Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 125 - Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Micheal masih merajuk hanya karena Ummi Zainab menghubunginya tadi malam, dan alasan sang ibu mertua menelepon hanya karena Zenwa yang tak membalas pesannya.


Sebenarnya yang membuat Micheal kesal bukan karena ibu mertuanya menelepon melainkan karena Zenwa yang justru meladeni ibu mertuanya itu ngobrol hingga hampir satu jam lamanya, entah apa yang mereka bicarakan karena Micheal keburu tidur.


Dan saat ini, seperti biasa Micheal akan mengganti perban di perut Zenwa namun tak ada senyum di bibirnya, tak ada binar di matanya. Ia cemberut, merengut, bahkan sesekali berdecak kesal. Seperti anak-anak yang tak di belikan mainan padahal sudah di janjikan.


"Sudah dong marahnya, Sayang." Zenwa membujuk dengan lembut namun Micheal masih cemberut.


"Ya kan Ummi khawatir, terus katanya kangen sama aku, masak iya aku mati'in telponnya? Kan kasihan, Sayang."


"Tapi masak iya ngobrol sampai selama itu? Aku sampai ketiduran loh, dan nggak jadi mesra-mesraannya, kan?"


Zenwa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian ia memberanikan diri mengusap kepala suaminya itu dengan lembut, memainkan jemarinya di rambut suaminya yang hitam itu.


"Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita cari tempat untuk bulan madu?" Pertanyaan Zenwa itu berhasil membuat mata Micheal langsung terbuka lebar dan berbinar.


"Beneran? Kamu mau kita pergi bulan madu?" Tanyanya dengan antusias dan Zenwa mengangguk sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Emm, kamu mau kemana? Ke luar kota? Ke luar negeri? Aku ikutin semua mau mu, Sayang. Asal jangan keluar planet," ujarnya yang membuat Zenwa langsung tertawa geli.


Sungguh di luar dugaan, pria tampan, cool, macho, seperti suaminya ini sering melawak.


"Aku sih ingin pergi ke tempat yang indah, romantis, menurut kamu dimana ada tempat seperti itu?" Tanya Zenwa lagi.


"Cappadocia." Micheal menjawab dengan antusias sementara Zenwa tampak berfikir sejenak, memikirkan apakah Cappadocia tempat yang tepat?


"Atau bisa juga ke Paris, orang bilang itu kota yang sangat romantis," kata Micheal lagi.


"Terus, ada saran yang lain?" Tanya Zenwa. Micheal menggumam, ia mengetukan jarinya ke pelipisnya, memikirkan tempat mana lagi yang bisa mereka datangi.


"Semoga lukamu cepat kering dan kita bisa berbulan madu," tukas Micheal dan kali ini ia memasang wajah serius.


Setelah mengganti perban Zenwa, Micheal mengajak Zenwa turun ke bawah untuk sarapan namun kali ini Zenwa tidak lagi di gendong, ia hanya berjalan pelan dan hati-hati.


Sementara Micheal, ia justru sibuk menghubungi Daddy Aryan sejak tadi karena sang ayah yang tidak menjawab telponnya. Micheal meminta ayahnya itu mencarikan Dokter terbaik untuk menghilangkan bekas sayatan Zenwa di perutnya.

__ADS_1


"Sayang...." panggil Zenwa. "Ayo sarapan, telpon siapa sih?"


"Daddy Aryan," jawab Micheal tampak kesal.


"Mungkin kerja kali, jangan ganggu deh. Emangnya ada perlu penting?" Tanya Zenwa sembari mengulurkan tangannya pada Micheal yang kini berjalan mendekatinya. Micheal menyambut nya dengan senyum dan keduanya bergandengan tangan berjalan menuju meja makan.


Bi Eni yang melihat sepasang suami istri hanya bisa menahan senyum, karena sejak Zenwa pulang dari rumah sakit, hubungan meraka benar-benar berbeda dari dulu saat pertama kali Zenwa datang ke rumah itu.


Kini meraka tampak sangat manis, mesra, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri.


Pagi ini Bi Sum masak ayam panggang, dan Micheal yang sudah tahu istrinya itu tidak makan kulit ayam langsung mengambil semua kulit ayamnya, memakannya sendiri dan ia memberikan dagingnya untuk sang istri.


"Emm, sepertinya kita bisa pergi ke Cappadocia deh. Kita bisa naik balon udara," kata Zenwa tiba-tiba dan Micheal langsung mengangguk setuju sambil tersenyum.


"Baiklah, Sayang. Kemanapun asal bersamamu," kata Micheal.


"Ya iyalah, namanya bulan madu ya pasti sama istri dan aku istrimu," tukas Zenwa yang membuat Micheal tertawa kecil.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2