisa terhenyak mendengar kabar yang sama sekali tak mereka duga itu.
Ummi Zainab bahkan langsung jatuh pingsan, Abi Hamka langsung lemas begitu juga dengan Zenwa. Oma dan Opanya hanya bisa menangisi keadaan cucu mereka.
Hari yang tadinya penuh suka cita, kebahagiaan, dalam sekejap kini berubah menjadi air mata.
Micheal dan Zenwa yang masih dalam balutan pakaian pengantin itu hanya bisa duduk termenung di ruang tunggu, menunggu kabar dari Dokter tentang keadaan Arini.
"Kamu sudah tahu ini, Micheal?" tanya Mommy Firda dengan lirih karena ia pun bisa melihat ketakutan dan kecemasan di mata putranya. Zenwa yang mendengar pertanyaan Ibu mertuanya itu langsung menoleh pada Micheal dan hatinya mencolos saat ia melihat Micheal yang mengangguk lemah.
__ADS_1
"Jadi ini alasan kamu meninggalkannya?" desis Zenwa yang membuat Micheal juga langsung menoleh padanya.
Tbc...
✅Iklan...
...*Sky bawain cerita lagi neh dari teman Sky, ceritanya bagus dan menarik. Untuk meyakinkan, cek dulu blurbnya ya,.jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya disana. 😘...
Judul: Takdir Gadis si Buruk Rupa
Author: Imamah Nur
Blurb:
Rindu Maharani harus menerima kenyataan pahit saat terbangun dari koma, akibat kecelakaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, tetapi ia juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini wajahnya menjadi buruk rupa.
Bukan hanya wajah tetapi pekerjaan yang sebagai pencabut bulu itik dan ayam menjadi sorotan dan hinaan di sekolah.
Cobaan demi cobaan senantiasa menemani perjalanan hidupnya. Namun, Rindu tidak patah semangat. Dia menjadikan hinaan dan cercaan sebagai semangat untuk bangkit dan berkembang.
Mampukah ia mengubah takdirnya*?
__ADS_1