Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 91 - Dari Masa Lalu


__ADS_3

Micheal keluar dari kamarnya untuk menemui orang tuanya, dan saat melihat Micheal, mereka semua lamgsung melempar senyum yang membuat Micheal mengerutkan keningnya namun ia tak bertanya apapun.


"Sudah bangun, Mickey?" Goda Mom Angeline.


"Tentu saja, ini sudah sore," jawab Micheal. "kalian kenapa lama sekali? aku sudah cemas tadi," tukasnya sembari menatap ayahnya itu.


"Tadi kami masih mampir ke rumah Gio, mumpung hari libur, kan?" Sambung ayahnya dan Micheal mengangguk mengerti.


"Terus, bagaimana? sudah bertemu dengan orang tua Dila?" Tanyanya lagi.


"Sudah, sisanya biar Billy yang urus. Soalnya besok lusa kami harus kembali ke desa," ujar ayahnya yang membuat Micheal sedikit terkejut.


"Aku fikir kalian akan lama di sini," ucapnya.


"Nenek telfon, katanya sakit," jawab Mom Firda yang membuat Micheal lebih terkejut lagi.

__ADS_1


"Sakit apa? Apa parah? Aku akan ikut kalian pulang kalau begitu," tukasnya panik.


"Tidak usah, cuma sakit biasa. Kamu urus saja perusahaan."


"Tapi, Dad...."


"Tidak apa-apa, Micheal," sambung Mom Firda. "Sakitnya tidak parah kok, cuma demam biasa. Kamu doakan saja, ya." Micheal hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun sebenarnya ia sangat ingin pulang mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ia kehilangan opanya.


"Kalau begitu, kami pulang dulu," ujar Mom Angelin kemudian.


"Lain kali saja, Fir," jawabnya sambil memeluk istri mantan suaminya itu. Daddy Aryan pun ikut berpamitan sebelum akhirnya mereka pergi.


"Zenwa baik-baik saja, kan?" Tanya Mommy Firda tiba-tiba yang membuat Micheal tersipu, apalagi tatapan mommynya itu tampak berbeda dan Micheal sudah curiga mereka tahu sesuatu. Seketika Micheal teringat dengan kamarnya, apakah kedap suara?


"Kami hanya menduga," tukas Mom Firda kemudian seolah mengerti kemana arah fikiran putra tirinya itu. Micheal hanya cengengesan sambi garuk-garuk tengkuknya. "Ya sudah, kami mandi dulu." lanjutnya kemudian ia menggandeng suaminya dan membawanya ke kamar. Begitu juga dengan Micheal, ia kembali ke kamarnya.

__ADS_1


...


Javeed memacu kudanya dengan sangat cepat, raut wajahnya begitu sangar, seolah memendam amarah yang begitu dalam. Bahkan, ia melampiaskan amarahnya itu pada kudanya yang tak bersalah. Javeed mencambuknya dengan dengan keras, membuat kuda itu berlari lebih cepat.


"Gabriel Emerson..." ia menggeram dan kembali mencambuk kudanya. "Dia hidup makmur setelah membunuh ayahku, aku bersumpah akan mengambil yang paling berarti darimu, aku bersumpah!"


Javeed kembali memacu kudanya, memasuki hutan yang tak jauh dari tempatnya berlatih kuda.


Javeed berhenti di tepi jurang, ia turun dari kudanya dan mengikatnya di pohon. Setelah itu, ia duduk di tepi jurang itu tanpa ada perasaan takut jatuh. Javeed adalah pria yang menyuaki tantangan.


"Aku akan menuntut balas, biar mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang mereka sayang!"


...


Zenwa yang sudah merasa lebih baik memilih turun dan bergabung di meja makan untuk makan malam bersama ibu dan mertua nya, apalagi setelah ia mengetahui bahwa besok lusa mereka akan pulang, tentu Zenwa tidak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang tersisa.

__ADS_1


Dan sambil menikmati makan malamnya , Daddy Gabriel kembali memberikan berbagai wejangan pada putranya itu, baik dalam hal pekerjaan maupun rumah tangga dan Micheal hanya terus mengangguk. Beda halnya dengan Zenwa yang mendengarkan dengan seksama.


__ADS_2