
"Aku butuh bantuanmu, Zachary. Aku tidak bisa menunggu polisi, aku menginginkan mereka sekarang juga!" Micheal menggeram tertahan saat Zack menjawab panggilannya.
"Micheal, aku rasa kamu tidak seharusnya mengulang kesalahan yang sama. Semua orang sedang bekerja, mencari pelakunya, kamu tunggu saja, ya? Daddy juga bantuin kok," jawab Zach dari seberang telfon yang membuat Micheal kembali menggeram kesal.
"Aku tidak akan main hakim sendiri, Zach. Aku hanya tidak bisa cuma duduk menunggu begini," kata Micheal penuh penekanan. Terdengar helaan napas berat Zach dari seberang telfon.
"Aku mohon, Zach. Cuma kamu yang bisa membantuku." lirih Micheal dan kembali terdengar hela napas Zach yang berat.
"Kita pernah hampir masuk penjara karena kamu yang tidak sabar menunggu kinerja polisi, Micheal. Kamu mau kejadian itu terulang?"
"Bahkan jika aku harus masuk ke dunia kematian demi orang-orang tercintaku, aku tidak keberatan sama sekali."
.........
"Dimana Micheal?" Daddy Gabriel bertanya pada istrinya itu, yang saat ini masih menemani besan mereka menunggu Zenwa.
"Katanya mau ke toilet tadi," jawab Mommy Firda.
"Ingatkan dia agar tidak main hakim sendiri, suruh dia sabar, polisi sedang mencari tahu pelakunya," kata Gabriel yang seolah sangat mengkhawatirkan tindakan putranya.
"Kami sudah berkali-kali mengingatkan dia, Gab. Semoga saja Micheal mau menunggu," sambung Mommy Angeline. "Oh ya, apa masih belum ada kemajuan?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Kami sudah mengacak-ngacak tempat itu, Angel. Kami juga sudah menemukan sarung tangan yang terkena noda darah dan itu memang darah Zenwa, tapi itu tidak bisa menjadi petunjuk karena tidak ada sidik jari pelaku disana. Semua cctv di sekitar tempat itu sudah kami periksa,tapi belum ada kemajuan. "
"Ini sudah dua hari, Gab," geram Mommy Angeline yang juga sudah tidak sabar menemukan pelakunya.
"Aku tahu, aku pun tidak sabar ingin tahu siapa musuhku yang menyerang menantuku. Tapi kita harus sabar, gegabah hanya akan menambah masalah," tuturnya dengan bijak.
"Kalau polisi tidak bisa bekerja, biar aku yang bekerja." Gabriel menoleh saat mendengar suara putra sulungnya itu, Gabriel menghela napas berat, dalam dua hari ini, sudah puluhan kali Micheal mengucapkan hal seperti itu.
"Kami akan...." ucapan Daddy Gabriel terhenti saat ponselnya berdering. Ia pun dengan cepat menjawabnya panggilan itu.
"Assalamualaikum...."
"Apa?" Pekiknya tiba-tiba yang membuat semua orang terkejut dan langsung menatapnya dengan bingung.
"Ada, Dad? Apa dari polisi?" Tanya Micheal tak sabar.
Sementara wajah daddy Gabriel langsung pucat, kakinya terasa lemas, napasnya tertahan di tenggorokannya.
"Bang Gabriel, ada apa?" tanya Mommy Firda cemas, ia bisa merasakan ada kabar buruk yang di dapat suaminya itu melihat dari raut wajahnya.
"Nenek...." lirih Gabriel.
__ADS_1
"Oma? Oma kenapa?" Tanya Micheal dengan kening yang berkerut dengan tatapan yang menajam.
"Nenek kenapa, Bang Gabriel?" Tanya Firda yang semakin cemas, apalagi setelah mendengar nama Nenek yang memang sudah sakit.
"Kondisinya drop. Dia ... dia di larikan ke rumah sakit sekarang." Daddy Gabriel berkata dengan terbata-bata.
Mommy Firda yang mendengar itu pun langsung lemas, dadanya terasa sesak, begitu juga dengan Micheal. Kini, terbayang kembali bagaimana dia kehilangan Opanya dulu, dan saat itu Micheal tidak ada di sampingnya.
"Drop bagaimana, Dad? Katanya cuma demam?" tanya Micheal dengan suara lantang dan bergetar.
"Daddy tidak tahu Micheal, tapi Ummi meminta agar Mommy pulang dulu sebentar," lirih Gabriel.
Ummi Zainab dan yang lainnya pun tak kalah terkejutnya mendengar kabar itu, mereka seperti terus di rundung kabar buruk yang membuka mereka merasa tak mampu lagi memikulnya.
"Oh Tuhan, apalagi ini?" Micheal mengusap wajahnya dengan frustasi.
Tbc...
Konfliknya ringan kok, sabar ya...
Sesabar othor yang baik hati ini menunggu like, comment, gift dan vote para pembaca tercinta. 😘
__ADS_1