
"Micheal...." Daddy Gabriel kembali memanggil anaknya yang sudah seperti orang gila itu, namun Micheal tak hanya seperti orang gila, ia juga seperti orang tuli sekarang yang membuat ayahnya kesal. Ia pun memanggil Micheal sekali lagi dengan suara yang lebih lantang.
"MIKAIL...!"
"Iya, Zenwa..."
"Apa?"
Seketika seluruh orang di ruang meeting itu menahan tawa, seandainya Micheal bukan putra Gabriel Emerson, mungkin mereka sudah tertawa terbahak-bahak.
Sementara Micheal, pria itu gelagapan, pandangannya melirik kesana kemari dan ia bergerak tidak jelas di kursinya. Ia merutuki kebodohannya yang justru terus terbayang akan ciumannya dengan Zenwa, Micheal tak bisa melupakan hal itu. Kejadian itu seperti kaset rusak, yang terus berputar dalam benaknya tanpa henti.
Daddy Gabriel menatap putranya dengan tajam namun bibirnya tersenyum samar, bukannya ia tidak mengerti apa yang terjadi namun ia ingin putranya itu fokus pada pekerjaan, ia ingin putranya bersikap profesional sama seperti karyawan yang lain.
"Dimana perhatianmu, Micheal?" Tanyanya.
"So-sorry, Dad. Ehem ehem." Micheal membenarkan jas serta dasinya, ia berdeham guna menetralkan perasaannya yang sempat menggelora hanya karena ciuman bersama sang istri. Sang ayah hanya melemparkan tatapan tajamnya, sebelum akhirnya ia kembali fokus pada laptop di depannya dan berkata.
"Baik, kita lanjutkan meetingnya."
"Zenwa, aku baru tahu rasanya ciuman benar-benar luar biasa. Tahu begini, aku sudah cium kamu dari dulu," gumam Micheal dalam hati, ia jadi tidak sabar untuk bertemu sang istri.
Sementara Daddy Gabriel, sesekali ia melirik putranya yang masih tampak merona, dan hal itu mengingatkan ia pada masa mudanya, saat ia juga di buat hampir gila karena seorang gadis kecil dari desa, orang pertama yang membuat Daddy Gabriel menangis, tertawa lepas, dan tentu mengerti arti cinta.
__ADS_1
"Seperti cinta kami yang menyatu kuat, semoga kamu dan Zenwa juga begitu, Micheal. Semoga tidak ada yang memisahkan kalian."
...... ...
Tak jauh berbeda dari kondisi sang suami yang seperti orang gila, Zenwa pun mengalami hal yang sama. Ia sungguh tak bisa mengenyahkan bayangan saat Micheal menciumnya, saat bibir sang suami menyapu lembut bibirnya, saat lidah hangat suaminya....
"Astagfirullah ... Astagfirullah...." Zenwa langsung menggelengkan kepalanya beberapa, ia berusaha mengenyahkan ingatan itu yang membuat darahnya berdesir hangat, membuat jantungnya berdetak cepat seperti habis lari marathon.
"Apa sih, Zenwa. Kenapa fikiranmu jorok melayang kemana-mana, istighfar...." gumamnya.
"Ibu guru Zenwa...." Zenwa terperangah mendengar suara salah satu muridnya itu, ia meringis, karena ia bahkan lupa bahwa saat ini ia sedang berada di kelas, mengawasi anak-anak yang sedang belajar mewarnai buku gambar.
"Iya, Dila. Ada apa?" Tanya Zenwa dengan lembut, ia mendekati muridnya yang bernama Dila itu.
"Memangnya kamu menggambar masjid?" Tanya Zenwa sembari mengintip gambar anak didiknya itu.
"Iya, Ibu guru Zenwa. Soalnya, kata ayah, ayah ingin membangun masjid di dekat rumah. Supaya kita bisa pergi ke masjid, Dila ingin masjidnya berwarna pink," tutur anak itu dengan mata berbinar.
"Tentu saja boleh dong, Sayang. Pink itu warna yang cantik sekali," jawab Zenwa.
"Memangnya, kapan ayahmu akan membangun masjid?" Tanya Zenwa lagi.
"Belum tahu, ibu guru Zenwa. Uangnya masih di kumpulkan kata ayah. Soalnya, ayah harus pergi jauh kalau mau ke masjid, sepeda ayah sudah rusak, jadi harus jalan kaki." Zenwa terenyuh mendengar penuturan anak kecil itu, ia jadi penasaran dimana tempat tinggal anak itu.
__ADS_1
"Baiklah, Dila sayang. Warna pink sangat cantik, ayah Dila pasti suka," tukasnya sambil tersenyum dan Dila pun juga tersenyum sumringah.
...... ...
Setelah mengajar, Zenwa mencari tahu identitas Dila dari wali kelasnya. Dan Zenwa sangat terkejut karena ternyata pekerjaan ayah Dila hanya pemulung sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu harian.
Setelah mendapatkan alamat Dila, Zenwa menghampiri Ummi Zainab yang sejak tadi menunggu di ruang kantin, tentu setelah berkeliling sekolah TK itu.
"Kita sudah di jemput, Ummi," kata Zenwa.
"Sekolah ini bagus sekali ya, Zenwa," tukas Ummi Zainab sembari mengekori Zenwa yang berjalan keluar.
"Dan sekolah ini gratis, Ummi,"
"Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang berkali-kali lipat untuk pak Arsyad itu ya, Zenwa."
"Aamiin...." balas Zenwa.
Micheal menunggu Zenwa di mobil dengan perasaan yang tak karuan, kini ia seperti pemuda yang akan bertemu dengan gadis yang di taksirnya.
Saat melihat Zenwa yang mendekat ke arahnya, jantung Micheal berdegup. "Ini benar-benar gila!"
Tbc...
__ADS_1
...Jangan lupa like, comment dan giftnya ya, guys. Thank you and I love you😘...