
Tanpa terasa, Micheal berhasil menarik turun celaan panjang Zenwa dan hanya menyisakan kain segitiga mungil berwarna putih yang membungkus mahkota sang istri.
Setelah itu, dengan sangat tidak sabar ia melepaskan pakaiannya sendiri. Zenwa yang melihat antusiasme Micheal menjadi semakin gugup, apalagi saat ia menatap mata sang suami, seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya.
Micheal hanya menyisakan kain segitiganya yang masih membungkus gundukan di antara pangkal pahanya itu.
Tanpa sengaja Zenwa meliriknya dan ia meringis melihat benda pusaka suaminya yang masih terbungkus namun sudah sangat menonjol itu.
Micheal bisa melihat kegugupan dan kecemasan di mata Zenwa, Micheal melempar senyum untuk menenangkan istrinya. Ia pun kembali menindih tubuh istrinya itu dan mengecup sudut bibirnya dengan lembut.
"Kamu takut?" Tanya Micheal dengan suaranya yang semakin berat, Zenwa mengangguk jujur. "Jangan takut, aku akan hati-hati," bujuknya, Zenwa hanya tersenyum kaku dan kembali menganggu.
Kini Micheal kembali mencumbu Zenwa dengan bibirnya, Micheal mengecup bahkan menggigit daun telinga Zenwa yang menimbulkan sensasi seperti sengatan listrik di seluruh tubuh Zenwa, darahnya pun berdesir panas.
Kedua tangan Micheal pun bekerja dengan baik dalam memanjakan sang istri, menyelinap masuk ke dalam kain segitiga itu, mencari mahkota yang tersembunyi disana.
"Aggghh..." Zenwa mendesis dan seketika ia mengatupkan kedua pahanya saat merasakan jari Micheal menyentuh pusat dirinya yang tak pernah tersentuh oleh orang lain itu. Raut wajah Zenwa meringis dengan tatapan yang sayu, terlihat sangat cantik di mata Micheal.
__ADS_1
Jantung Micheal semakin berdetak cepat, pusat dirinya kembali menggeliat seolah meminta di lepaskan dari sarungnya, apalagi saat ia merasakan kehangatan pusat tubuh sang istri yang kini menyelimuti jarinya.
"Jangan di tutup, Sayang...." bisik Micheal sensual.
"Tapi ... rasanya ... aneh," cicit Zenwa malu-malu.
"Tapi kamu suka, kan?" Tanya Micheal dengan tatapan yang menggoda, Zenwa tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa tersipu.
membuat Zenwa mengerang tanpa henti.
Seluruh tubuhnya terasa panas dan ia kini bermandikan keringat, mulutnya terus terbuka, napasnya memberat
Erangan Zenwa, raut wajah Zenwa dan pergerakan tubuh Zenwa sungguh membuat Micheal merasa puas dan senang.
"Yeah, Sayang. Panggil namaku," desis Micheal yang kini semakin dan semakin mempercepat pergerakan jarinya hingga akhirnya Zenwa menjerit dengan seluruh otot yang menegang dan pinggul yang terangkat.
Zenwa terkulai lemes dengan napas yang putus-putus, tubuhnya mengkilat karena keringat, rambutnya berantakan dan membingkai wajah cantiknya
__ADS_1
Micheal menatap wajah Zenwa dan senyum puas yang tercetak di bibirnya karena ia telah berhasil membuat sang istri tak berdaya.
Micheal melepas kain terkahir yang menutup tubuhnya, kini full naked sama seperti sang istri yang masih mengatur napas.
Micheal kembali menindih tubuh Zenwa, ia merapikan rambut sang istri dengan lembut, keduanya beradu tatapan yang begitu sarat akan gairah.
Zenwa tersenyum malu-malu, apa yang telah di berikan Micheal malam ini sungguh membuatnya melayang dan gila dan Zenwa suka itu.
"Apa kamu sudah lelah?" Tanya Micheal. "Itu baru salam pembuka, Sayang. Saatnya menu utama...."
Tbc...
*Tbc lagi?????
Sabar, ya...
Sabar. Gift dulu ... Gift dulu!
__ADS_1
Jangan cubit othor yang baik hati ini.
See you di part selanjutnya. 😘*