
Nafkah batin, salah satu kewajiban yang harus di penuhi oleh sepasang suami istri. Sebuah pelampiasan hasrat yang halal dan pasti di penuhi dengan pahala, mereka menyebutnya dengan kata yang indah, bercinta.
Namun, bagaimana jika salah satu dari pengantin itu tak siap melakukannya dengan alasan tertentu?
Seperti Zenwa, yang masih sangat tidak siap jika harus menyerahkan dirinya sepenuhnya pada sang suami. Hubungan keduanya masih tegang, masih kacau, masih kaku, apalagi dengan berbagai fakta yang membuat Zenwa tak nyaman bahkan jika hanya berdekatan dengan Micheal. Lalu bagaimana ia bisa berbagi kamar, ranjang, bantal bahkan selimut dengannya?
Zenwa telah mengenyam pendidikan agama yang sangat baik sejak kecil, dan ia tahu apa saja kewajiban seorang istri, namun di situasi seperti ini?
"Bagaiamana? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Zenwa gelisah, sejak tadi ia mondar mandir di kamarnya, memikirkan ucapan Micheal tentang nafkah batin. "Jika Micheal memintanya, terus aku menolak, Allah bisa melaknatku." Zenwa sungguh frustasi memikirkan hal itu, hingga tatapannya kini tertuju pada fotonya bersama sang kakak..
"Kenapa harus aku, Kak?"
.........
"In Shaa Allah, hubungan mereka akan memiliki kemajuan setelah ini, Bi," ucap Ummi Zainab sembari merangkak naik ke atas ranjangnya.
"Kenapa bisa begitu? Selama ini Zenwa dan Micheal seperti tinggal di dimensi yang berbeda." Abi Hamka berkata sembari menutup kitab yang baru selesai ia baca, kemudian ia pun menyusul sang istri ke ranjang.
"Iya, tapi tadi Micheal sudah berbicara tentang nafkah batin, Bi," kata Ummi Zainab antusias.
__ADS_1
"Benarkah? Terus?" tanya Abi Hamka yang tak kalah antusiasnya.
"Ya kita doakan saja, Bi. Semoga hubungan mereka membaik, meskipun Ummi tahu ini pasti sulit untuk Zenwa, tapi semua sudah terlanjur terjadi." lirihnya.
"Semoga Arini merestui mereka ya, Ummi. Apalagi sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Arini mencari Zenwa," ucap Abinya.
Membicarakan tentang Arini, tentu keduanya kembali bersedih, bahkan kedua mata Ummi Zainab sudah berkaca-kaca.
"Andai ini hanya mimpi ya, Bi. Rasanya Ummi masih tidak percaya Arini sudah tidak ada." Ummi Zainab mengucek matanya yang mulai rabun karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ikhlaskan, Ummi. Anak itu hanya titipan dari Allah, dan yang namanya titipan, maka pemiliknya berhak mengambilnya kapan saja," ucap Abi Hamka dan ia pun memeluk sang istri dengan sayang.
.........
Setelah sekian lama, akhirnya Micheal bisa tidur nyenyak setelah ia berbicara dengan leluasa pada Zenwa, mengeluarkan unek unek dalam hatinya.
Dan soal nafkah batin, Micheal sendiri tentu tidak siap melakukannya, karena sampai detik ini, masih ada Arini di hati dan di fikirannya. Micheal juga ingin memberikan waktu pada Zenwa, membiasakan diri dengan status Nyonya Emerson.
.........
__ADS_1
Keesokan harinya, Oma Opa yang masih merindukan Arini kembali datang ke rumah Zenwa kemudian mereka mengajak Zenwa ziarah ke makam Arini. Sementara Micheal tak ikut, karena ia ingin belajar menjauhkan diri dengan apapun yang berhubungan dengan Arini untuk sementara waktu.
Ketiganya mendoakan Arini dengan begitu khusyuk, bahkan Oma kembali meneteskan air mata saat mengingat cucunya itu.
"Oma, apa tidak sebaiknya Oma dan Opa menginap saja disini?" tanya Zenwa saat mereka pulang dari pemakaman.
"Iya, Zenwa. Kami memang ingin menginap, kami rindu sekali dengan Arini," jawab Oma dengan suara paraunya "Maafkan kami karena kami tidak memberi tahu kalian tentang Arini, ya?"
"Semua sudah terjadi, Oma. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berusaha ikhlas, Allah telah menuliskan semuanya di garis takdir hidup kita." tutur Zenwa yang membuat Oma dan Opa nya tersenyum, Omanya mengelus kepala Zenwa dengan sayang.
"Kakakmu sangat mencintaimu dan Micheal, Zenwa. Dia sangat ingin kalian hidup bahagia bersama," ucapnya kemudian namun Zenwa hanya menanggapinya dengan senyum samar.
Sesampainya di rumah, Zenwa pun pergi ke kamar Arini untuk membersihkan kamar itu, karena Opa dan Omanya akan tidur di sana sementara Ummi Zainab saat ini sedang pergi ke pengajian. Semenjak kematian Arini, Zenwa tidak berani memasuki kamar kakaknya, karena itu akan membuat ia kembali sedih.
Setelah membersihkan kamar, pandangan Arini tertuju ke meja belajar sang kakak. Zenwa kembali teringat dengan Arini, ia sering sekali melihat kakaknya duduk di sana, ia menulis atau membaca buku.
Zenwa mendekati meja itu, dan tatapannya tertuju pada sebuah buku catatan berwarna biru dan di luarnya tertulis nama lengkap Arini, Zenwa membukanya dan membaca buku itu dengan sorot mata penuh rindu. Hingga di satu lembaran, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut dan seketika ia meneteskan air matanya.
"Kakak..."
__ADS_1
Tbc...