
Setiap hari libur, Arsyad akan selalu menghabiskan waktunya dengan umminya, dengan membawanya jalan-jalan, makan di luar dan tentu berbelanja atau sekedar mengunjungi tempat wisata.
Dan minggu ini, Arsyad membawa umminya berbelanja. Arsyad menemaninya memilih baju di butik, dan saat menunggu umminya yang sedang pergi ke ruang ganti, tatapan Arsyad terpaku pada sosok wanita yang tidak asing.
"Hem, cantik." mendengar suara itu, Arsyad kembali pada kesadarannya dan ia segera memalingkan wajahnya, menyadari bahwa wanita itu milik pria lain dan ia tidak berhak memandanginya. "Zenwa selalu cantik dengan warna kuning."
"Aku juga suka," Zenwa berkata sembari memutar tubuhnya di depan Micheal.
"Baiklah, kita ambil ini? Atau kamu mau yang lain lagi?" Tanya Micheal.
"Aku rasa satu saja cukup," jawab Zenwa namun tatapannya tertuju pada gaun yang sama namun warna yang berbeda. "Tapi, kalau boleh, tambah itu satu..." Zenwa menunjuk gaun berwarna putih.
"Boleh juga," balas Micheal namun saat ia berbalik, tanpa ia melihat Arsyad yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana dan saat ini Arsyad juga sedang menatapnya.
"Assalamualaikum, Pak Micheal..." sapa Arsyad kemudian sembari mendekati Micheal.
"Waalaikum salam," jawab Micheal. "Kau disini juga? Bersama istrimu?" Tanyanya yang membuat Arsyad tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku belum menikah, aku kesini menemani ummi," jawab Arsyad kemudian ia menatap Zenwa dan menyunggingkan senyum ramahnya pada Zenwa, Zenwa pun membalas senyum Arsyad namun sepertinya itu tidak di sukai oleh Micheal.
"Sayang...!" Seru Micheal kemudian pada Zenwa yang membuat Zenwa langsung menaikan sebelah alisnya setelah mendengar panggilan sayang itu. "Sebaiknya kamu ganti lagi bajumu, dan ambil gaun putih yang kamu mau itu. Supaya kita bisa cepat pulang, ini sudah malam." lanjutnya dan Zenwa hanya bisa mengangguk.
"Oh ya, sebenernya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Pak Micheal. Aku bahkan sampai menghubungi Akbar untuk membuat janji denganmu," ucapnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Micheal dan ia memasang raut wajah dinginnya.
"Salah satu guru TK cuti untuk sementara, jika mungkin istri Pak Micheal masih berminat untuk menjadi guru, kamu sedang membutuhkannya saat ini," ujar Arsyad yang tak langsung di tanggapi oleh Micheal. Karena di satu sisi, ia sudah punya kesan yang tidak baik pada Arsyad atas ucapan Arsyad waktu itu, tapi di sisi lain, Micheal ingin memenuhi keinginan Zenwa.
"Baiklah, aku akan bicarakan dulu dengan istriku," jawab Micheal akhirnya.
Tak lama kemudian Zenwa keluar dengan membawa gaunnya. "Sudah, apa kita bisa bayar sekarang?" Tanya Zenwa.
"Iya," jawab Micheal.
"Ngomong-ngomong, gaun itu sangat cocok dengan anda, Nyonya Emerson," puji Arsyad sambil tersenyum, Zenwa hanya menanggapinya dengan senyum kaku, sementara Micheal justru menampilkan wajah tidak sukanya atas pujian Arsyad.
__ADS_1
"Kami permisi, Pak Arsyad."
.........
"Seharusnya dia tidak memuji istri orang di depan suaminya, kan? Itu tidak beradab," gerutu Micheal yang saat ini sedang menyetir, Zenwa hanya bisa mendengarkan Micheal karena ia pun tidak nyaman atas pujian Arsyad.
"Zenwa, kenapa kamu diam saja? Kamu suka di puji dia?" Tanya Micheal dengan tajam.
"Astagfirullah, jangan asal menuduh!" Seru Zenwa. "Aku pun tidak nyaman jika ada pria yang memujiku," ucap Zenwa dengan jujur namun Micheal hanya berdecak kesal.
"Kamu cemburu?" Tanya Zenwa kemudian, tatapannya menelisik wajah sang suami yang masih menampilkan ekspresi kekesalannya.
"Entahlah, rasanya tidak suka saja ada yang memujimu begitu. Apa itu bisa di katakan cemburu? Aku kan belum mencintaimu, apa sudah bisa cemburu?"
"Akupun belum mencintaimu, tapi aku juga cemburu bahkan saat melihat foto boneka Kak Arin di kamarmu."
Tbc....
__ADS_1