
Daddy Gabriel dan yang lainnya terkejut saat melihat tempat tinggal anak bernama Dila itu, tempat itu kumuh, dan memang sangat jauh dari masjid.
Sebuah perumahan kecil yang bahkan juga jauh dari toko, di samping rumah Dila terdapat tumpukan sampah yang mungkin akan di jual oleh ayah Dila.
"Maaf jika kami datang secara tiba-tiba, Pak." Daddy Gabriel berkata dengan sangat ramah pada orang tua Dila yang menemuinya, mereka juga sudah mengenalkan diri dan mereka di sambut dengan sangat baik.
"Tidak apa-apa, saya sangat senang kedatangan tamu terhormat di tempat kami ini," kata ayah Dila, sementara Dila duduk di pangkuan ayahnya sambil memegang boneka.
"Kenapa ibu guru Zenwa tidak datang?" Tanyanya dengan suara cemprengnya, Daddy Gabriel tersenyum, melihat Dila mengingatkan dia pada putrinya yang dulu juga suka sekali bergelanyut manja padanya.
"Ibu guru Zenwa sedang ada ada kesibukan lain, Sayang," jawab Mommy Firda. Kemudian ia berbicara dengan orang tua Dila dan menyampaikan niat kedatangan mereka, yang tentu saja membuat orang tua Dila terkejut sekaligus terharu.
...
Di rumah, Zenwa masih duduk di atas ranjang sementara Micheal meletakkan kepalanya di atas paha sang istri. Keduanya menakutkan jari jemari mereka, tatapan keduanya berbinar, seolah memancarkan cahaya cinta yang masih tersembunyi.
"Kira-kira, kalau kamu hamil, kamu mau anak cowok atau cewek?" Tanya Micheal sembari memainkan jari jemari Zenwa.
"Aku sih ingin cowok, biar nanti bisa jada adik-adiknya," jawab Zenwa yang membuat pupil mata Micheal melebar.
__ADS_1
"Berarti kamu mau punya anak lebih dari satu?" Tanyanya setengah memekik.
"Kenapa kamu seperti terkejut begitu? Kamu mau anak berapa memangnya?" Tanya Zenwa.
"Aku mau anak 10/"
"Astagfirullah..."
"In Shaa Allah dong, bukan astaghfirullah," sungut Micheal yang membuat Zenwa cekikikan. "Anak itu anugerah, semakin banyak anak, semakin banyak berkah." lanjutnya.
"Hem, kita berdo'a saja," gumam Zenwa kemudian.
"Mau telfon siapa?" Tanya Zenwa.
"Daddy, ini sudah sore. Kenapa mereka belum pulang ya?" Ia menggumam dengan cemas, bahkan keningnya berkerut.
"Mungkin mereka masih mampir ke tempat lain, tidak perlu cemas," ucap Zenwa lembut.
Kerutan di kening Micheal semakin dalam saat ia tak bisa menghubungi ayahnya, ia pun mencoba menghubungi ibunya namun bersamaan dengan itu, terdengar suara klakson mobil yang membuat Micheal bernapas lega.
__ADS_1
"Mereka sudah datang," kata Zenwa. "Kenapa kamu terlihat cemas? Mereka pergi bersama jadi mereka akan baik-baik saja."
"Aku tahu, hanya saja, masa lalu Daddy tidak akan meninggalkan kami begitu saja," kata Micheal lirih, pandangannya lurus menatap langit-langit kamarnya dan ingatannya melayang pada kejadian beberapa tahun lalu.
"Maksudnya?" Tanya Zenwa bingung. Micheal menatap istrinya itu dengan sendu.
"5 tahun yang lalu, aku hampir saja membunuh seseorang karena orang itu hampir menyakiti Aira," ucapnya.
"Orang siapa? Musuh ayah mertua?" Tanya Zenwa dan Micheal mengangguk lemah.
"Dia punya dendam pada Daddy, dan saat itu Daddy pergi keluar berdua dengan Aira, mereka tidak pulang sampai malam dan ternyata mereka di serang, Aira terluka dan aku benar-benar marah, dia adik kesayanganku."
"Jadi kamu juga menuntut balas pada mereka?" tanya Zenwa lagi dan lagi-lagi Micheal mengangguk. "Seharusnya kamu serahkan saja masalah itu pada polisi, kalau orang itu dendam, kamu balas lagi dengan dendam, ya tidak akan selesai." lanjutnya.
"Masalahnya, polisi sangat lambat, butuh waktu berhari-hari menemukan orang itu dan karena aku sudah kesal, ya aku cari sendiri, dan saat menemukannya, aku hampir saja membunuhnya kalau seandainya Zach tidak menghentikanku saat itu."
"Zach siapa?"
"Zachary Glatzel, anaknya Uncle Gio dan Tante Mini."
__ADS_1
Tbc...