Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 142 - Hari Kelahiran


__ADS_3

Setelah perpisahan dua hari itu, Micheal tidak mau lagi berpisah dengan Zenwa dengan alasan apapun. Ia tidak tenang dan juga tidak fokus pada apapun karena memikirkan Zenwa, apalagi kehamilan Zenwa yang semakin membesar dan semakin mendekati hari kelahiran.


Micheal juga dengan sangat rutin memeriksakan kandungan Zenwa yang di duga ia akan melahirkan anak perempuan menurut hasil USG.


Saat ini, Micheal sedang melingkari angka di kalender sambil tersenyum. Kata Dokter, di tanggal inilah kemungkinan akan melahirkan.


"Sayang..." Micheal langsung menoleh saat mendengar suara istrinya itu, Zenwa berjalan menuju ranjang sembari memegang perutnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain berada di pinggangnya.


Karena kehamilannya, berat badan Zenwa naik dan ia benar-benar gendut, namun Micheal justru melihat Zenwa semakin cantik setiap harinya.


"Ada apa?" Tanya Micheal lembut sembari membantu Zenwa naik ke atas ranjang.


"Punggungku sakit sekali, di bagian sini...." Zenwa menunujuk punggung bagian bawahnya.


"Sini, biar aku pijat!" Micheal duduk di belakang Zenwa dan ia mulai memijat punggung Zenwa dengan lembut.


"Sayang, kalau misalnya anak kita nanti beneran perempuan, kamu mau kasih nama siapa?" Tanya Zenwa sembari mengelus perutnya.


"Aku punya banyak persiapan nama, Sayang. Aku sudah mencatatnya di buku, nanti aku akan menunjukkannya padamu," kata Micheal masih sambil terus memijat Zenwa.

__ADS_1


"Bolehkah jika aku memberinya Arini?" Micheal langsung terdiam saat mendengar ucapan Zenwa, dan ingatannya kembali berputar pada masa-masa ia dan Arini saat bersama.


"Kenapa harus nama mendiang kakakmu, Sayang?" Tanya Micheal dengan lembut.


"Karena aku ingin terus mengenangnya, selain Itu arti nama kakakku sangat indah, Arini Kamilia, lihatlah aku dengan sempurna." Zenwa berkata sembari tersenyum apalagi saat ia mengingat masa kecilnya dengan sang kakak.


"Baiklah, kita akan memberinya nama Arini," ucap Micheal.


Zenwa menoleh, ia menatap Micheal dengan mata menyipit. "Kamu masih mencintai Kakakku?" Tanya Zenwa yang membuat pupil mata Micheal langsung melebar, tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Zenwa justru tampak sangat penasaran dengan jawaban Micheal.


"Kenapa diam?" Tanya Zenwa mendesak.


" Aku mencintainya, dulu," jawab Micheal yang membuat Zenwa tersenyum samar.


"Aku mencintai kalian sama besarnya tapi di waktu yang berbeda." Zenwa tersenyum puas dengan jawaban Micheal namun tak berselang lama kemudian tiba-tiba ia meringis sambil memegang perutnya.


"A-ada apa, Sayang? Kamu sakit perut?" Tanya Micheal panik apalagi Zenwa tampak sangat kesakitan.


"Aku rasa ... aku rasa sudah mau melahirkan, Sayang," kata Zenwa terbata-bata.

__ADS_1


"Apa? Kok sekarang? Seharusnya beberapa hari lagi? Aku sudah melingkari tanggal lagi kamu akan melahirkan, Sayang," pekik Micheal yang membuat Zenwa menggeram kesal.


"Anakmu sudah mau keluar, Micheal sayang! Panggil Dokter sekarang!"


Micheal pun langsung memanggil Dokter kemudian ia meminta Zenwa berbaring di ranjangnya, memintanya beristirahat agar tidak kesakitan namun Zenwa tidak bisa, ia terus mengerang kesakitan.


Micheal semakin panik, kemudian ia menggendong Zenwa dan membawanya turun dari kamar sembari berteriak memanggil Bi Eni, meminta Bi Eni mengambilkkan kunci mobilnya.


Micheal segera memasukan Zenwa ke dalam mobil dan Bi Eni pun ikut, Bi Eni meminta Zenwa tenang, menarik napas kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


Micheal menyalakan mobil dan melajukannya dengan kencang menuju rumah sakit sambil terus melirik Zenwa dari kaca spion.


"Aaaggh, sakit!!!" Zenwa berteriak kesakitan


"Sabar, Sayang. Sakitnya cuma sebentar," kata Micheal mencoba menenangkan.


"Ah, bohong kamu!" seru Zenwa yang justru membuat Bi Eni tertawa.


Sekarang Zenwa tahu, Micheal akan berbohong di saat seperti ini demi menenangkannya.

__ADS_1


Tbc..



__ADS_2