
"Jaga Zenwa baik-baik ya, Mikail!" Untuk yang kesekian kalinya, Mommy Firda menegaskan hal itu pada Micheal yang membuat Micheal mendengus.
"Astagfirullah, Ummi. Ummi bicara seperti itu terus seolah aku bukan suami yang amanah, aku pasti menjaga Zenwa, tenang saja." ujarnya dengan yakin.
"Amanah dari mana? Baru seminggu jadi suami, istri sudah di bawa susah," sambung ayahnya yang membuat Micheal mendengus.
Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan ke bandara, dan Micheal sempat menggerutu karena ia harus naik pesawat biasa karena jet pribadi ayahnya sedang di gunakan untuk urusan pekerjaan yang sangat penting oleh Om Billy katanya.
Sementara Zenwa, sejak tadi ia hanya diam mendengarkan keluarga suaminya yang tampak unik itu, bahkan sesekali Zenwa tertawa geli saat Micheal kena omelan Mommynya.
"Zenwa, kalau Miheal berlaku tidak adil sama kamu, kamu langsung lapor sama kami ya, Nak," ucap Mommy Firda dan Zenwa hanya bisa mengangguk sambil tersenyum sungkan.
"Ya Allah, aku sekolah tinggi tinggi, masak tidak bisa adil, Ummi. In Shaa Allah, aku bisa adil," ujar Micheal.
"Teori adil memang bisa kamu pelajari di sekolah, tapi apakah kamu benar-benar bisa adil atau tidak, itu tergantung kamu sendiri!" Tegas Umminya yang membuat Micheal hanya bisa bungkam, sementara Zenwa hanya bisa menyunggingkan senyum samar. "Dan ingat juga, perlakukan Zenwa dengan sangat baik, karena demi mengikutimu dan berbakti padamu, dia rela meninggalkan keluarganya yang selama ini merawatnya dan selalu memberikan kebahagiaan untuknya." lanjutnya yang yang membuat Zenwa tersentuh, apalagi ia sempat mendengar ada beberapa orang yang berkata kalau ibu mertua itu menyebalkan, tapi sepertinya Zenwa mendapatkan ibu mertua yang menyenangkan.
"Dan satu hal lagi..." sambung Daddy Gabriel kemdian sembari melirik Zenwa dari kaca, "Hati-hati dengan nama belakang Daddy, Zenwa." lanjutnya yang membuat Zenwa langsung mengernyit bingung.
"Maksudnya?" Tanya Zenwa.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu siapa Daddy dulu, Zenwa," jawab Micheal.
"Tentu saja aku tahu, semua orang desa juga tahu kalau dulu Daddy Don mafia , tapi sekarang Daddy sudah bertaubat dan tidak melakukan kejahatan lagi," tukas Zenwa yang membuat Daddy Gabriel tersenyum masam.
"Masa lalu memang ada di belakang, Zenwa. Tapi tidak menutup kemungkinan itu tidak akan mempengaruhi masa depan. Karena tidak semua musuhku seperti Gio yang mau berdamai denganku, pasti masih ada orang-orang yang memiliki dendam terpendam padaku dan bisa jadi keluargaku yang mereka incar." Zenwa merinding mendengar ucapan ayah mertuanya itu dan ia baru teringat bahwa mertuanya adalah seorang Don mafia karena selama ini mertuanya itu benar-benar menjadi sosok yang penuh teladan.
"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Micheal yang melihat raut wajah Zenwa berubah seketika.
"Em, tidak. Aku hanya baru menyadarinya," jawab Zenwa lirih.
"Jangan khawatir, selama kita tidak menganggu orang, In Shaa Allah orang tidak akan menganggu kita." Micheal berkata dengan tegas, seolah meyakinkan dan menenangkan Zenwa.
"Iya, Dad," jawab Micheal.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di bandara, Micheal segera turun dan ia menurunkan koper Zenwa yang cukup besar.
Sebelum berpisah, orang tua Micheal lagi-lagi memberi berbagai wejangan dan Micheal hanya menanggapinya dengan malas, berbeda halnya dengan Zenwa yang mendengarkan dengan seksama.
.........
__ADS_1
Di pesawat, Zenwa terus menatap keluar jendela sembari membayangkan keluarga yang ia tinggalkan demi mengikuti dan berbakti pada suaminya. Ada perasaan sedih yang masih menyelimuti hati Zenwa, apalagi baru beberapa hari yang lalu mereka kehilangan sosok yang selama ini menyempurnakan hidup mereka.
"Ada apa?" Tanya Micheal yang melihat Zenwa melamun.
"Beberapa hari yang lalu Kak Arin meninggalkan kami, dan sekarang aku pun meninggalkan ummi dan abi," lirih Zenwa sedih.
"Siapa bilang kamu meninggalkan mereka? Kamu hanya ikut suamimu dan kamu masih bisa pulang kapanpun kamu mau, meraka juga bisa mengunjungimu." Zenwa tersenyum mendengar apa yang di katakan Micheal.
"Terima kasih," ucap Zenwa kemudian yang membuat Micheal mengernyit.
"Untuk?" Tanya Micheal.
"Kamu sudah menjadi menantu yang perduli."
"Tentu saja, saat aku menikahimu, mereka juga menjadi orang tuaku," tukas Micheal. "Oh ya, apa kamu mau bekerja nanti? Kamu bisa bekerja di kantor Daddy nanti."
"Aku tidak ingin bekerja kantoran, aku ingin jadi guru saja, jika kamu mengizinkan."
Tbc...
__ADS_1