
"Yang paling penting, jangan ikutan kesal meskipun perempuan itu sangat menyebalkan saat kesal. Yang paling penting lagi, harus sabar, jangan menyerah untuk terus merayu, tersenyum, bersikap manis, memanjakan, bujuk-bujuk dengan segala hal, kasih hadiah, kejutan. Dan yang paling penting lagi, biasanya kalau kita peluk dia, cium dia , kita genitin dia lah pokoknya, nanti dia luluh sendiri."
Micheal memijat pelipisnya dengan kencang saat mengingat apa yang di anjurkan ayahnya itu.
"Kenapa semuanya paling penting?" Gumam Micheal tak habis fikir, apalagi ketika mengingat kalau kata ayahnya perempuan itu harus di genitin, di peluk, di cium.
"Astagfirullah, bisa semakin marah Zenwanya," gumamnya frustasi.
Saat ini Micheal sedang dalam perjalanan pulang, dan sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan Zenwa dan Zenwa. Ia tak pernah menyangka, ternyata mencoba meluluhkan hati perempuan itu lebih sulit dari ujian kenaikan kelas.
Saat Micheal berhenti di lampu merah, ada seorang anak yang menjajakan bunga. Micheal melihat anak itu tampak sangat lelah, namun ia tetap mendatangi mobil satu persatu untuk menawarkan bunganya yang masih banyak. Micheal membuka kaca mobilnya dan memanggil anak itu.
"Mau beli bunga, Pak?" Tanya anak itu.
"Iya, berapa semuanya?" Tanya Micheal.
"Mau di borong, Pak?" Tanya anak itu yang membuat Micheal terkekeh.
"Istriku sedang merajuk, aku butuh sesuatu untuk membuat dia senang," jawab Micheal yang membuat anak itu tertawa kecil, ia pun memberikan semua bunganya untuk Micheal.
"Ini, semoga berkah ya..." Micheal memberikan beberapa lembar uang pada anak itu yang membuat anak itu menganga.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Ini kebanyakan," ucapnya hendak mengembaliakn uang itu namun Micheal menolaknya.
"Tidak apa-apa, anggap saja itu rezekimu. Dan tolong doakan supaya istriku berhenti merajuk, ya?"
"Sebenarnya kalau istri merajuk itu gampang solusinya, Pak. Rayu saja terus, peluk, cium, manjain."
"Astagfirullah, kamu masih kecil sudah tahu begituan?"
"Aku melihat ayah biasanya begitu kalau ibu ngambek."
...... ...
"Sepertinya jurusnya memang cuma rayuan," gumam Micheal yang saat ini sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah namun ia enggan turun. Micheal masih sibuk memikirkan cara untuk meluluhkan Zenwa, ia melirik bunga yang ada di sampingnya. "Sepertinya memang begitu. Ya Allah, kenapa Engkau ciptakan perempuan dengan karakter yang ajaib begini? Aku pusing ya Allah, serba salah."
"Hai. Eh, Assalamualaikum, istriku..." Micheal berkata dengan sangat manis.
"Waalaikum salam," jawab Zenwa dengan tatapan herannya.
"Aku bawakan bunga lho buat kamu," ucap Micheal sembari menyodorkan bunga itu untuk Zenwa.
"Buat apa?" Tanya Zenwa yang membuat Micheal langsung menaikan kedua alisnya.
__ADS_1
"Em ... Buat di pajang," jawabnya asal.
"Pajangan bunga di rumah sudah banyak," jawab Zenwa yang membuat Micheal menghela napas berat. Zenwa berjalan masuk dan Micheal mengekorinya dari belakang.
"Em, Zenwa. Malam ini kita dinner di luar lagi, yuk!" rayunya.
"Bi Eni sudah masak," jawab Zenwa yang sekali lagi membuat semangat Micheal layu namun ia segera kembali memompanya naik.
"Baiklah," ucapnya sambil tersenyum.
"Zenwa sayang..." rayunya sembari menghadang langkah Zenwa, Zenwa menaikan sebelah alisnya mendengar panggilan sayang itu yang entah kenapa seperti menggelikan di telinganya.
"Emmm..."
"Apa?" Tanya Zenwa. Tiba-tiba Micheal mencondonkan tubuhnya dan
Cup
Satu kecupan singkat mendarat di pipi Zenwa yag membauat kedua bola mata Zenwa lansung melotot sempurna, seketika jantungnya berdebar, darahnya berdesir, kakinya seperti lemas dan tubuhnya panas dingin.
Hal yang sama di rasakan oleh Micheal, apalagi sebelumnya ia tidak pernah menyentuh wanita manapun dengan bibirnya itu. Jantung Micheal berdetak sangat cepat, seolah akan melompat dari tempatnya. Zenwa menatap kedua mata Micheal yang saat ini juga menatapnya.
__ADS_1
Napas Micheal memberat, tatapan dalam Zenwa seperti anak panah yang menancap di dadanya. Tak tahan dengan perasaan asing itu, Micheal langsung berlari naik ke kamarnya, meninggalkan Zenwa yang masih terpaku di tempatnya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tbc...