Makmum Pilihan Micheal Emerson

Makmum Pilihan Micheal Emerson
Episode 44


__ADS_3

"Dia siapa?" Tanyanya.


"Arsyad Ibrahim..."


"Huh?"


Micheal mengikuti kemana arah pandang Zenwa, tatapannya menangkap sosok pria yang masih muda, tampan, yang saat ini sedang berbicara dengan salah satu pelayan disana.


"Astagfirullah, Zenwa. Apa kamu lupa dengan perintah Allah?" Tanya Micheal tiba-tiba yang tentu saja membuat Zenwa tercengang.


"Perintah yang mana?" Tanya Zenwa dengan polosnya.


"Perintah Allah dalam surah An-nur ayat 30-31? Perintah pada wanita agar menjaga pandangannya?" Zenwa tentu hanya bisa menganga mendengar celotehan Micheal, bukannya ia tidak tahu apa yang tertera dalam ayat yang di ucapkan Micheal, namun ia tak mengerti kenapa suaminya ini tiba-tiba membawa ayat Al Qur'an.


"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Zenwa yang masih bingung.


"Tentu saja, memandangi pria yang bukan mahram kamu, itu bisa jadi dosa lho!" Seru Micheal yang membuat Zenwa melongo.


"Kapan aku melakukannya?" Zenwa kembali bertanya yang membuat Micheal menggeram kesal.


"Tadi, kamu memperhatikan pria itu...!" Micheal menunjuk pria yang di maksud dan seketika Zenwa mengangguk mengerti.


"Sebenarnya aku tidak memperhatikannya, aku hanya kaget melihat dia disini," ujar Zenwa. "Apa kita bisa menemuinya dan berkenalan? Siapa tahu aku bisa langsung mengajar di Tk-nya." lanjutnya yang membuat Micheal langsung menganga.


"Apa kamu mengajak suamimu berkenalan dengan pria lain?" Tanyanya dengan sorot emosi di matanya, yang membuat Zenwa langsung merasa salah tingkah.


"Maaf, bukan itu maksudku," cicit Zenwa, keduanya bahkan lupa sejak tadi ada pelayan yang menunggu mereka dan menyaksikan perdebatan sepasang suami istri ini, yang membuat pelayan itu hanya bisa menahan senyum geli.


"Baiklah, nanti aku urus," ucap Micheal kemudian yang tentu saja membuat mata Zenwa langsung berbinar senang, karena sejak dulu, ia memang ingin menjadi guru anak-anak.


"Terimakasih," ucap Zenwa senang.


"Hem," jawab Micheal malas.


"Jadi, bagaimana? Mau pesan apa saja, Pak? Bu?"


.........


Makan malam Zenwa dan Micheal berjalan lancar, meskipun keduanya tidak lagi berbicara dan sibuk dengan fikiran masing-masing. Zenwa sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya sedangkan Micheal sibuk memikirkan bagaimana caranya ia berkenalan dengan Arsyad Ibrahim. Bahkan, tak jarang Micheal mencuri pandang pada pria yang menurutnya mungkin masih seumuran dengannya.


Setelah selesai makan, Zenwa pamit ke toilet sebentar dan Micheal hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Saat Zenwa pergi, saat itulah ia langsung menemui Arsyad yang saat ini juga sedang makan sendirian.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Micheal dan Asryad pun mendongak serta menjawab salamnya.


"Waalaikum salam," jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Perkenalkan, aku Micheal..." Micheal mengulurkan tangannya dan Asryad pun langsung berdiri kemudian menerima uluran tangan Micheal.


"Iya, Pak Micheal. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. "Oh ya, silahkan duduk!" Micheal pun langsung duduk begitu juga dengan Arsyad.


"Jadi begini, aku tahu namamu dan sekolah TK-mu," ujar Micheal tanpa basa-basi, Arsyad hanya menaikkan sebelah alisnya menanggapi ucapan Micheal. "Dan istriku, dia ingin sekali mengajar disana. Katanya dia sudah melihat sekolah mu lewat website sejak beberapa hari yang lalu."


"Benarkah?" Tanya Arsyad antusias dan entah kenapa Micheal justru tidak suka melihat keantusiasannya.


"Iya, aku berjanji padanya akan membantunya, apa kau membutuhkan guru saat ini?" Tanya Micheal kemudian.


"Sebenarnya tidak," jawab Asryad. "Tapi jika nanti kami membutuhkan guru, aku akan langsung menghubungimu. Apa kau punya kartu nama?" Tanyanya dan Micheal langsung memberikan kartu namanya. Saat Arsyad membaca nama belakang Micheal, keningnya berkerut, kemudian ia menatap Micheal dan bertanya. "Apa kau putra Gabriel Emerson?" Tanyanya dengan suara yang di rendahkan, Micheal hanya menganggukan kepalanya dan raut wajah Asryad langsung tampak berubah, sorot matanya pun tak lagi memperlihatkan keramahaannya seperti tadi.


"Ada apa? Apa kau mengenal ayahku?" Tanya Micheal yang menyadari perubahan raut wajah Asryad.


"Tentu saja, beberapa tahun yang lalu, kasusnya menyita perhatian banyak pihak," jawab Arsyad.


"Kasus yang mana?" Tanya Micheal dengan dingin


"Itu bukan pembunuhan, hanya bela diri!" Tegasnya kemudian ia langsung beranjak dari duduknya dan Micheal mengambil kembali kartu namanya, membuat Asryad terkejut. Arsyad sudah membuka mulutnya untuk berbicara namun Micheal meninggalkannya dengan kesal.


Bersamaan dengan itu, Zenwa sudah kembali dan Micheal langsung mengajaknya pulang.


"Ada apa?" Micheal Zenwa yang melihat raut wajah suaminya tampak tegang. Micheal enggan menjawabnya, dan Zenwa pun tak lagi berani bertanya.


Tbc...


Iklan...


Hai, Readers tercinta Sky. Bagaimana kisah Mikail dan Zenwa sejauh ini?


Sambil menunggu mereka bucin, yuk, mampir sini dulu.


Judul : Married By Accident


Penulis :Ririn Puspita Sari


Bab 9

__ADS_1


"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.


Devan mengangguk.


"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.


"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.


Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.


"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.


"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.


Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.


"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.


"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.


"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.


"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.


Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"


"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.


"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.


"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."


"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.


"Kalau begitu menikah saja denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Bella.


"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.


__ADS_1


__ADS_2